Langsung ke konten utama

Gus Dur Adalah Kunci !



Oleh : A. Malik Mughni
Belajar dari Gus Dur
ia telah lama tiada,
tapi banyak hal yang bisa kita ambil
dengan membacanya lagi dan lagi.
para bapak bangsa tak pernah benar-benar mati.
. -@matanajwa-
Pernyataan puitis Syarifah Najwa Syihab dalam tayangan Mata Najwa, Rabu (4/3/2015) malam, itu mengingatkan saya pada sejumlah momentum di Tanah Tabi, Papua. Tempat yang nun jauh dari Ibu Kota Negara Republik Indonesia, yang dihantui konflik tak berkesudahan itu, perlahan mengubah citranya. Berkah K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu akan terasa betul jika anda berkunjung ke sana dan berbincang dengan warga setempat, dari lintas elemen. Bahkan yang di daratan kerap berperang, seperti Tentara Pembebasan Nasional Papua -Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM) dan Tentara Nasional Indonesia, maupun rakyat sipil yang berkubu-kubu, sama terharunya saat mengingat nama Gus Dur.
***---***
Kongres Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Februari 2015 berjalan sukses dan mengukuhkan Muhammad Rifa’I Darus, putera Jayapura memimpin organisasi kepemudaan yang melahirkan banyak tokoh nasional tersebut. Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) itu tak hanya sukses menapaki kepemimpinan organisasi kepemudaan, tetapi juga ikut andil mengubah citra Papua sebagai area konflik, yang kurang nyaman dijadikan ajang perhelatan nasional.
Jauh sebelum Kongres itu berlangsung, Desember 2012 lalu, PB PMII juga pernah mengadakan kegiatan akbar yang diikuti tak kurang oleh 500 kader PMII se Nusantara. Agenda besar nasional itu memangkas isu keamanan di Jayapura yang merupakan daerah ‘merah’ karena merupakan salah satu basis OPM. Di sinilah, kebesaran nama K.H Abdurrahman Wahid kembali terbukti, ia menjadi kunci suksesnya perhelatan akbar itu.
Tanpa membawa nama Gus Dur, kegiatan yang dihelat sepekan itu memang menuai banyak tentangan. Selain mengkhawatirkan, karena diikuti oleh ratusan pemuda dari luar Papua, kondisi politik dan keamanan di Jayapura dan sekitarnya, saat itu terbilang genting. Serangkaian konflik bersenjata terjadi sepanjang Januari hingga Juli tahun itu. Para  pendukung Wakil Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB), Mako Tabuni  Mako Tabuni yang tewas ditembak aparat kepolisian dan dimakamkan di Sentani pada Juni tahun itu sedang menanti saaat tepat untuk membalas dendam.
Belum lagi, sisa-sisa konflik Pilkada Jayapura yang dihelat Juli 2012 masih belum reda sepenuhnya. Sementara di Jakarta, wacana evaluasi Otonomi Khusus (Otsus) Papua juga sedang hangat-hangatnya. Kaukus Papua, komunitas anggota DPR RI asal Tanah Tabi itu sempat menolak keras agenda PMII di Papua saat itu. Terlebih, agenda besar itu dihelat di bulan Desember, sebuah masa yang rawan karena bertepatan dengan hari lahir Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang diabadikan sebagai bulan perayaan kemerdekaan Papua.
“Jika saja tak nekat mungkin selamanya nama Papua ditakuti dan dihindari untuk jadi tempat perhelatan tingkat Nasional, termasuk Kongres Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Februari 2015 lalu juga mungkin tak diadakan di sana. Suksesnya Muspimnas saat itu juga berkat wasilah Gus Dur,” kata Sabarudin Rery, Ketua SC Muspimnas PMII 2012.
Pernyataan Rery yang asal Maluku itu, bukanlah bualan. Engel Waly budayawan setempat, mengaku dengan suka rela mengoordinir anak-anak adat binaanya untuk menampilkan  sejumlah tarian adat dalam Festival Budaya dalam salah satu agenda Muspimnas PMII, yang digelar selama sepekan pada medio Desember 2012 lalu.
