Langsung ke konten utama

Literasi Banten saat ini


Membaca dan menulis (literasi) merupakan cerminan tingginya peradaban. Doktrin keagamaan dengan kitab sucinya, juga menekankan pentingnya tradisi literasi. Bahkan dalam Islam, tugas awal yang diemban Nabi Muhammad adalah perintah untuk membaca. Hal ini diperkuat dengan tradisi penulisan Al-Qur’an dan berbagai perangkat pendukungnya, seperti; hadist, tafsir, fiqh, tauhid dan tasawwuf juga diwariskan dengan jjalan literasi.
Literasi pulalah yang mengantarkan Banten sebagai salah satu pusat peradaban di Nusantara. Keberadaan Syekh Nawawi Al-Bantani yang dikenal produktif dalam menulis telah berjasa memperkuat icon Banten sebagai daerah yang berbasis budaya akademis. Tak heran jika seorang Syekh yusuf Al-Makassari berkenan singgah dan turut serta membangun peradaban Banten pada era Sultan Ageng Tirtayasa. Dalam catatan sejarah, masyarakat Banten telah mengenal beragam bentuk aksara pada kurun waktu 1500 -1800 Masehi. Dari berbagai naskah dan prasasti yang berasal dari kurun waktu yang sama, dapatlah diketahui masyarakat Banten telah menggunakan jenis huruf latin, Jawa dan Pegon, jenis huruf Arab yang disesuaikan dengan budaya jawa dan melayu, (Nina.H. Lubis, 2003; 122).
Sayangnya, keruntuhan Kasultanan Banten seakan turut mengendapkan nama Banten sebagai pusat peradaban, dan kemudian Banten lebih dikenal dengan ‘tradisi jawara’ ketimbang budaya akademis yang dibangun melalui tradisi menulis. Berbalik hampir seratus delapan puluh derajat dari tradisi leluhurnya, masyarakat terpelajar Banten saat ini, tidak sedikit yang masih gagap dalam menulis. Hal ini terbukti dengan selalu sepinya event lomba karya tulis yang diadakan beberapa pihak, juga minimnya wacana tertulis yang ditelurkan para pelajar dan mahasiswa Banten. Padahal sejatinya, teori tekhnis penulisan telah diajarkan sejak di sekolah dasar, lantas mengapa pelajar dan mahasiswa belum banyak yang mampu menelurkan wacananya dalam sebuah karya tulis?
Dua tahun lalu, tradisi literasi juga sempat ramai dibicarakan lagi di media, seiring dengan berjalannya program “Banten Membaca” yang dicanangkan oleh Pemerintah Daerah Banten. Program positif tersebut ditargetkan selesai tahun 2007 lalu. Jika Banten Membaca telah dianggap mencapai target di tahun lalu, bukankah tahun ini sudah saatnya Banten meningkat dalam tahap memasyarakatkan Budaya Menulis?
dewasa ini para penulis lokal berhasil menggambarkan realitas lokal secara jujur, Moammar Emka, Andrea Hirata, dan mungkin akan banyak lagi para penulis yang berteriak tentang multikulturalisme dari sudut lokal. mampukah masyarakat Banten menerima tantangan ini ini? semoga saja!



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…