Langsung ke konten utama

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren


Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva
“Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan


 


Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.

Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi kaum perempuan untuk terjun di dunia politik praktis.

Merujuk pada Wiyatmi (2012; 12-13) gerakan perempuan yang terus berevolusi di Indonesia sejak abad ke-18 tersebut merupakan pertanda suksesnya pengaruh feminisme di Indonesia. Dengan mengutip David Hume (2007:157-158), Wiyatmi menguraikan bahwa feminisme adalah doktrin-doktrin tentang persamaan hak bagi kaum perempuan  yang kemudian berevolusi menjadi gerakan massif dan terorganisir.

Feminisme ala Hume di Indonesia mengalami sejumlah benturan kultural, sosial hingga spiritual. Belum lagi benturan di kalangan sesama penganut dan pejuang feminism yang terkotak-kotak dalam perbedaan antara feminis liberal, feminis radikal, feminis moderat dan feminis marxis.  Menariknya, feminisme di Indonesia yang berkultur religius, dengan didominasi oleh agama Islam melahirkan model feminism baru yang bercorak Islami.

Dinamika feminism islam di kalangan pesantren di Indonesia,  ditandai dengan semakin meningkatnya jumlah pesantren puteri pada masa pra kemerdekaan hingga pasca reformasi. Hal serupa terjadi dalam semangat berkumpul dan berorganisasi hingga semangat kajian keilmuan yang menggugat kemapanan kultur patriarkal pada teks-teks keagamaan.

Selain secara kelembagaan dan organisasi, para tokoh pesantren juga tampil secara personal dengan karya tulis yang menggugat kemapanan  lelaki dalam kajian fiqh klasik.  Mereka menawarkan alternatif pembaruan fiqh pro perempuan, seperti yang dilakukan oleh K.H  Masdar Farid Mas’udi, melalui bukunya berjudul Islam & Hak-hak Reproduksi Perempuan, Dialog Fiqh Pemberdayaan (1997); KH. Husein Muhammad, Fiqh Perempuan, Refleksi Kiai atas Wacana Agama dan Gender (2001); Syafiq Hasyim, Hal-hal yang Tak Terpikirkan dalam Fikih Perempuan (2001); Siti Musdah Mulia, Islam Menggugat Poligami (2004); Maria Ulfah Anshor, Fiqih Aborsi, Wacana Penguatan Hak Reproduksi Perempuan, (2006);

Di luar wacana kritis terhadap teks-teks keagamaan, sebagian tokoh pesantren melakukan pembelaan terhadap hak-hak perempuan melalui karya sastra seperti yang dilakukan Ny. Hj Masriyah Amva yang mendobrak kemapanan kultur patriarkal di Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon, melalui kemampuannya memimpin dan memenej Pondok Pesantren Kebon Jambu, Babakan Ciwaringin Cirebon, sepeninggal suaminya, K.H Muhammad. Masriyah juga mengkritisi dominasi kultur patriarkal melalui sejumlah kumpulan puisi serta novel sufistiknya ; Ketika Aku Gila Cinta (2007), Setumpuk Surat Cinta (2008), Ingin Dimabuk Asmara (2009), Cara Mudah Menggapai Impian (2008) dan Si Miskin Pergi ke Baitullah (2010), Bangkit dari Terpuruk (2010), Matematika Allah (2012) dan Umrah Tiap Tahun (2012).

Selain Masriyah, sastrawati Pesantren yang cukup fenomenal adalah Abiedah El-Khalieqy yang menulis Novel  Ibuku Laut Berkobar (1987),  Menari di Atas Gunting (2001),  Atas Singgasana (2002), Genijora (2004), Mahabbah Rindu (2007), Perempuan Berkalung Sorban (2009) dan Saya Cinta Kyai dan Pesantren (2009).  Novel Perempuan Berkalung Sorban karya Abiedah ini menjadi fenomenal setelah diadaptasi dalam layar lebar dan dianggap cukup keras mengkritik pesantren.

Dua sosok sastrawati Pesantren ini memiliki persfektif masing-masing dalam membela hak-hak perempuan di lingkungan Pesantren. Menariknya, ke dua sosok ini berasal dari kultur yang berbeda. Masriyah berasal dari kultur Nahdliyin yang dikenal tradisional, Abiedah (dari latar belakang pendidikannya) berasal dari kalangan Persis yang dikenal modernis dan cenderung puritan.




