Langsung ke konten utama

Hambar

“Belakangan ini hari-hariku terasa kurang produktif” cetusku saat berjumpa sobat yang menjadi sekretarisku di sebuah lembaga. Lembaga yang namanya terkesan hebring, namun baru sekali menghelat kegiatan penggugur kewajiban. “Setiap jumpa, kau selalu berkata begitu. Seolah merasa hidupmu tiada berguna,” tukasnya.  

Dia benar. Rasa berguna, kepuasan hidup, telah lama hilang dari keseharianku. Rutinitasku satu semester terakhir hanya menyambung hidup dan sesekali memuaskan hasrat sesaat buat nonton, makan-makan atau jalan-jalan bareng kawan. Sesekali memang ada kegiatan sosial, memprovokasi santri dan mahasiswa agar rajin menulis.

Tapi berbeda dengan tahun-tahun yang lampau, tahun ini aku serasa bermasturbasi. Sebab apa yang digemborkan tak pernah benar-benar kulakukan lagi. Semester ini, orientasi menulisku hanya buat nambal isi dompet. Walaupun, nyatanya belum semua hakku terbayar. Artinya, dompetku sampe sekarang masih belum terisi betulan. Maka makin hambarlah hari-hariku belakangan ini.

Sepekan lalu, ada job baru, selain jadi penulis hantu dan kelola web. Keprihatinan atas minimnya tayangan-tayangan mendidik, memaksaku buat belajar bikin skenario film. Meski belum jelas imbasnya buat penghidupan pribadi, tapi setidaknya ada hal lain yang membikin puas. Kewajiban sosialku sedikit tergugurkan dengan turut ambil peranan dalam proyek baru ini.

Gak penting banget ya, catatan ini. Padahal saat mandi tadi, terbersit niat buat nulis sejumlah tema yang agak populer, dari soal korupsi, taubat, LGBTI, sampai soal Pilkada, Barca, Cinta dan Kalijodo. 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…