Langsung ke konten utama

Perempuan Bertopeng

Sejak bulan lalu, gue punya temen baru. Kami kenalan ketika makan siang bareng di sebuah kantin yang tak jauh dari tempat kerja gue saat ini. Awalnya cuma basa-basi karena duduk satu meja tanpa sengaja. Lama-kelamaan, kami sering makan siang bareng, atau terkadang pulang bersama dengan KRL atau busway. Sebut saja namanya, Tari. Tulisan ini mulanya mau dibuat semacam cerpen fiksi, tapi malah jadi kaya artikel.
Tulisan sudah dapat izin dari si empunya cerita. Tentu dengan syarat identitas yang disamarkan. Tapi anggap saja cerita ini fiktif belaka. 
Tri bekerja sebagai konsultan teknik di sebuah perusahaan elektronik. Keahliannya dalam menganalisis kerusakan mesin, terbilang sebagai keahlian yang mahal. Kemampuan berbahasa asingnya juga membuat Tari dibayar mahal dalam setiap project yang digarapnya. Belum lagi jaringan alumni kampus yang kini banyak bertengger di berbagai lembaga konsultan ternama, siap membantunya untuk bekerja di sektor apapun.
Kebutuhan finansialnya bisa terpenuhi dengan keahliannya itu. Tapi Tari yang tomboy, punya hasrat lain yang lebih besar. Bukan hanya kekayaan yang ia kejar, tetapi juga kepuasan batiniah, melampiaskan dendam pada mantan pacar, yang menelantarkan cintanya.
“Gue ditinggalin pacar, karena disangka selingkuh. Padahal, dia yang kemudian milih berpacaran dengan selingkuhannya,” kata Tari suatu siang.
Mengingat perselingkuhan sang pacar selalu membuatnya sakit hati. Karena itu, ia bertekad membalas perselingkuhan itu, dengan memacari lelaki yang dituduh berselingkuh dengannya. “Pria ini kupilih buat melampiaskan dendam sama mantan Gue. Dia memang selalu ngejar-ngejar Gue sejak pertama jumpa di kampus. Awalnya Gue jijik, tapi lama-lama Gue nyaman,” curhatnya lagi.
Disamping pandai membuat nyaman, sang pria, menurut Tari juga memberi kebebasan penuh untuk berhubungan dengan siapapun. Dengan lelaki mana pun. Kesibukan kantor, membuatnya jarang berjumpa dengan sang lelaki yang kini menjadi kekasih itu.
“Gue mau berhenti kerja. Mau sekolah lagi sambil bikin usaha bareng si Om,” kata Tari dalam perjumpaan kami berikutnya.
Kini Tari tinggal bersama kekasih barunya, di sebuah kos-kosan yang tak jauh dari kampus tempat mereka kuliah dulu. Sementara sang pria, yang kini kerap disebutnya sebagai suami, meski mereka tak pernah menikah secara resmi, juga tak lagi bekerja sebagai supir pribadi seorang politisi. “Hidup begini lebih nyaman,” imbuhnya.
Sampai beberapa bulan kemudian, kebutuhan hidup yang semakin tinggi rupanya kurang tercukupi dari usaha kuliner mereka. Terlebih, hobi Tari buat nongkrong di cafe ternama, belanja dan sesekali menikmati dunia gemerlap (dugem) malam, juga butuh biaya yang tak sedikit. Selama ini Tari mengandalkan traktiran kawan-kawannya. “Lama-lama Gue malu juga. Mau balik kerja di kantoran udah males, untung Gue punya kenalan bos-bos yang goblok, dan mau membayar perempuan buat sekedar nongkrong, atau bermalam di hotel. Laki Gue juga easy going aja,” tuturnya.
Meski terkesan badung, Tari yang tomboy ini punya bacaan filsafat dan pengetahuan agama yang lumayan. Sesekali ia menyitir syair Rumi, ibnu arabi atau pernyataan Derrida, Nietzche dan Plato. Ia juga ikut sejumlah kursus Yoga, Tantra, sufisme dan tarikat. “Bacaan-bacaan kaya gini, bikin kita semakin mahal,”  cetusnya.
Lantas mengapa Tari terjun di dunia prostitusi, menurut pengakuan perempuan yang sehari-harinya berjilbab ini, bukan melulu soal materi yang ia kejar. Tetapi juga sebuah seni membalas dendam pada masa lalu yang kelam. “Gak banyak yang tau profesi sampingan ini. Tetangga dan teman-teman, nyangkanya gue ini ya religius. Di sini gue menemukan keasikan tersendiri, bagaimana mengelabui orang-orang dekat menjaga citra diri sambil tetap menikmati kehidupan lain yang mengasikkan,” tandasnya.
Saat ditanya tentang dosa dan kemungkinan terbukanya profesi sampingan itu. Tari hanya tertawa. “Pada dasarnya semua orang menjual diri, kok. Buruh menjual diri pada majikannya. Politisi menjual diri pada kekuasaan. Gue juga punya banyak alibi buat nutupin profesi ini. Pernah ketemu temen di suatu hotel, Gue bilang lagi ketemu klien yang konsultasi soal elektro. Beres perkara.”
Meski begitu, Tari juga tak berhenti mengejar mimpinya buat bisa kuliah dan kerja di luar negeri. Kini, bersama sang kekasih yang berjualan gorengan, ia sibuk kursus sejumlah bahasa asing. “Target gue, kalo gak ke Inggris, ya ke Prancis. Di sana peradabannya lebih terbuka. Gak munafik macam di sini.”
Tari juga rajin berolahraga untuk menjaga kemolekan tubuhnya. Selain ikut fitness, ia juga ikut taekwondo buat menjaga diri dari kemungkinan yang menakutkan. “Laki gue juga sakti, buktinya dia bisa meluluhkan hati gue, dengan lelaku tirakat ala jawa. Gue baru tau setelah lama tinggal bareng dia. Mau gue tinggalin juga udah kadung merasa nyaman. Selain jago di ranjang, dia juga gak bawel saat gue ketemu klien,” imbuhnya.
Ditanya tentang tarif kencan, Tari pun terbahak. “Yang jelas, lu mesti ngumpulin gaji enam bulan, buat kencan semalam sama gue.”


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Swinger

Tak ada maksud ku tuk duakan engkau Ku tak pernah berniat selingkuh Cinta ini murni Hanya untuk mu
Tentang godaan itu, Hanya sebuah godaan ! Yang tak tepat untuk di gugat Aku hanya menggoda tanpa mencinta
Cinta sejatiku hanya untukmu Walau banyak kumelirik bidadari Pandangan pertama bukanlah dosa Walau kadang mengundang hasrat
Jangan berpaling dari Sang Amor Kalau kau dambakan abadinya cinta Jangan turuti hawa cemburu Hanya karena pandangan keliru
Kemesraan itu hanya sesaat Sekedar petualangan hasrat Kalaupun ku tidur dengannya Tak berarti ku mencintainya
Maka percayalah, cinta kita kan abadi Karena kemesraan tak selalu bermakna cinta Kasih kita kan selalu bersanding Meski tanpa komitmen setia
Kau pun boleh mencoba asal saling suka Rasakan sensasi yang tak terkira Jangan ragu tuk tebar birahi Hanya karena takut berdosa

tag