‘Melawan’ Dengan Sastra

Sastra sebagai sebuah karya fiksi kerap diidealkan sebagai refleksi dari sebuah realitas sosial masyarakat, yang merepresentasikan kehidupan yang dilihat, dirasakan dan diimajinasikan penulisnya. Perlawanan perempuan terhadap budaya patriarkal sangat terasa dalam Novel Abiedah El-Khalieqy berjudul Perempuan Berkalung Sorban. Tokoh Anisa yang berperan sebagai puteri seorang Kyai yang terkungkung oleh norma dan citra diri sebagai ‘perempuan baik-baik’ dalam persfektif pesantren di akhir tahun 80’an. Anisa terjebak dalam gejolak pemberontakan batin sehingga melakukan perlawanan terhadap subordinasi kakak dan pamannya yang merupakan pemimpin di pesantren.

Keberanian Anisa membawa wacana baru ke Pesantren menimbulkan konflik dan kesedihan mendalam dalam diri Ibu, Ayah maupun dalam diri Anisa sendiri.  Abiedah menggulirkan fakta dunia pesantren yang terkesan memaklumi ‘kenakalan’ putera kyai, namun sangat mengecam terhadap ‘kenakalan’ puteri Kyai. Meskipun, ‘kenakalan’ Anisa sejatinya berimbas positif jika didukung dan dikelola gejolak pemberontakannya untuk kemajuan pesantren. Anisa mendobrak kemapanan kaum lelaki di Pesantren, sehingga harus rela terbuang dari lingkungannya.

Konflik serupa dengan latar belakang dan setting berbeda digambarkan Masriyah Amva dalam Bangkit Dari Terpuruk (2010).  Sebagai puteri Kyai yang mendapatkan pendidikan pesantren klasik lalu mengikuti pendidikan formal (sekolah dan perguruan tinggi) Masriyah merasakan betul dilemma dan tekanan lingkungan terhadap dirinya. Tekanan terhadap Masriyah digambarkan semakin meningkat ketika ia menikah dengan seorang pelaku sufi yang mengalami ‘jadzab’ atau ekstase kecintaan tertinggi kepada Ilahi, sehingga ‘mengabaikan’ kebutuhan keluarganya.

 Dalam kondisi tersebut, Masriyah sebagai puteri kyai yang sangat dihormati oleh lingkungannya harus rela ‘turun kelas’ berjualan krupuk demi memenuhi hajat hidupnya.
Konflik batin yang dialami Masriyah semakin meningkat ketika harus bercerai dari sang sufi. Ia semakin terasing dari lingkungannya. Uniknya, Masriyah justru memuji sang sufi sebagai sosok yang mengajarkan kemandirian bagi dirinya. Masriyah merasa dicintai sekaligus dijadikan murid oleh sang suami yang secara kasat mata terkesan abai pada kebutuhannya.

 Dari paparan kedua novel tersebut, terungkap begitu kuatnya dominasi patriarkal di lingkungan Pesantren yang didobrak oleh tokoh Anisa maupun Masriyah. Namun ada perbedaan ending dan klimaks yang disuguhkan  dua novel tersebut.

Anisa melakukan pemberontakan frontal dan terkesan kecewa berat terhadap kultur pesantren yang menghimpit kebebasan kehendaknya, sehingga ia keluar dari lingkungannya.
 Sedangkan Masriyah, meskipun melakukan pemberontakan serupa di lingkungannya tetapi ia tetap bertahan dan berhasil menaklukkan dominasi patriarkal, dengan menunjukkan kesuksesannya memimpin pesantren tanpa didampingi suami, namun tetap menjunjung citra kepesantrenan melalui sufisme yang dilakoni dan ditunjukkannya dalam karya sastra.

Masriyah tampil sebagai pemenang dan membalik dominasi patriarkal. Sehingga mampu ‘berkuasa’ di atas para lelaki (santri dan pengurus pesantren) yang tetap taat dan hormat kepada sang nyai.



----**---
Abdul Malik Mughni adalah Pengaji di Wisdom Institute, Sekretaris Lembaga Kajian Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PWNU Banten, Ketua Lembaga Penerbitan, Pers & Kajian Strategis (LPPKS) PB PMII.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…