Menurut Engel, para tokoh adat di Sentani juga turut mengerahkan pasukannya untuk mengamankan kegiatan PMII yang dihelat di Hotel Sentani, Jayapura itu. Sentani menurut Engel dan sejumlah tokoh lain yang saya wawancara merupakan daerah ‘merah’  pusat konflik antara Organisasi Papua Merdeka (OPM) dengan TNI. Tak jauh dari Hotel tua yang tampak tak terawat itu kerap terjadi konflik bersenjata dan tak jarang menimbulkan korban jiwa baik dari TNI, OPM, maupun kalangan sipil biasa.
“Kalian cukup berani mengadakan kegiatan di sini. Kalau saja kalian bukan anak-anak Gus Dur, mungkin kami juga pikir-pikir untuk terlibat,” ujarnya.
Warga  Papua,  kata Engel sangat menghargai peranan K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang telah mengembalikan identitas kepapuaan itu. “Gus Dur memimpin dengan hati. Pluralisme yang diajarkan beliau juga kami pertahankan di sini. Maka ketika PMII  yang merupakan kader Gus Dur membuat kegiatan di sini,  kami menyambut baik kegiatan ini karena kami yakin akan memberi dampak positif bagi masyarakat lokal. Di sini kami merasa bertanggung jawab mengamankan kegiatan ini,” katanya lagi.
Sejatinya, tak hanya pasukan adat yang turut menjaga kegiatan yang diikuti 500 kader PMII se Nusantara itu. Sebab di dalam hotel, kami sering melihat hilir-mudik sejumlah orang berpakaian safari, dengan handy talky tergantung di celananya. Kami mengira mereka adalah intel. Terkadang mereka duduk-duduk berkelompok di sejumlah kursi yang tersedia di pojok-pojok hotel seluas tiga kali lapangan sepak bola itu. Di seberang hotel, terdapat pegunungan Cyclop yang sebagian sedang dieksplorasi. Naik sedikit, ada hutan dan “Pasukan adat itu berjaga di  sana,” kata Wally.
Meski terbilang sebagai daerah konflik, namun selama sepekan kami beracara di Sentani, tak satu pun berjumpa aparat bersenjata. Hanya beberapa orang tegap dan cepak memang kerap nongkrong di warung-warung kecil sekitar hotel. Sederetan bendera dan  spanduk berlogo PMII berjejer di pintu masuk hotel bersama satu baliho bergambar Gus Dur.
Konflik antar warga, kata pemuda asli Sentani itu, kerap terjadi di pinggiran perkotaan Jayapura, atau di  bagian pegunungan. Tetapi menurutnya, konflik lantaran isu keagamaan hampir tak pernah terjadi di Senati, “Mungkin karena muslim di sini banyak pengikut Gus Dur. Kami yang Kristen dan saudara kami yang masih bertahan dengan animisme pun menghargai beliau,” katanya.
Ia menyesalkan banyaknya berita perang adat di sejumlah daerah Papua,
yang imbasnya mendiskreditkan warga Papua secara keseluruhan. “Padahal
itu hanya  terjadi di sebagian daerah Papua.  Konflik itu biasanya terjadi karena isi perut, gejolak terjadi karena berebut SDA. Kenapa SDA kami diambil sementara kami malah diabaikan. Kurang perhatian. Otsus (Otonomi Khusus,red) saja, belum teraplikasikan sepenuhnya,” tandasnya.
Pergantian nama Propinsi Irian dengan  Papua, menurut Engel sangat disyukuri warga adat, karena hal itu merupakan pengembalian identitas mereka.  “Maka tak heran, jika warga Papua tak bisa melupakan Gus Dur,” imbuhnya.
Propinsi Papua terdiri dari 27 Kabupaten/Kota dengan luas 420.540 km².
warga yang terbagi dalam ratusan suku dan bahasa. Dengan dimensi geografisnya yang dikitari pegunungan dan lautan, setiap daerah di Papua sampai saat ini masih sulit dijangkau oleh alat transportasi biasa.
Dari Jayapura, menuju Kabupaten Sorong, atau Manokwari misalnya, tak  bisa ditempuh kecuali dengan pesawat atau kapal laut. Program transmigrasi yang  digulirkan sejak era Orde Baru, ditambah dengan otonomi khusus yang diterapkan tahun 2001 lalu, membuat wajah Papua agak berubah.
