Langsung ke konten utama

Godaan Cinta di Pesantren

Ini cerita lama tentang Film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) yang dibintangi Nicholas Saputra dan Dian Sastro Wardoyo yang ngetrend di awal abad 21 lalu. Mengingat film AADC itu, ane terkenang sama cerita cinta yang kandas di pesantren.
Jadi ceritanya, sejak SMP, berkat buku diary yang dihadiahkan seorang abang tercinta, santri kecil ini kemudian jadi doyan curhat lewat tulisan. Dari hal terindah, isi pidato kiai, sampai keluh kesah dan kebenciannya pada sejumlah kawan ditumpahkan di buku diary merah. Sampai kemudian seorang kawan yang menjadi obyek curhatannya itu tak sengaja membaca buku diary si santri. Di buku itu, diceritakan sang kawan dituduh nyolong oleh kepala kamar. Maka sewotlah sang kawan tersebut.
“Kamu kok ikut-ikutan nuduh aku nyolong sih?”
“Loh, aku gak tau kok. Aku Cuma denger kata kawan-kawan aja,” jawabku.
“Itu yang kamu tulis di buku merah. Kamu bilang besar kemungkinan akulah si pencuri itu. Terus kamu juga ternyata kamu juga benci sama si anu ya. Sampe kamu bilang dia kampret,” ujarnya suatu ketika.
Aku kesulitan menjawab fakta tersebut. “Ya aku kan Cuma denger doang. Terus aku tuliskan. Kalau tentang si anu, ya aku memang kesel. Tapi jangan dibilangin ya. Gak enak, umpatanku di buku itu kasar sekali,” kataku memohon.
Sejak itu, curhatan di buku diary merah kububuhi tip-ek. Dan sejak kelas 3 SMP itu, aku merubah gaya curhatan. Dari narasi deskriptif, menjadi puisi implementatif. *Jiahh, gayanya kaya ngerti aja anak SMP soal begituan. Yang jelas, waktu itu aku menyembuyikan kebencian dan umpatan kasarku dalam puisi yang maknanya bisa diselewengkan,*
Menginjak SMA, kecintaan pada puisi meningkat karena di Perpustakaan sekolah tersedia banyak buku sastra, dan Majalah Horison. Saat SMA juga aku pindah ke pesantren yang lebih sedikit santrinya. Di sana aku kemudian ngefans sama prestasi salah satu putera kiai, yang hafal Al-Qur’an 30 juz, sejak usia 9 tahun. Kuncinya, kata dia, sampai ia menginjak dewasa selalu menjaga kesucian, dan tak mempedulikan soal cinta dan perempuan.
Aku pun meniru gaya hidupnya. Menyepi dan bergaya sufi (suka film, he.he). Tahun ke dua di pesantren baru itu, para santri tingkat SMA, membentuk Jamiyah Athulabah (semacam organisasi santri, meniru OSIS).Aku didaulat menjadi ketua, Istilahnya Lurah Pesantren. Jamiyah ini membawahi santri putera dan puteri. Yah seperti layaknya Abege, para santri puteri itu kadang bertingkah genit. Ada beberapa yang dekat denganku saat itu. Modusnya, ya koordinasi pengurus. Ha.Ha.
Nah, dalam setiap rapat, aku sering berceramah ala putera kiai, tentang pentingnya menjaga sikap.
“Sebagai pengurus, kita harus jadi contoh bagi santri lain. Kalau bisa kita juga jangan sampai terjebak cinta di antara sesama pengurus.” Rangkaian kalimat itu sering kuucapkan, sampai teman-teman kadang merasa kesal.
Tapi di luar rapat, kami para pengurus putera sering membicarakan sejumlah santri puteri yang diidamkan. Kecantikan mereka, keanggunannya, dan sebagainya. Awalnya aku bergeming tak tergoda.
Bahkan, saat mendapat surat cinta dari santri puteri, aku bakar surat itu, sambil dengan pongah berkata. “Lihat komitmenku untuk tak pacaran di pesantren”.

Seribu Puisi Cinta buat  Dia gak nyampe seribu sih, cuma ratusan lembar lah isinya)

Meskipun anti pacaran, aku tetap suka berpuisi. Setiap malam jumat, di sela acara marhabanan, dan belajar ceramah, puisiku sering dibacakan oleh para santri. Beberapa santri puteri juga kadang memesan puisi untuk mereka baca. Kami juga kadang berteater. Isi teaternya tentu seputar kehidupan pesantren.
Dari sejumlah pengurus santri puteri itu, ternyata ada yang membuatku terpikat.Pertahananku jebol saudara. Ketika dia meminta puisi buat dibaca para santri puteri. Aku lupa, bahwa ia yang mebuatku kesengsem itu adalah sahabat dekat dari santri puteri yang pernah kubakar suratnya. Aku lupa kalau solidaritas perempuan lebih kuat dari solidaritas laki-laki. Yang kupikirkan saat itu, aku harus menyatakan cintaku padanya.

‘Kesempatan itu datang. Dia minta puisi, maka buatkan ia seribu puisi sebagai pernyataan cintamu,” bisik nafsuku.
Sejak saat itu, aku lebih rajin menulis puisi. Gaya tulisanku pun berubah seketika. Yang tadinya berisi kritik kehidupan, berubah jadi setumpuk rayuan buat dia. Yah, cinta memang datang tak kenal waktu.
Akhirnya, tiga pekan setelah permintaannya itu, aku menyerahkan Sinar Dunia, Buku Tulis Sang Juara, berisi (kalau tak salah) sekitar 250 lembar yang penuh dengan puisiku tentangnya.
Di dalamnya, kuselipkan sebuah surat berisi pernyataan cintaku buatnya.
“Hai, ini puisi buatmu. Nanti dibalas ya,” kataku diam-diam, ketika hendak berangkat sekolah. (Dia juga sekolah di luar pesantren).
Hatiku semakin gundah gulana menanti jawaban dia. Malam harinya aku berdoa lebih khusyuk, agar cintaku diterima. Hayalanku saat itu, aku seperti Rangga yang menyatakan cinta dengan sebait puisi. Ha.Ha..
Esok paginya, kami berpapasan lagi. Ia menyelipkan buku pelajaran berisi surat. “Nanti aja, pulang sekolah dibacanya,” pesannya sebelum naik angkot.

Karena penasaran, aku membaca surat itu sambil menunggu angkot. “Aku heran sama kamu. Katanya gak mau pacaran. Katanya sebagai pengurus, kita harus jadi contoh buat adik-adik kita. Ini kok kamu malah mengajakku jadi contoh yang gak baik,” begitu kira-kira ringkasan isi suratnya.
Remuk hatiku saat itu juga. Aku membolos sekolah, kembali ke pesantren dan mengunci diri di kamar. Selama sepekan, aku berdiam diri di kamar. Tak mengaji, tak sekolah. Sakit jadi alasanku saat itu.
Ha.Ha. Mungkin itu yang dinamakan karma. Untungnya waktu itu tak ada yang tahu kalau aku sakit karena ditolak cinta..
Aih, ko isinya jadi curhat yaa.. semoga menghibur. He,he.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…