Maulid Nabi: Sejarah, Tradisi, dan Signifikansinya dalam Studi Islam Kontemporer

Achmad Fachrur Rozi

0 Comment

Link
Maulid Nabi: Sejarah, Tradisi, dan Signifikansinya dalam Studi Islam Kontemporer

IslamIndonesia.co – Perayaan Maulid Nabi (hari kelahiran Nabi Muhammad SAW) merupakan salah satu tradisi keagamaan yang paling luas dirayakan oleh umat Islam di seluruh dunia.

Meskipun tidak secara eksplisit diperintahkan dalam Al-Qur’an atau Hadis, peringatan ini telah menjadi bagian integral dari budaya Muslim selama berabad-abad. Artikel ini akan mengeksplorasi sejarah Maulid Nabi, ragam tradisi, serta perspektif akademis kontemporer.

Sejarah Maulid Nabi: Asal-Usul dan Perkembangan

Perayaan Maulid Nabi pertama kali diperkenalkan secara resmi oleh Dinasti Fatimiyah di Mesir pada abad ke-10 Masehi. Namun, beberapa sejarawan berpendapat bahwa praktik peringatan kelahiran Nabi sudah ada sebelumnya dalam bentuk informal di kalangan sufi dan komunitas Muslim awal.  

Perayaan tersebut kemudian menyebar ke berbagai wilayah, termasuk:  

– Timur Tengah: Dipopulerkan oleh Sultan Salahuddin al-Ayyubi untuk membangkitkan semangat jihad melawan Pasukan Salib.

– Afrika Utara dan Andalusia: Diadopsi oleh kerajaan-kerajaan Islam dengan pembacaan syair dan puji-pujian (madih nabawi).

– Asia Tenggara: Dibawa oleh para ulama dan pedagang, berkembang dalam bentuk pembacaan Barzanji dan Diba’i.

Tradisi Maulid Nabi di Berbagai Negara

Perayaan Maulid Nabi lambat laun telah menjadi budaya di berbagai negara, antara lain:

Tradisi Maulid Nabi di Indonesia

Tradisi Maulid Nabi di Indonesia

Perayaan Maulid Nabi di Indonesia merupakan salah satu momen keagamaan yang paling dinanti, dipenuhi dengan tradisi unik yang mencerminkan akulturasi Islam dan budaya lokal. 

Di berbagai daerah, peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW ini diwarnai dengan kegiatan keagamaan, seni, dan sosial. Salah satu kota dengan perayaan terbesar adalah Yogyakarta, yang menyelenggarakan acara spektakuler seperti Sekaten dan Grebeg Maulud.

Dalam perayaan tersebut, biasanya dibacakan maulid Barzanji dan Diba’i. Di beberapa daerah ada yang memeriahkannya dengan Pawai Obor dan Karnaval anak-anak dengan kostum bernuansa Islami, seperti yang ada di Yogyakarta, Surakarta dan Surabaya.

Tradisi Maulid Nabi paling ikonik di Indonesia, ada di Yogyakarta dan Surakarta, yaitu Sekaten dan Grebeg Maulid. Acara ini telah berlangsung sejak era Kerajaan Mataram Islam.

Jika ditarik asal-usulnya, kata Sekaten berasal dari “Syahadatain“, merujuk pada dua kalimat syahadat. Adapun ritual intinya, antara lain:

  • Gamelan Sekati (Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari) dimainkan di halaman Masjid Gedhe Kauman selama 7 hari.  
  • Pasar Malam Sekaten (terbesar di Jogja) menjual makanan, mainan, dan kerajinan. Sebagai hiburan rakyat yang masih eksis dan bertahan hingga sekarang.

Puncak acaranya nanti dilaksanakan pada 12 Rabiul Awal, menyajikan 3 Gunungan berisi hasil bumi, makanan, dan jajanan yang diarak dari Keraton Yogyakarta menuju ke Masjid Gedhe Kauman. Menariknya, setelah didoakan, gunungan diperebutkan masyarakat yang dipercaya membawa berkah. 

Makna filosofis dari tradisi tersebut sebenarnya adalah simbol sedekah Sultan kepada rakyatnya. Selain itu, hal ini juga menunjukkan adanya harmoni antara agama, budaya dan kekuasaan.

Kemudian di Surakarta, ada tradisi bernama Malem Selikuran (malam ke-21 bulan Maulid) dengan pembacaan sejarah Nabi. Di Keraton Kasepuhan Cirebon ada ritual “Panjang Jimat” dengan ziarah makam Sunan Gunung Jati.  

Selain itu, Bugis-Makassar juga memiliki tradisi “Maudu’ Lompoa” (perahu hias dan pembagian kue tradisional). Masih banyak lagi tradisi Maulid Nabi yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Maulid Nabi di Indonesia tidak hanya bernilai religius, tetapi juga menjadi festival budaya yang mempersatukan masyarakat.

