Langsung ke konten utama

Surat Terbuka Untuk Politisi Banten



Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa calon pemimpin yang layak. Ketimbang adu jargon, tebar spanduk dan adu kuat polling, lebih baik tunjukkan keberpihakan kalian pada rakyat dengan membantu upaya mereka menghalau para pemodal yang ingin mengeksploitasi tanah Banten tanpa prinsip keadilan. Usah saling tuding soal siapa berwenang. Sebab para kandidat yang hendak bertarung di Pilkada Banten nanti, punya kuasa di eksekutif, legislatif maupun di tengah kultur kejawaraan yang masih kental di Banten.

Petani Pandeglang menggugat PT Mayora Tbk yang dinilai telah sebabkan kekeringan di Cadasari, Pandeglang, Banten. (bantenfoto.com)

Menyimak ceramah mukaddimah dalam klip ini, teringat perjuangan sahabat di Rembang, Karawang dan Pandeglang. Korporasi yang membawa setumpuk janji kesejahteraan, yang kemudian malah (terkesan) melahirkan keringat darah buruh, mengeringkan lahan petani.
Perlu analisis mendalam terkait manfaat dan mafsadat dari kehadiran para pemodal yang (kadang) tak beradab dan regulasi ekonomi lokal, nasional maupun internasional, yang semakin terlihat biadab.
Di Rembang, para petani dinilai jumud karena menolak kehadiran pabrik semen, yang notabene adalah milik negara. Di Karawang, para petani berhadapan dengan aparat yang membekingi PT. Agung Podomoro Group dan (mantan) Bupati setempat yang kini masuk penjara.
Di Pandeglang, warga dan santri, kembali harus berjuang melawan Pemda dan perusahaan terbuka Mayora, setelah sebelumnya berdarah-darah menolak kehadiran perusahaan multinasional Danone. Di Brantas, ribuan warga harus rela menjadi korban perusahaan milik politisi sakti di negeri ini. Di Papua, Lampung dan Kalimantan, konflik agraria dipicu oleh kerakusan perusahaan asing.
Rakyat menanti keberpihakan para aktivis '98, dan partai-partai istana yang selama ini kerap berteriak, menampilkan diri sebagai pembela rakyat. Para penguasa lokal produk Pilkada serentak juga mestinya punya itikad baik untuk berbenah bersama. Revisi UU Agraria, UU Pengelolaan SDA, UU Perekonomian Nasional dan puluhan RUU terkait lain yang sedang masuk dalam Prolegnas, haruslah selaras dengan semangat kerakyatan yang dikampanyekan.
Terkhusus untuk para politisi Banten, yang sedang bersiap,menghadapi Pilkada 2017 nanti, sudahi dulu lah debat kusir tentang siapa calon pemimpin yang layak. Rano Karno dan pendukungnya, Andika Hazrumi dan loyalisnya, Wahidin Halim dan pengusungnya, Taufik Nuriman dan sponsornya, Dimyati Natakusuma dan pengikutnya, atau sesiapa yang tengah mempersiapkan diri untuk (kembali) berkuasa di Banten, mestinya memanfaatkan momentum ini.
Ketimbang adu jargon, tebar spanduk dan adu kuat polling, lebih baik tunjukkan keberpihakan kalian pada rakyat dengan membantu upaya mereka menghalau para pemodal yang ingin mengeksploitasi tanah Banten tanpa prinsip keadilan. Usah saling tuding soal siapa berwenang. Sebab para kandidat yang hendak bertarung di Pilkada Banten nanti, punya kuasa di eksekutif, legislatif maupun di tengah kultur kejawaraan yang masih kental di Banten.
Lirik lagu Ilalang Zaman berikut ini mungkin bisa jadi pengetuk Nurani kalian.
ILALANG ZAMAN
Judul : "Jangan Diam Papua" 
Ciptaan : Yab Sarpote (Ilalang Zaman)

Mace, hari ini
penindasan rantai kaki tangan kami
pace hari ini,
kerakusan perkosa bumi kami

Rendah sudah kini
harga diri
sabar tak berarti lagi

Reff:
Oh Papua
Sungaiku diubah darah
tanahku dibakar api
air mata tak lagi menggugah nurani
Oooh... Bangkit lah

Oh Papua
Darahku tak harus merah,
Tulangku tak mesti putih,
Jangan tanya arti kemerdekaan diri
Oooh... Lawan lah

Jangan diam, dia hancurkan
Jangan diam, dia hancurkan Papuaku

Kaka, esok hari
kuingin senyum tawa datang lagi
kaka, esok hari bintang kejora sambut mentari pagi ini

Rendah sudah kini harga diri
diam sama saja mati...



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Swinger

Tak ada maksud ku tuk duakan engkau Ku tak pernah berniat selingkuh Cinta ini murni Hanya untuk mu
Tentang godaan itu, Hanya sebuah godaan ! Yang tak tepat untuk di gugat Aku hanya menggoda tanpa mencinta
Cinta sejatiku hanya untukmu Walau banyak kumelirik bidadari Pandangan pertama bukanlah dosa Walau kadang mengundang hasrat
Jangan berpaling dari Sang Amor Kalau kau dambakan abadinya cinta Jangan turuti hawa cemburu Hanya karena pandangan keliru
Kemesraan itu hanya sesaat Sekedar petualangan hasrat Kalaupun ku tidur dengannya Tak berarti ku mencintainya
Maka percayalah, cinta kita kan abadi Karena kemesraan tak selalu bermakna cinta Kasih kita kan selalu bersanding Meski tanpa komitmen setia
Kau pun boleh mencoba asal saling suka Rasakan sensasi yang tak terkira Jangan ragu tuk tebar birahi Hanya karena takut berdosa

tag