Langsung ke konten utama

Laporan dari Diskusi Publik tentang “Tinjauan Sejarah Al-Quran -Upaya Membumikan Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari-”






Prof. Quraish: “Otentitas Al-Quran bagian dari kausalitas”

Laporan dari Diskusi Publik tentang “Tinjauan Sejarah Al-Quran -Upaya Membumikan Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari-”


tag


Kamis (19/06) Ruang paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Banten berubah fungsi menjadi tempat diskusi Publik tentang “Tinjauan Sejarah Al-Quran -Upaya Membumikan Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari-”. Diskusi yang dipandu oleh Meutia Hafidz (Reporter Metro TV) itu menghadirkan Prof.Dr. M. Quraish Syihab, MA, Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam (Dirjend Bimas Islam) Departemen Agama RI, Prof. Dr. Nasaruddin Umar,MA, dan Prof. Dr. Rif’at Syauqi Nawawi, MA, Gubernur Banten, Hj. Ratu Atut Chosiyah tut hadir untuk membuka acara diskusi, sekaligus mencanangkan Gerakan Wakaf Al-Quran untuk Pondok Pesantren di Provinsi Banten. Dalam kesempatan itu, telah terkumpul 2661 Mushaf, seratus diantaranya disumbangkan oleh Ketua DPRD Banten, Adi Surya Dharma.

Sekitar 700 peserta, begitu antusias mendengar uraian dari ketiga penceramah. Peserta terdiri dari pelajar Madrasah Aliyah (MAN Insan Cendikia, MAN 1 & 2 Serang serta lainnya), Mahasiswa dan perwakilan dari 33 Kafilah peserta MTQN ke-22.

Prof.Dr. M. Quraish Syihab, yang menjadi penceramah pembuka mengungkapkan tentang Sejarah pengkodifikasian Al-Quran sebagai bagian dari kausalitas yang dikehendaki Allah. Bermula dari pemilihan tokoh yang menyampaikan wahyu (malaikat Jibril) tokoh yang mengemban amanat untuk menyampaikan wahyu (Nabi Muhammad saw), tempat dan waktu penyampaian, hingga redaksi yang dipilih, merupakan bagian dari seba-sebab yang dipersiapkan-Nya untuk tujuan terpeliharanya Al-Quran.

Lebih jauh, penulis Tafsir Al-Mishbah dan buku fenomenal “membumikan Al-Quran’ itu juga memastikan bahwa Al-Quran yang dibaca pada saat ini adalah sama dengan Al-Quran yang dibaca oleh Nabi Muhammad Saw.

Pernyataan ini ditegaskan oleh Rif’at Syauqi dengan mengungkapkan bahwa orisinalitas Al-Quran semestinya mendorong umat Islam untuk mengamalkan dalam hidup keseharian. Rif’at sebagai salah satu putra daerah Banten, mempertanyakan kemampuan home industri dan wisata kuliner Banten, untuk bersaing dengan produk daerah lain, sebagai bagian dari pengamalan essensi Al-Quran. “di Medan ada mika Ambon, sebagai makanan khas daerah, bagaimana di Banten, seharusnya Banten mampu mengembangkan home industri?” menurutnya, serius mengembangkan industri juga bagian dari perintah Al-Quran.

Sementara Prof.Dr. Nasaruddin Umar, lebih membahas tentang pentingnya perumusan ulang tafsir yang disesuaikan dngan kebutuhan jaman. “Saat ini, Tim penafsir Al-Quran perlu melibatkan ekonom, ahli kesehatan hingga ahli kimia dan fisika” tuturnya.

Pada sesi pertanyaan, sempat terjadi kericuhan. Beberapa peserta sempat berebut untuk bertanya, beruntung, Meutia dapat menenangkan kericuhan sesaat itu. Seorang peserta sempat muncul pertanyaan bernada menggugat, surat keputusan bersama 3 menteri berkaitan dengan Ahmadiyah di Indonesia . menanggapi pertanyaan tersebut, semua pembicara mengaskan bahwa keyakinan Ahmadiyyah Qadiyan yang tergabung dalam Jaringan Ahmadiyah Indonesia (JAI) adalah sesat, tetapi sebagai warga Negara, mereka tetap berhak untuk mendapat perlindungan Negara (** Malik/SiGMA IAIN Banten)





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…