Engel menguraikan, masyarakat adat setempat, kini telah berbaur dengan para pendatang. Animisme yang dianut pun perlahan terkikis. Kini banyak masyarakat adat memeluk agama Islam dan Nasrani. Sebagian warga Papua masih mempertahankan tradisi asli mereka. Tak kurang daari 255 suku dengan dialek bahasa masing-masing, terdapat di Tanah Tabi. Mereka tinggal di gunung-gunung, di pedalaman Papua. Meski begitu, menurut Budayawan Sentani, Engel Wally, seluruh warga Papua, mengerti bahasa Indonesia. Di Sentani saja, yang notabene merupakan salah satu Kecamatan di
Kabupaten Jayapura, terdapat puluhan suku yang punya dialek bahasa
beragam.
“Sentani, dibagi sentani timur, tengah dan barat. Masing-masing punya bahasa masing-masing dengan dialek berbeda. Tapi semua warga Papua tahu bahasa Indonesia. Di pedalaman sekali saya tak akan bicara bahasa saya atau bahasa mereka. Tapi kami akan bicara bahasa Indonesia. Sejak tahun 30-an bahasa Indonesia masuk lewat para penduduk pendatang dan penginjil,” kata Engel.
Ia mencontohkan, sapaan Selamat Pagi, di Sentani timur adalah Renevoy. Sementara di Barat, sapaan itu berbunyi Denevoy. Dua kata tersebut, menurut Engel adalah bahasa asli Sentani, yang bukan kata serapan dari bahasa mana pun. Karenanya, bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan di Papua. “Kami banyak mendengar dan mengejanya sendiri. Sekali mendengar, pelan-pelan  akan mengikuti berbicara bahasa Indonesia. Begitu pun bahasa Inggris,” imbuhnya.
Meski saat ini warga Papua terdiri dari beragam suku, bahsa dan agama, Engel berani menjamin bahwa agama, suku dan bahasa yang berbeda itu tak membuat warga di Papua berperang. “Kami saling menghargai agama, suku dan bangsa sesama. Inilah miniature Indonesia. Siapa pemimpin yang mengerti soal itu, selain Gus Dur? ,” kata Engel.

Gus Dur di Mata OPM

Di sela acara, sesekali kami berkeliling kota Sentani ditemani kader PMII setempat. saya dikenalkan dengan salah satu petinggi Organisasi Papua Merdeka (OPM), yang mengaku bernama Syafaruddin Lakairo, tak ada yang mengira jika saat itu kami menumpang Avanza yang disetiri oleh kader OPM, kecuali seorang sahabat bernama Jailani, asal Sulawesi, yang masih bertalian darah dengan Syafar. Perbincangan ringan siang itu berubah serius, ketika saya bertanya perihal penembakan aparat dan warga sipil yang kerap terjadi di Sentani.
Syafar dengan bergelora menjelaskan tentang peta konflik di Papua dan kemudian mengaku diri sebagai bagian dari OPM. “Konflik di Papua terjadi lantaran kesenjangan ekonomi,” tegasnya. Lahirnya OPM, kata Syafar juga lantaran Pemerintah Republik Indonesia dinilai tak adil terhadap masyarakat Papua. Ia berkeyakinan, Jakarta (Pemerintah RI) tak pernah serius mengurus Papua.
Caci-maki Syafar terhadap pemerintah mereda ketika  saya bertanya soal Gus Dur. Menariknya, baik pendukung NKRI, maupun OPM, baik pendatang maupun pribumi, menurut Syafar adalah pengagum K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur). “Gus Dur adalah salah satu tokoh bangsa yang sangat dicintai Rakyat Papua. Bukan karena beliau pemimpin NU. Tapi Gus Dur, menurut kami, benar-benar mengamalkan amalan Islam Rasul. Beliau memimpin negara khususnya dalam memandang Papua, beliau seperti Rasulullah, memimpin madinah,” paparnya.
Meski menjiwai betul prinsip OPM, namun Syafar sangat menghargai ukhuwah, atau persaudaraan Islam. “Kami melihat PMII sebagai anak ideologis Gus Dur yang mengajarkan pluralism dan menghargai Papua. Meski berbeda pandangan soal NKRI, kami tetap menghargai,” ujarnya.
