Langsung ke konten utama

Aku Kecewa Sebagai Konsumen


Terus terang aku kecewa terhadap minimnya perlindungan terhaap konsumen. Hidup di era super hedonis telah menggiringku untuk menjalani -dan menikmati- tradisi konsumtif di negeri gemah- ripah tapi tidak loh jinawi ini. dan sebagai penganut konsumerisme praktis, aku tentu berhadapan dengan berbagai produk yang ternyata tidak sepenuhnya bikin puass!

Betapa beberapa produsen, dan pedagang saat ini, tidak menghargai hak-hak konsumen sepenuhnya. Kebanyakan dari mereka adalah penipu! berkali ku alami ketidaknyamanan atas pelayanan sebuah produk jasa. Dan ironisnya, kebanyakan produk yang tidak mengutamakan kenyamanan konsumen itu adalah produk yang benar-benar vital dalam hidupku.

Jika Anda pengguna Listrik Negara, cerita yang tak pernah digubris para pengelola layanan jasa ini tentu sudah basi. Ya, secara pribadi aku sering kesal dengan byar-pret nya listrik. ketika menulis tugas kuliah atau beberapa catatan penting, tiba-tiba saja listriknya mati, ketika butuh penerangan, juga sama (ini juga konon merugikan banyak pengusaha rumahan), maka saya pikir, buat apa PLN keluarkan banyak iklan dan -kadang- beasiswa, jika pengelolaan usaha listrik itu tak kunjung baik?

Jika Anda pengguna seluler Excelcom, tentu juga mengalami hal serupa dengan saya : banyak mengalami kesulitan dalam menelpon atau mengirim pesan singkat, dan parahnya itu sering terjadi pada jam-jam kerja! percuma XL berikan layanan gratis sampe puass, jika hanya berlaku di malam hari, sebab ini tentu mengganggu pola kerja dan pola hidup para penikmatnya. saya pikir, ini merupakan tradisi yang tidak mendidik.. teman-teman di kampusku, kini banyak yang menjadi 'para peronda malam' hanya untuk bertelepon ria, yang kadang untuk memuaskan keisengan belaka.

Jika anda pengguna angkutan umum yang disingkat Angkot, -khususnya- di Serang, Banten, jangan heran bila sering diturunkan sebelum tempat tujuan, hanya karena sang sopir, di tengah jalan, mendapat banyak penumpang lain yang arahnya berbeda dengan tujuan kita. dan jangan berharap lebih, bahwa angkutan di Serang akan memberi tarif sesuai aturan DisHub, sebab jika tidak ada uang pas, maka tanpa kembalianpun, bisa dianggap impas.

aku jadi bertanya, sejauh-mana kesadaran dan komitmen para perodusen layanan & jasa, terhadap pemenuhan hak-hak konsumen?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…