Langsung ke konten utama

Sampah Pemuda

Refleksi Sumpah Pemuda



Menjelang pemilu lalu banyak politisi masuk kampus, mengajak anak-anak muda untuk peduli politik. Apatisme terhadap politik di kalangan muda saat itu memuncak. Kekecewaan terhadap pemerintah daerah menjadi pemicunya. Sejumlah kasus di pusat menambah kekecewaan pada dunia politik. Apatisme itu terbukti dengan tingginya angka golput dalam pemilu2014 yang mencapai 24, 89 persen, sedikit menurun dari angka golput Pemilu 2009 yang mencapai  29, 0059 persen.

Kehadiran para politisi ke kampus juga didukung komentar para pengamat tentang perlunya anak-anak muda terjun ke dunia politik. Membenahi dari dalam sistem, begitu dalil yang sering didengungkan.  Partai-partai membuka pintu selebar-lebarnya bagi para politisi muda. Hasilnya, banyak juga aktivis mahasiswa yang tergiur untuk mencalonkan diri dalam pemilihan legislatif.  Tahun-tahun berikutnya, wacana pemberdayaan pemuda di ranah politik kian kencang. Partai baru (pecahan dari partai-partai besar dan menengah) dan Pemilukada memperlebar peluang bagi anak muda untuk berkiprah di wilayah politik.

Belakangan, kiprah politisi muda kemudian disorot. Lembaga Survei Indonesia bahkan pernah merilis bahwa korupsi dalam lima tahun ini di dominasi oleh anak-anak muda. Hampir semua institusi politik, birokrasi dan pemerintahan, di pusat maupun di daerah diwarnai korupsi yang -diberitakan- banyak dilakukan kaum muda.

Di kalangan aktivis mahasiswa, fenomena korupsi juga sangat dipahami dan mungkin telah dipraktikkan bersama meskipun dalam skala kecil. Dalam gelaran orientasi pengenalan kampus (Ospek), atau bahkan dalam pelaksanaan seminar-seminar pun banyak terjadi. Dalam kegiatan skala nasional, korupsi bisa jadi terjadi lebih massif. Berita seputar korupsi telah menjadi sarapan sehari-hari di Koran maupun di televisi.  Suap dan korupsi terjadi hampir di semua ranah kehidupan di negeri ini. Bahkan masuk di wilayah sakral keagamaan. Dunia akademis yang seharusnya idealis juga tak luput dari isu korupsi.

Negeri Sampah

Buanglah sampah pada tempatnya. Kalimat itu tertera di mana-mana, namun faktanya sampah pun bertumpuk di mana-mana. Bahkan Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta yang fenomenal dan digandrungi para pembaharu itu pun dibuat termenung dengan tumpukan sampah di Kali Ciliwung.

Soal sampah ini saya teringat  obrolan dengan salah satu pejabat eselon tiga di Banten, sekian tahun lalu, ketika saya masih bertugas sebagai reporter di sebuah media di Banten. 

“Tahukah kamu, banyak orang terutama para pejabat menilai wartawan itu bak sampah!” katanya  mengungkap kegelisahannya terhadap negeri ini, terhadap profesi jurnalis yang telah melenceng dari jalur yang diidamkan.

Perbincangan ringan malam itu, memunculkan beban seberat gunung.  Sebenarnya saya tak heran dengan pernyataan itu. Kaget pun tidak. Sebab stigma negatif terhadap wartawan telah lama tersemat. Terpatri sejak media, seperti kata Goenawan Mohammad,  berubah menjadi industri kata-kata. Sejak  para penulis, seperti kata Rendra, menjadi penyair salon. Meski masih ada puluhan jurnalis yang jengah dan prihatin atas kondisi itu, tapi fakta di lapangan berkata lain.

Sialnya, banyak jurnalis muda terjebak untuk memperkuat stigma negatif itu. Sialnya lagi,  cerita sampah itu terucap dari pegawai pemerintahan, yang juga kerap dinilai sampah. Kalimat itu keluar dari warga negara yang digaji dari uang rakyat, menikmati berbagai subsidi yang diperoleh dari pajak.  Saya bertambah jengah, ketika dia mengajak berkolaborasi dalam memanipulasi program yang didanai APBD.  Ah, kau pun sampah juga ternyata. Begitu, ketus saya dalam hati.
 Soal sampah, Gus Dur saat menjabat sebagai Presiden RI juga pernah membuat lelucon tentang fenomena aktivis sampah. Lelucon itu kemudian dijawab oleh sang aktivis, bahwa sampah juga masih bisa didaur ulang. Masalahnya, ternyata negeri ini tak hanya kumuh oleh sampah organik dan non organik yang mudah didaur ulang. Banyak sampah yang lebih mengerikan di negeri ini. Sampah manusia.  Aparat sampah, pejabat sampah, tokoh agama sampah, pejuang LSM sampah, wartawan sampah, penulis sampah, hingga pelajar dan mahasiswa sampah.
Kunjungan Jokowi ke kali Ciliwung beberapa waktu lalu, menyadarkan kita pada pentingnya peran pemulung sebagai pahlawan pengurai sampah. Dibutuhkan banyak super hero yang mampu mendaur ulang sampah yang mengerikan itu. Mungkin para ahli terapi hipnotis bisa melakukannya. Mencuci pikiran-pikiran penuh sampah, lalu mengisinya dengan ide-ide kreatif, bergizi, dan penuh semangat untuk bersama membenahi negeri yang tengah dirundung bencana sampah.

Jalan Lain, Pasukan Bubur

Keresahan pada sampah di negeri ini ternyata dirasakan oleh banyak kalangan.  Simak  topik dan status di media sosial, yang sering dijadikan tempat sampah para penggalau. Di sana kita akan melihat betapa indah takdir Tuhan, menjadikan negeri ini sebagai tempat sampah. Sebab banyak hikmah yang lahir di negeri sampah ini.
Motivator, penceramah dan presenter muda membawa suara optimisme yang walaupun semu, tapi memberi aura positif bagi para pemuda labil. Entrepreneur, pengusaha muda juga lahir dari kerapuhan bangsa ini. Semangat perbaikan semakin kental ketika banyak aktivis muda yang rela mengabdikan diri hingga ke pelosok. Mengajar, menebar buku pengetahuan hingga memberikan terapi medis dan psikologis bagi para korban bencana.
Bencana alam yang menimpa negeri ini secara bertubi juga ternyata membuat kita sadar akan perlunya perbaikan negeri dari banyak sisi. Kemudian industri media, yang tujuh puluh persen dihidupkan oleh para jurnalis muda membuat masyarakat umum dan pemerintah melek untuk saling mendukung, berjibaku membenahi negeri. Masyarakat sipil sadar semakin sadar pada hak dan kekuatannya untuk menekan aparat. Pemerintah, walau dengan sedikit tergagap, juga kemudian mafhum, jika perlu ada system yang mendukung semangat perubahan itu. Pejabatnya jadi takut membuat kesalahan, dan memilih jalan populer demi membangun citra.
Seperti kata Ketua KPK, Abraham Samad, pembenahan negeri -pendaur ulangan sampah itu-bisa dilakukan seperti makan bubur. Dimulai dari gerakan kelompok pinggiran lalu merangsek ke tengah hingga ke jantung pemerintahan, yakni Istana Negara.  Jadi, sesampah-sampahnya kaum muda masih bisa didaur ulang untuk direkatkan kembali sebagai elemen yang meperbaiki dan menjaga keutuhan NKRI.   


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…