Langsung ke konten utama

Pokemon dan Kehampaan Massal

Pernah jengah dengan hari-harimu? Semacam kehilangan semangat dan tujuan hidup gitu. Disorientasi, semi depresi, kata psikilog.
Aku sering merasakannya. Tapi biasanya gak berkelanjutan. Hanya terasa hampa sesaat.

Hampa tak melulu dipicu kasmaran. Mereka yang punya banyak kekasih pun kerap ditimpa kekosongan jiwa. Belakangan, aku sering melihat kaum urban didera galau, yang mereka bilang sulit dipahami penyebabnya.

Sebagian, mengurai galau itu pada pencarian spiritualitas, merajinkan diri menyimak berbagai kajian keagamaan,  menekuni ibadah, tepekur, sampai ada yang nekad meninggalkan kariernya buat penuhi dahaga spiritualitas.

Sebagian lain, memilih hiburan malam, berkecimpung di komunitas-komunitas petualangan, tenggelam dalam game-game arcade, playstation atau MROPG, seperti Pokemon, Ingress,  hingga permainan judi yang kini mudah diunduh di Ponsel pintar.

Tak heran, jika setiap tahun, ada saja game atau aplikasi Ponsel yang booming dan bikin kecanduan masyarakat dunia. (bersambung..)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Swinger

Tak ada maksud ku tuk duakan engkau Ku tak pernah berniat selingkuh Cinta ini murni Hanya untuk mu
Tentang godaan itu, Hanya sebuah godaan ! Yang tak tepat untuk di gugat Aku hanya menggoda tanpa mencinta
Cinta sejatiku hanya untukmu Walau banyak kumelirik bidadari Pandangan pertama bukanlah dosa Walau kadang mengundang hasrat
Jangan berpaling dari Sang Amor Kalau kau dambakan abadinya cinta Jangan turuti hawa cemburu Hanya karena pandangan keliru
Kemesraan itu hanya sesaat Sekedar petualangan hasrat Kalaupun ku tidur dengannya Tak berarti ku mencintainya
Maka percayalah, cinta kita kan abadi Karena kemesraan tak selalu bermakna cinta Kasih kita kan selalu bersanding Meski tanpa komitmen setia
Kau pun boleh mencoba asal saling suka Rasakan sensasi yang tak terkira Jangan ragu tuk tebar birahi Hanya karena takut berdosa

tag