Ia menilai, turunnya Gus Dur dari jabatan Presiden, merupakan konspirasi elit, yang menginginkan Negara ini tak maju. Ia juga meyakini, jika saja Gus Dur tak turun dari jabatan Presiden, Gus Dur akan mengabulkan aspirasi rakyat Papua untuk merdeka. “Politik di Papua tak sehat. Kalau Gus Dur saat itu menjabat satu tahun lagi saja, Papua pasti Merdeka.  Andaikan refferendum terjadi di Papua, andaikan anak di dalam kandungan di Papua ditanya, pasti akan bilang Merdeka. Kami meyakini, Kemerdekaan di Papua akan terjadi tanpa pertumpahan darah,” tandasnya.
Mengapa begitu yakin, jika Gus Dur mendukung kemerdekaan Papua? cecar saya. Sebab, kata dia, Gus Dur sangat mafhum psikologi warga Papua. Ia juga menyesalkan betapa cepatnya, Gus Dur pergi. Sebab selama Gus Dur ada, “kehidupan beragama di sini tak mengalami gangguan apapun,” ujarnya.
Syafar yang seorang muslim, mengaku kecewa dengan merebaknya  peraturan daerah (perda) syariat Islam dan ramainya berita larangan pembangunan gereja di Bekasi, Bogor dan sebagainya, umat Islam di Papua terkena imbas. "Tolong sampaikan pada saudara kita di Jawa, jangan hancurkan tempat ibadah agama lain. Kami di sini kena imbasnya. Membangun masjid pun kini kami dipersulit, gara-gara ulah sebagian umat Islam di Jawa,” tandasnya.
Lalu Syafar bercerita tentang dukungan OPM terhadap kegiatan Muspimnas PMII. Senada dengan pengakuan Engel, yang merupakan salah satu anak tokoh adat setempat yang mendukung NKRI,  OPM juga jarang bersedia menerima tamu yang dianggap sebagai representasi ‘Jakarta’. Tapi karena yang melobi mereka adalah tokoh NU setempat dan acara digelar oleh ‘kader-kader’ Gus Dur, maka OPM pun menerima kedatangan ratusan pemuda Nusantara yang tergabung di PMII itu. “Karena Gus Dur, kami juga malah ikut berjaga di sekitaran hotel,” imbuhnya. Maka berlapislah pengamanan di sekitaran Sentani, dari aparat kepolisian dan TNI yang tak memperlihatkan senjatanya, dari pasukan adat sekitaran pegunungan Sentani, hingga pasukan OPM.
--
Berkah Gus Dur di tengah Premanisme
Peredaran minuman keras yang liar dan karakter warga setempat yang keras,  menambah potensi konflik di Tanah Tabi. Hal itu diakui Engel maupun Syafaruddin secara terpisah. Sekali waktu, kami terlibat perselisihan kecil dengan sejumlah pemuda yang tersinggung lantaran motornya disalip oleh mobil yang kami tumpangi.  Beruntung perselisihan perselisihan itu cepat tuntas tanpa menimbulkan pertumpahan darah.
Suasana sepi, dan malam hari, membuat kami agak ngeri juga. Jika tak ditemani kader setempat, entah bagaimana nasib kami malam itu. Lantas apa tips sang kader menghindari preman jalanan itu? “Saya minta maaf dan bilang kalau kami sedang antar anak Gus Dur,” ujarnya.
Hal berbeda dialami Munandar Nugraha. Sebagai tim ekspedisi awal, Nandar bersama Abdul Aziz dan sejumlah sahabatnya bertandang ke Jayapura sepekan sebelum acara Muspimnas PMII dimulai. ""Hotel masih sepi, bendera belum terpasang. Beruntung kami langsung ditemui oleh salah satu senior PMII, yang aktif di PKNU (Partai Kebangkitan Nahdlatul Ummat, pecahan dari Partai Kebangkitan Bangsa). Bang Dino memanggil sejumlah tokoh setempat, salah satunya Kepala Pol PP (Pamong Praja) dan meminta bantuan mereka untuk memasang bendera. Besoknya semua bendera sudah terpasang," kata Nandar.
Dino ini dikenal sebagai salah satu pengikut Gus Dur, lantaran aktif di NU. Setelah terpasangnya bendera, Nandar, Dino, Kasatpol PP dan seorang tokoh adat berkumpul di salah satu kamar Hotel Sentani.  Di tengah obrolan ringan mereka, tetiba, Aziz menggedor pintu dan segera masuk ke toilet tanpa menyapa yang lain. Selesai dari toilet, Aziz langsung ditegur oleh sang tokoh adat yang masih muda. "Kamu tidak sopan, ee. Datang tidak permisi, keluar juga tidak basa-basi," kata si pemuda sambil menarik kerah baju Aziz.
