Langsung ke konten utama

Ragam pola Islam Indonesia

Islam, bagi banyak orang Indonesia bukanlah hal yang asing di telinga. Meski lahir di tanah Arab (abad ke -6 sampai 7 lalu), Islam Indonesia memiliki identitas tersendiri. Bahkan, dalam berbagai catatan riset dan sejarah, islam yang baru dating di Nusantara1 pad abad ke -14, populasi Ummat Islam Indonesia mencapai mayoritas tunggal. Lantas apakah identitas ‘khas’ Islam Indonesia?


Dahlia Mogahed, periset dari Gallup, menilai Islam Indonesia adalah islam percontohan bagi kaum muslim di seluruh Dunia. Kemajemukan yang bertahan diwariskan berabad-abad di Nusantara, berhasil dipertahankan dan tidak punah, meski Islam menjadi single majority di Nusantara. Budaya toleransi terhadap kemajmeukan, demokrasi yang terbangun dengan baik (2007 lalu, Presiden SBY meraih penghargaan khusus dari PBB atas keberhasilan demokratisasi di Indonesia), dan akulturasi budaya yang terbangun di Nusantara, adalah bukti ramahnya Islam Indonesia. Inilah identitas yang membanggakan dari Islam Nusantara.


Sayang, kebanggaan itu sempat tercoreng dengan kampanye terorisme yang didengungkan Amerika dan Negara-negara Eropa, berhasil menurunkan derajat Indonesia di mata Dunia. Tapi, benarkah krisis yang terjadi merupakan skenario global, apakah terorisme di Indonesia bagian dari agenda global untuk menghancurkan karakter Indonesia?


Perlu pembahasan yang luas menjawab beragam pertanyaan tersebut. Dan akan muncul lebih banyak lagi pertanyaan ketika membahas Islam Indonesia. Baiknya, kita runut persoalan ini dari segi bahasa dan kontekstual.

  1. Apakah Islam itu?

Konon, Islam berasal dari kata sallama-yusallimu tasliman yang bermakna perahu keselamatan, adapula yang berpendapat Islam berasal dari kata aslama yang bermakna ketundukan, pakar lain berpendapat, Islam bermakna tangga, dan bergam pendapat lain tentang Islam dari segi bahasa, lantas pendapat mana yang benar?

Ya! Keragaman pendapat itu ternyata telah ada sejak munculnya kata Islam. Belum lagi, jika kita membahas elemen lain dalam Islam; Tauhid, Tafsir, Fiqh; ubudiyyah, muammalah, jinayah, siyasah, dan lainya. Jika membahas lebih jauh, ternyata Al-Quran yang diagungkan pun penuh kontroversi didalamnya, realitas semacam ini kemudian memunculkan pertanyaan baru, apakah Islam merupakan kebenaran yang Mutlak? Saya pikir, tidak!


  1. Indonesia dan percaturan politik global

Indonesia sejak masa perjuangan kemerdekaan, tidak pernah sepi dari perang kepentingan antar sesama yang ditunggangi korporasi negara-negara asing. Jika menleaah sejarah, pertarungan politik global telah menelikung para pemimpin nusantara sejak abad 17 an (jika menghitung lamanya penjajahan Inggris, Poortugis, Belanda & Jepang).


Bahkan –bisa jadi sejak abad ke 14- jika masuknya Islam dan Nasrani dapat dikategorikan sebagai bagian dari agenda Asing dalam menguasai kerjaan-kerajaan di Nusantara. Merujuk pada analisa Tan Malaka, kehadiran agama-agama asing (Islam & Nasrani juga Budha) dianggap sebagai bagian dari kepentingan asing dalam meraup hasil bumi di Nusantara. Asumsi ini didasarkan pada sejarah pembentukan kerajaan-kerajaan Islam Nusaanntara (utamanya Demak,) yang mengambil alih kekuasaan Raja-raja Hindu dan Budha, juga prinsip penguasa-penguasa nasrani yakni Vini,vidi,vici.


Kerajaan Islam Nusantara pada abad ke -14 sampai -16, konon meminta legitimasi dari kasultanan Turki Utsmani dan pada abad selanjutnya, legitimasi tersebut beralih ke Saudi Arabia.


Abad selanjutnya, (awal abad -19 hingga sekarang) beberapa penggerak Islam di negeri ini juga tak henti-hentinya memanfaatkan kepentingan Asing untuk mendukung gerakannya di Indonesia. Sebagai sampel, saya akan coba runutkan peta politik global yang berselimutkan ideologi dan agama;

  • Dibentuknya Muhammadiyah pada masa-masa awal, sering dituding sebagai bagian dari kepentingan Arab Saudi dalam menyebarkan faham Wahhabi.

