Langsung ke konten utama

Rhoma Irama dalam Gubuk Politik

http://mojok.co/2015/04/bang-haji-rhoma-irama-dalam-gubuk-politik/
Di luar hiruk-pikuk komentar tentang foto Ibu Megawati dan Cucu Bung Karno yang kini jadi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusiayang nyempil di tengah para kepala negara dalam napak tilas Konferensi Asia Afrika di Bandung pekan lalu, sebenarnya ada kabar kurang asik buat para pecinta musik asli Indonesia. Raja Dangdut—yang sukses membawa dawai-dawai asmara berkelana hingga dibuatkan museum khusus di Washington DC—dijadikan obyek euforia politik untuk kesekian kalinya.
Mungkin kalau darah muda sang Ksatria Bergitar itu masih bergolak, dia bakal begadang ke Binaria memainkan melodi cinta sambil teriak “Sungguh ter-la-lu!” lantaran di-PHP untuk kesekian kalinya oleh para politis negeri ini. Iya, beliau pernah gigit jari karena gagal menggapai mataharisetelah digadang-gadang Cak Imin jadi Capres Partai Kebangkitan Bangsa. Habis mutung beliau lalu dijanjikan jatah menteri oleh Capres-cawapres Prabowo-Hatta, sampai-sampai bikin lagu khusus buat pasangan gagah itu. Sialnya, (atau malah untung? Siapa tahu?) pasangan calon yang didukungnya akhirnya kalah di ajang pilpres.
Pekan lalu, seolah dianggap “kurang garam” dalam berpolitik, Bang Haji Raden Oma Irama dijualdiusung pula jadi Calon Ketua Umum Partai Bulan Bintang. Sungguh sebuah pengorbanan yang luar biasa dari Bang Haji. Pengabdian si Jaka Swara dengan nada dan dakwah yang telah dilakukannya sejak zaman Orkes Melayu sampai era pelarangan mirasantika seakan dianggap nihil, cuma dijadikan ajang promosi partai belaka. Para bujangan yang suka begadang seperti Gus Mul mungkin mafhum, bahwa wacana pencalonan Mantan Pacar Ani itu hanya lelucon syahdubelaka. Ibarat bermain judi di taman suram tanpa bunga! Abahnya Ridho itu dibuat penasaransetengah mampus terhadap dunia politik pasca reformasi. Sayang, nalar politik Bang Haji tak setua gitar tuanya.
Punggawa utama grup Soneta itu santai saja masuk arena Muktamar IV PBB, diajak main dramaadu domba persaingan dengan pengacara Partai Golkar kubu Aburizal Bakrie; Yusril Ihza Mahendra. Yah, jadi ketua umum partai politik itu memang setara dengan berpacaran denganjanda kembang—artinya, itu merupakan sebuah hak asasi. Tapi mbok ya Bang Haji sadar diri gitu lhoh: politik itu tak cukup hanya dengan perjuangan dan doa, tapi juga butuh kelihaian buat tipu-tipu.
Pengalaman pernah dijanjikan jadi calon presiden, diiming-imingi jadi menteri seharusnya jadi pelajaran penting. Biar gak mirip gali lobang tutup lobang, terperosok melulu di lobang yang sama. Sebab sebagian besar politisi di negara tercinta ini bukanlah pengamal doktrin platonik yang memaknai demokrasi sebagai alat untuk mewujudkan kehendak penyejahteraan rakyat, melainkan penganut ajaran Imam Nicollo Machiavelli yang menganjurkan penghalalan segala cara demi meraih kuasa.
Sebagai simbol kemachoan lelaki nusantara, yang dipuja-puja para bunga desa dengan kemilau cinta di langit jingga, tak selayaknya peraih gelar Profesor Honoris Causa dalam bidang musik dari Northern California Global University dan American University of Hawaii itu harus kehilangan tongkat kharismanya sehingga jadi bahan meme-meme lucu di setiap momen pemilu. Ah, politik memang kejam, Bang Haji. Sudah lagunya diwakafkan buat para pengamen dan penyanyi organ di seluruh pelosok negeri tanpa royalti yang jelas, namanya pun dicatut berkali-kali di ranah politik.
Bahkan menjelang Pemilukada serentak sepanjang 2015 sampai 2017 nanti, nama si empunya terajana itu sudah dijual oleh pengacara Eyang Subur—yang konon mau nyalon gubernur DKI Jakarta. Mungkin Bang Haji perlu kembali merenung dalam nada agar bisa merebut rekor pencipta seribu lagu fenomenal. Percayalah, kami selalu setia menanti melodi cinta Bang Haji  yang tak pernah gagal menghadirkan malam-malam gembira tanpa harus terjebak dalam dosa-dosa yang haram. Saya kuatir, kalau idolanya terus-terusan dieksploitasi, dibohongi, lama-lama para fanboy Bang Haji macam Muhidin M Dahlan dan Mahfud Ikhwan bisa stres seperti ratusan caleg gagal. Stres? Obatnya iman dan taqwa.
*tulisan ini dimuat di mojok.co 28 April 2015 lalu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…