Langsung ke konten utama

Patah Hati dan Curanrek

Seorang kawan mengaku tak enak makan, gak bisa tidur, karena dengar kabar kekasihnya akan menikah dengan sosok pilihan kakaknya. 
"Kupikir itu bagus. Kau bisa diet, ditambah sedikit yoga dan latihan fitnes mungkin perutmu bisa berubah sixpack," kataku.
"Kau malah becanda. Hati ini sakit bro! Apalagi saat dia nelpon dan mengundangku," sahutnya penuh emosi.
" Ah, usah terlampau melodramatik. Terkadang tangisan hati bermanfaat buat melatih fleksibilitas rasa agar hidupmu tak mudah patah arang,"  ujarku meniru motivator Mario Teguh​ .
"Kampret! Mungkin kau belum pernah rasakan sakitnya dikhianati. Pake ceramah, sok bijak banget!" Ia mulai menggerutu, kali ini sambil mengambil gelas kopi dan korek dihadapanku. Membakar kretek, lalu mengantongi korek warisan seorang tamu itu tanpa ekspresi berdosa.
"Lah, terus maumu apa? Dan sejak kapan patah hati berimbas pada aksi klepto curanrek?," aku merogoh saku kemejanya, mengembalikan korek ke tempat yang tepat, di atas bungkus rokok. Sebagai klaim balik bahwa itu korek tak bisa dikantongi semaunya.
"He.He. Maaf. Mestinya kau kasih saran yang asik lah. Bukan malah menyepelekan masalah yang bikin sesak ini," dia berapologi. 
Ok, kataku. Secara spiritual, males makanmu bisa dialihkan ke puasa, mumpung masih Rajab. Dan insomnia dadakan itu bisa memantapkan latihan spiritual itu,  bila kau bisa ambil tradisi puasa tanpa tidur untuk merayu Tuhan dan segala mahluk astral agar semesta mendukung setiap langkahmu kelak.  Bisa juga kau tiru pengalaman sohibku, membalik ujung karpet yang diduduki calon mempelai saat akad. Agar si pria tak mampu membaca akad nikah secara sempurna. Di sana kau bisa hadir sebagai pahlawan yang menggantikan posisi mempelai pria, setelah menghafal kalimat akad yang gak sulit itu.
Kawanku ini mulai tercenung dan mengakui keabsahan motivasiku
"Saranmu oke juga bro. Yang terakhir boleh kucoba. Tapi tak mampu aku menggantikan mempelai prianya. Karena aku gak punya mas kawin yang diminta kekasihku. S6 Edge dan BMW 320 D," keluhnya..
Begitulah, cinta, deritanya tiada akhir, kata Cu Pat Kai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…