Langsung ke konten utama

Lagi-Lagi ToA

Ini ke sekian kalinya saya menyimak keluhan tentang ToA. Dulu saya sering bertanya, apakah iman ini menghilang atau hati ini terlampau keras, ketika gema ToA terdengar bising dan bikin jengah?
Pernah juga minder, apa yang salah dengan rasa dan pendengaran saya? Kok bisa suara yang datang dari rumah ibadah; musholla, majelis atau bahkan masjid, terasa tak nyaman.
Tapi resah itu sirna, ketika mendengar lantunan merdu nan fasih dari ToA di kampung Bapak, di Cirebon. Menurut paman, di musholla kampung itu, memang ditradisikan, pelantun adzan harus terlatih. Volume ToA pun diatur sedemikian rupa, sehingga tidak bikin pekak telinga.
Alhamdulillah, rupanya imanku masih utuh! Lantas yang bikin jengah itu apa?
Ternyata benar kata Gus Roy Murtadho, volume ToA yang disetting tanpa mengindahkan kenyamanan pendengar, ditambah lantunan adzan, solawat atau ayat suci yang dibaca sembarangan dan mengabaikan kaidah tajwid lah yang bikin hati mangkel mendengarnya.
Sekali waktu, saya berbincang dengan seorang kawan yang non muslim. Tentang metode dakwah dengan lagu rohani dan tradisi beragama yang bising. Saat itu, kami sepakat, tradisi pembacaan ayat suci atau lagu rohani (kadang) berimbas pada karier seseorang yang (terkean) religius untuk jadi biduan.
Sebut saja Mel Shandy, Nanag Qosim, Maria Ulfah, Gita KDI yang bermula dari Qori-Qori-ah lantas menjadi biduan terkenal di jalur Pop, Rock atau Kasidah. Ada juga Melly Goeslaw, Celline Dion sampai Katty Perry yang memulai bakat sebagai penyanyi gereja.
Sohib sekampus atau seprofesi saya, seperti Rizal Fauzi, Yuliawati Saripudin dan lainnya juga kerap mengungkapkan kerisihannya membaca keluhan seputar ToA. Sahabat Che Kopites, atasnama Lembaga PMII, bahkan pernah mengajukan petisi kepada Majelis Ulama Indonesia terkait pengaturan ToA masjid dan kemudian direspon oleh Dewan Fatwa MUI serta Dewan Masjid Indonesia, dengan himbauan agar pengurus masjid mengatur suara ToA-nya senyaman mungkin di pendengaran warga.
Ironisnya, protes terhadap ToA kerap ditafsirkan sebagai perlawanan terhadap tradisi beragama. Kemudian muncul dalih seputar mayoritas-minoritas. Hai, saya dan kawan-kawan lain yang senada, juga muslim. Mengimani betapa sakralnya Adzan, Solawat dan lantunan Al-Qur'an. Tapi menag harus tepo seliro, mengaji rasa. Jika tak paham soal tajwid, makharijul huruf, ya gak usah mengatasnamakan ritual buat bermain-main dengan ToA. ‪#‎eh‬

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…