Langsung ke konten utama

Tak Menyerah Meski terpinggirkan



Tak Menyerah Meski Terpinggirkan

... Bersyukur Aku merasakan bisa berjalan sendiri// Walau hanya dalam mimpi//mimpi indah sekali//... (Mimpi)
...Sejak lahir aku belum bisa berjalan//tidak pernah pula duduk di bangku sekolah//. Tapi Aku bisa membaca, menulis// walau dengan jempol kakiku// berkat mama merawatku,mengajariku//.. (Rasa Syukuruku)

Cilegon- Dua Penggalan puisi itu karya Corri Novika warga Jalan Melati F12/10 BBS 2 Ciwedus, Cilegon. Gadis dua puluh dua tahun yang mengalami penyumbatan otak sejak usia empat bulan. Tangannya kaku, dan kakinya mengalami kelumpuhan, ia pun sulit berkata-kata, karena penyakitnya tak kunjung sembuh meski Kedua Orang tua Vika, Joko Waskito dan Nining Yuningsih telah mengobatinya di berbagai rumah sakit, dan tampat pengobatan alternatif. Meski begitu, Vika punya semangat kuat untuk jadi penulis. “Aku ingin seperti Asma Nadia, yang pandai menulis, aku juga ingin seperti mama yang aktif di berbagai organisasi. Aku bangga sama mama yang ngajarin aku mebaca dan mengaji,” Ungkap Vika dengan terbata.
karena tidak sekolah, vika sempat merasa minder dan diasingkan, tapi berkat dorongan orang tua dan tiga adiknya, Vika bahkan ingin memberi motivasi kepada anak-anak yang senasib dengannya. Vika yang gemar menulis cerita sehari-hari dan menulis bait-bait puisi itu bertekad untuk mandiri dan menggali potensinya.
“Ia tak bisa memegang pensil, tapi mampu mengetik dengan jempol kakinya. Ia menuliskan puisinya sejak memiliki HP yang dibelinya dari uang tabungannya tahun 2007 lalu, dan tahun lalu kami belikan laptop untuk memudahkannya dalam berkarya,” Tutur Nining, Ibu Vika.
Nining tidak menitipkan Vika di Sekolah Luar Biasa (SLB), karena menurutnya SLB di Cilegon belum fasilitasnya belum lengkap, dan tak mampu memenuhi kebutuhan anaknya. “Kami pernah membawanya Ke Yayasan Pecinta Anak Cacat (YPAC) Solo, tapi Vika hanya kuat selama enam bulan, dan selalu ingin pulang, padahal di sana kami beri dia pendamping khusus, ternyata Vika tak betah. Akhirnya saya mendidiknya di rumah. Sebenarnya Vika telah diajari membaca sejak usia delapan tahun,” jelas Nining lagi. Dalam pengamatan nining, di balik keterbatasannya, vika memiliki daya tangkap yang luar bisa.
Minimnya Fasilitas dan perhatian khusus bagi siswa SLB di Kota Cilegon, juga dikeluhkan oleh Kepala SLB Al-Khairiyah Citangkil Taufiq, yang melihat kebijakan pemerintah untuk siswa SLB masih kurang. “Dalam UN Misalnya, Kebijakan untuk Anak Normal dan anak SLB ko disamakan, waktunya, dan proses ujiannya. Mestinya ada kebijakan khusus tentang UN bagi siswa luar biasa, Dalam UN pelajaran bahasa inggris misalnya, uji listening yang menggunakan kaset, menyulitkan mereka yang tunarungu,” Ujar TAufiq.
Penanganan anak berkebutuhan khusus menurut psikolog Anak Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM) Rd. Danianti, K.P.,Mpsi, memang berbeda dengan anak normal biasa. “Tak semua anak berkebutuhan khusus itu berotak lemah, banyak diantara mereka yang punya otak diasat rata-rata. Mereka hanya perlu perhatian, pendampingan, dan beberapa fasilitas khusus,” Kata Dani.
Senada dengan Dani, Hifdullah, Seorang Guru SLB AL Kautsar Cibeber juga mengungkap perlunya perhatian khusus terhadap anak-anak abnormal. “Masing-masing mereka pasti punya minat, dan bakat yang perlu dioptimalkan, sehingga kemampuan bisa menjadi bekal hidup untuk mandiri, dan tidak tergantung pada orang lain, SLB dengan segala fasilitas yang ada, berupaya membina, dan mendidik mereka, tapi walimurid, keluarga dan lingkungan juga harus mendukung terciptanya optimalisasi bakat mereka,” ujarnya.
Sayangnya, pihak Pemerintah Kota Cilegon belum mau meberikan perhatian itu kepada mereka. dalam Musyawarah rencana pengembangan (Musrembang) Kota Cilegon Kamis (23/4) Lalu, Pemkot belum menganggarkan dana khusus untuk pembinaan anak-anak berkebutuhan Khusus. “Untuk SLB, penanganannya masih oleh pihak provinsi, Pemkot cilegon hanya membantu. Kalau ada keluhan semacam itu disampaikan ke pemprov, dana khusus untuk mereka juga belum ada karena dalam musrembang bantuan itu tidak terungkap untuk 2010,” Papar Kepala Bidang Beasiswa dan Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Kota Cilegon Ismatullah. Bahkan menurut pengakuan Ismat, sampai saat ini belum ada data yang pasti tent ang jumlah anak berkebutuhan khusus di Kota Cilegon, dan jumlah siswa SLB di Kota Cilegon. (Malik)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…