  • Sarekat Islam pada masa awal kemerdekaan, sempat pula disusupi Ideologi Komunis yang merujuk ke Unisovyet dan China. Bahkan Indonesia, pada masa awal kemerdekaan, dikenal dekat dengan Unisovyet. Hal ini terbukti dengan ideologi Nasakom (nasionalis, agama dan Komunis) yang menyokong Pemrintahan Indnoesia hingga tahun 1965, agenda anti Amerika dan Inggris raya dengan agitasi terkenal; ”Amerika diseterika, Inggris dilinggis!”

  • Penggulingan Orde Lama oleh Soeharto, yang kemudian membentuk rezim bernama Orde Baru, sering dituding mendapat sokongan dari CIA ( intelijen Amerika serikat), hal ini kemudian dikuatkan dengan banyaknya agenda amerika yang masuk pada masa Orba.

  • Pasca reformasi, kepentingan politik asing di Indonesia semakin melebar, tidak hanya didominasi Amerika Serikat, beberapa negara Islam juga seakan merangsek ke indonesia. Munculnya berbagai faham keislaman disinyalir bagian dari perterungan kepentingn asing di negeri ini. Sampel; Jamaah tablig dari India, PKS dan kelompok tarbiyah juga sering dituding beragenda sama dengan Ikhwanul Muslimin, Mesir. Begitupun HTI yang diusir dari tempat asalnya, yakni Yordania, dan kini berpusat di London. Juga MMI, FPI dan beberapa organisasi muslim radikal juga konon mendapat kucuran dana dari Osamah bin laden dan donatur asing lain dari tanah Arab.

  • Yang unik, NU-Muhammadiyah yang biasanya berseberangan, saat ini terlihat mesra, mengapa hal itu terjadi ? selain kessadaran akan pentingnya kerukunan, kedua organisasi Islam terbeesar itu juga saat ini sedang memanfaatkan dana dari TAF, sebuah lembaga donor besar dari Amerika, satu kepentingan yang diusung; menggali Islam yang ramah, toleran dan mengerti arti pembauran dan kepentingan global.

Dari anaslisa tersbut, saya melihat bahwa perang saudara antar sesama warga Indonesia akan selalu terjadi. Perang tersebut dapat berbentuk apapun; fisik maupun ideologi.

Penutup

Perang ini akan Usai pada saatnya, nanti!


Ketika pertama kali mengetahui realitas tersebut, sempat terbersit rasa ngeri yang tak terperi, betapa tidak? Saya bingung memilih kebenaran! Tapi kita mesti memilih, dan –mungkin- Tuhan berikan petunjuknya melalui realitas yang terjadi selanjutnya, PKS, partai yang dikenal puritan,, ternyata juga memilih langkah yang sama dengan NU, mendeklasarasikan diri terbuka terhadap perbedaan!

Realitas membuktikan, sikap eksklusif dan puritan tidak akan bertahan lama di negeri ini2, karena –mungkin- Tuhan menghendaki Indonesia sebagai negara yang majemuk dan penuh toleransi, maka agama yang disusung mestilah moderat, tiada lain itu terdapat dalam konsep Islam yang rahmatan lil’alamin.


Wallahu A’lam bi Shawabb, wal muwaffieq ilaa aqwamitthariq.

1 Penulis menggunakan dua istilah serupa tapi berbeda makna, yakni 1). Indonesia, sebagai negara-bangsa republik yang diproklamasikan 17-08-1945, dan 2). Nusantara, sebagai embrio dari negara Indonesia, yang saat itu masih terpecah dalam berbagai kerajaan. Tapi keduanya berada dalam satu wilayah yang saat ini dikenal sebagai Negara kesatuan Republik Indonesia.

2 Saya jadi teringat salahsatu pernyataaan Gusdur, tentang hal itu “ mereka (islam puritan, tidak akan bertahan di Indonesia”. Gusdur juga menyumbang konsep pribumisasi Islam, yang selaykanya dikaji oleh kader PMII.

3 Saya jadi teringat salahsatu pernyataaan Gusdur, tentang hal itu “ mereka (islam puritan, tidak akan bertahan di Indonesia”. Gusdur juga menyumbang konsep pribumisasi Islam, yang selaykanya dikaji oleh kader PMII.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…