Tradisi Al-Mawlid an-Nabawi di Maroko

Tradisi Maulid Nabi di Maroko

Perayaan Maulid Nabi di Maroko dikenal sebagai “al-Mawlid an-Nabawi” atau “al-‘Id al-Milad an-Nabawi” dan dirayakan dengan penuh semangat keagamaan dan kegembiraan.  

Muslim di sana menyelenggarakan pembacaan kitab al-Burdah karya Imam al-Bushiri (abad ke-13) yang dibacakan di masjid-masjid dan majelis taklim.  

Ada juga Qasidah dan Madih Nabawi, nyanyian pujian untuk Nabi dengan iringan musik tradisional.

Kota-kotanya dihiasi dengan lentera (fanous) dan lampu warna-warni. Di daerah FEs dan Marrakesh, terdapat prosesi obor. Menariknya, ada hidangan khusus Maulid Nabi di sini, yaitu Harira (sup tradisional Maroko yang sering dibagikan kepada fakir miskin), Mrouzia (hidangan daging kambing dengan rasa manis dan rempah), dan kue-kue khusus seperti Kaab el Ghzal dan Briouat (pastri isi almond).

Tradisi Mevlid Kandili di Turki

Tradisi Maulid Nabi di Turki

Di Turki, Maulid Nabi disebut “Mevlid Kandili” (Malam Maulid) dan termasuk dalam “Kandil Geceleri” (Malam-malam Suci) bersama empat malam penting lainnya dalam Islam.

Sama seperti di negara lain, Turki juga memiliki tradisi pembacaan syair pujian tentang kehidupan Nabi Muhammad. Kitab Mevlid-i Şerif karya Süleyman Çelebi (abad ke-15).

Dibacakan di masjid-masjid, terutama Masjid Sultanahmet (Blue Mosque) dan Masjid Eyüp Sultan.

Biasanya, ketika memasuki bulan Maulid, masjid-masjid diterangi dengan lampu minyak (kandil) sebagai simbol cahaya Ilahi. Masyarakatnya juga menyalakan lilin di rumah sebagai bentuk penghormatan.

Seperti halnya di Maroko, Turki juga memiliki hidangan khas Mevlid Kandili, antara lain:

Lokum (Turkish Delight): Permen kenyal yang dibagikan kepada tetangga.  

Baklava dan Şekerpare: Kue manis yang disajikan saat perayaan.  

Tahin Helvası: Makanan penutup dari tahini dan gula.  

Perspektif Ulama dan Studi Kontemporer tentang Maulid Nabi

Perdebatan tentang hukum merayakan Maulid Nabi masih berlangsung. Beberapa temuan penelitian terbaru:  

1. Pendukung Maulid Nabi

   – Umar (2022) dalam Islamic Law and Society menyatakan bahwa Maulid Nabi termasuk bid’ah hasanah (inovasi baik) selama tidak mengandung syirik.  

   – As-Suyuthi (dikutip dalam penelitian Halim, 2023) berpendapat bahwa perayaan ini meningkatkan kecintaan kepada Nabi.

2. Penentang Maulid Nabi

   – Albani (dalam jurnal Salafi Studies, 2021) mengkritik Maulid sebagai bid’ah karena tidak ada contoh dari Nabi atau Sahabat.

   – Wahhabi/Salafi: Menolak perayaan karena dianggap menyerupai ritual non-Muslim.  

Signifikansi Maulid Nabi dalam Konteks Modern

Studi Hassan (2023) dalam Contemporary Islam menunjukkan bahwa Maulid Nabi memiliki dampak sosial positif:  

  • Memperkuat Identitas Muslim: Sebagai sarana edukasi sejarah Islam.  
  • Mempromosikan Perdamaian: Acara keagamaan yang memupuk toleransi.  
  • Penguatan Ekonomi: Meningkatkan penjualan produk halal dan kerajinan tangan.  

Kesimpulan

Maulid Nabi merupakan tradisi yang kaya akan sejarah dan budaya. Meskipun terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama, perayaan ini tetap menjadi momen penting bagi jutaan Muslim untuk merefleksikan keteladanan Nabi Muhammad SAW. 

Dengan pemahaman mendalam tentang Maulid Nabi, umat Islam dapat merayakannya secara bijak, menghormati perbedaan pendapat, dan mengambil hikmah dari keteladanan Rasulullah SAW.

Setelah membaca artikel di atas, apakah tertarik untuk berpartisipasi dalam acara tersebut? Silakan tuliskan di kolom komentar!

Share:

Related Post

Leave a Comment