Nandar, Dino dan yang lain tentu kaget dengan ketegangan yang tak disangka-sangka itu. "Saya mengusap punggung si tokoh adat, sambil bilang, Bapa, Aziz ini santrinya Gus Dur, dia sering ngawal Gus Dur kalau ke Jombang, Jawa Timur. Seketika dilepaslah itu kerah baju Aziz. Si tokoh langsung hormat bro!" ujar Nandar lagi.
Tahu, gak apa yang dikatakan sang tokoh adat itu sambil menghormat ke Aziz. Dia bilang, Gus Dur Bapak kami, jadi santri dan pengikutnya harus kami hormati juga. Luar biasa memang Gus Dur ini. "Tapi senebnya, setelah selamat dari pukulan si tokoh adat, Aziz songongnya keluar. Dia klaim,  kalo selama Gus Dur hidup, dia sering anter Gus Dur ke mana-mana. Dorong-dorong kursi rodanya lah. Kita mau bantah, kasihan juga, kan. Ha.Ha."
Sedangkan  Hendrik Sugara, mengaku sempat dihadang para pemuda dan dilempari tombak. “Pagi itu saya menjemput salah satu pemateri, di tengah jalan ada tombak yang dipalang. Karena tak tahu saya tabrak saja. Tiba-tiba, mobil kami dikejar dan dilempari tombak, Saya pun langsung tancap gas sambil baca fatehah buat Gus Dur. Alhamdulillah selamat,” ujarnya.
Jalanan di Jayapura, khususnya di kawasan Sentani, memang mengitari pegunungan, danau dan lautan. Pegunungan Siklok yang tengah dikeruk untuk pelebaran jalan, tak mengurangi kesan angker di sana.

Ajaran Gus Dur Lestari di Tanah Tabi
Meski telah tiada, ajaran Gus Dur masih melekat di hati para aktivis Papua. Tokoh  muda Muslim Jayapura,  Ahmad Muhajir yang kini mengasuh Pondok Pesantren Daru Dakwah Wal Isryad (DDI) Abdurrahman Ambo Dalle itu, merasakan hal itu sejak ia kecil dan tumbuh di tanah Tabi.
“Potret kerukunan umat terindah menurut saya di Papua. Ketika lebaran, kita berlebaran bersama, semua merayakan. Ketika natalan, semua gembira. Dinamika masyarakat beragama yang patut dicontoh saya kira di Papua. Masjid selalu berdampingan dengan Gereja, tak ada masalah. Penerapan Islam Rahmatan Lil Alamin termanifestasi di Papua,” paparnya. 
 Pluralisme di Papua, kata Muhajir,  sangat terjaga dengan baik. “Kami dengan teman-teman pemuda lintas agama, membentuk Forum Komunikasi Lintas Agama (Formula) Natalan, begini biasanya ketua panitia pengamanan muslim, dari masjid, pesantren OKP-OKP Islam, begitu pun sebaliknya. Kalau Idul Fitri, kaum Nasrani yang menjaga kami,” ujarnya.
Dengan marwah gerakan Ahlu Sunnah Wal Jamaah (Aswaja) yang banyak dianut para Ulama di Papua, Islam  menjadi sebuah mainstream gerakan yang diterima secara keseluruhan karena bersifat moderat. Hal itu, kata Muhajir berimbas positif bagi gerakan kemahasiswaan Islam semacam PMII. “Sejak 1994 PMII masuk ke Papua tak pernah ada konflik dengan masyarakat lokal. Bahkan sejak sebelum integrasi Papua dengan NKRI sudah ada NU di Papua, melalui para perantau dari Bugis. Sejak masa pemerintahan Hindia Belanda, tak pernah ada konflik berlatar belakang agama,” ujarnya.

*(Sebagian isi feature ini pernah dimuat berseri di Harian Duta Masyarakat, dengan judul “Pluralisme Gus Dur Bersemai di Tanah Tabi”, 11 Desember 2012- 15 Desember 2012)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…