Langsung ke konten utama

Berbukalah dengan yang Sinis



Suatu senja saat menanti waktu berbuka, dua pemuda terlibat obrolan panas tentang sosok flamboyan mas @kokokdirgantoro pengusaha muda nan sukses yang ramai digosipkan aktivis linimasa sebagai kolektor Alphard. Diselingi seruputan kopi ucapan istighfar, seorang kawan menghujat tulisan @Armanddhani dan @WinduJusuf di portal Mojok.co, sebagai sarana propaganda pemurtadan yang terbit untuk mendukung perpindahan keyakinan Lukman Sardi.

“Ini konspirasi Bung. Lihatlah, setelah terbit tulisan Rabun Dekat dan Dua Juta Orang Murtad, sepekan kemudian publik digegerkan pengakuan Lukman Sardi disusul oleh pembelaan @Armanddhani yang seolah disetting untuk menggiring opini tentang lumrahnya gonta-ganti agama,” kata @Sarmud, Baladewa dan fans berat GIGI yang pernah kecele, salah follow akun @Armanddhani karena dikira band baru, gabungan @armandmaulana dan @AHMADDHANIPRAST.

Enggaklah Bro. Itu kebetulan saja. Kebetulan yang membawa hoki buat Mojok.co karena opini-opini yang diterbitkannya jadi hangat terus, gak pernah basi,” kata Sarjana Gomez, sambil stalking akun mantan-mantannya.

Perdebatan sengit itu terputus oleh Adzan Maghrib dari masjid sebelah. Di tengah santapan takjil buka puasa, Gomez membuka obrolan baru, tentang puasa. Menurut dia, berpuasa di negeri tropis yang dihuni para penggemar isu politis seperti Indonesia, memiliki tantangan tersendiri. “Kalau di Eropa waktu siangnya lebih panjang, loh. Sampai-sampai Ulama setempat harus berimprovisasi berijtihad memperpendek waktu puasa di musim panas. 

Tanpa mengikuti aturan umum syariat, yang mewajibkan puasa dari mulai terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari,” paparnya bak membuka seminar. Jadi, kalau mau puasa setengah hari, bisa ikut fatwa Ulama Kutub Utara, kata Gomez lagi.

Sarmud yang kurang puas dengan obrolan menjelang buka puasa menimpali, “Gak gitu lah Bro. Kalau ada fatwa serupa di Indonesia, bisa dituding sesat, liberal, kafir dan murtad, lho, ” timpal Sarmud.

“ Iya, dan kemudian Temlen dan Beranda Fesbuk juga pasti ramai dengan hujatan, ” ujar Gomez, seraya menyebut tokoh-tokoh Islam Indonesia, korban pengkafiran dan pemurtadan oleh para jamaah Jonru dan FelixSiaw.

“Eh tadi, Kau bilang puasa di negeri ini berat sangat, ketimbang di tempat lain. Padahal di Eropa puasanya lebih dari 17 Jam, kan” kali ini Sarmud tak mau obrolan beralih dari topik utama.
“Ya itu tadi, Puasa di Indonesia, kita harus belajar menahan diri dari godaan amarah saat membaca broadcast gak cerdas, kicauan sinis atau berita-berita hoax bernada fitnah yang disebar beruntun via fesbuk. Ghibah apalagi Fitnah kan dilarang di waktu normal, apalagi ketika puasa,” Gomez kembali berceramah.

Sarmud yang baru dapat gelar Sarjana Sosiologi pun langsung teringat teori Robert Agger tentang Sinisme Politik, yang mengurai skala kecurigaan dan prasangka seseorang terhadap politisi. “Sinisme di negeri kita memang parah. Gak cuma urusan politik, tapi juga sering dikaitkan sama isu SARA. Ironisnya isu semacam itu yang digemari masyarakat dan dikapitalisasi Politisi atau media tertentu untuk membangun kebencian masyarakat,” celoteh Sarmud.

Buat Sarmud, trend sinisme di negeri ini adalah degradasi terhadap ajaran Diogenes Laertius dari Sinope yang konsisten dalam sikap anti kemapanan dan mengkritik penguasa agar bersikap bijaksana dan peduli pada keadilan dan hak-hak rakyat jelata. “Diogenes imam kaum sinisme itu tawadhu’ sampai berkata, Aku tak tahu apapun kecuali ketidak tahuanku. Tapi kaum sinis di negeri ini selalu merasa paling tahu bahkan merasa lebih tahu dari para pakar yang belajar bertahun-tahun,” imbuh Sarmud sambil mencontohkan kak HafidzAry dan portal Piyungan, voaislam dan sejenisnya beberapa pentolan kaum Sinik yang selalu punya celah buat berkilah.

“Kalau kak HafidzAry atau Mas Piyungan pernah baca ujaran Diogenes, harusnya dia nyufi, gak hedonis dan gak gila kuasa dong. Bukan malah mengkapitalisasi fitnah berita hoax dan kebencian umat buat nyari iklan atau nambah follower,” sela Gomez.

Obrolan seru itu terjeda adzan Isya dan mereka bergegas ke masjid sebelah basecamp. Di perjalanan menuju Masjid, Sarmud bergumam, “Obrolan tadi masuk ghibah gak ya. Ngomongin Hafidz Ari, @Armanddhani, Jonru, Felixsiaw, Mas Piyungan, sampe kita terbawa gossip Alphardnya mas @kokokdirgantoro. Parahnya, kita ikutan trend berbuka dengan obrolan sinis.”
  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Swinger

Tak ada maksud ku tuk duakan engkau Ku tak pernah berniat selingkuh Cinta ini murni Hanya untuk mu
Tentang godaan itu, Hanya sebuah godaan ! Yang tak tepat untuk di gugat Aku hanya menggoda tanpa mencinta
Cinta sejatiku hanya untukmu Walau banyak kumelirik bidadari Pandangan pertama bukanlah dosa Walau kadang mengundang hasrat
Jangan berpaling dari Sang Amor Kalau kau dambakan abadinya cinta Jangan turuti hawa cemburu Hanya karena pandangan keliru
Kemesraan itu hanya sesaat Sekedar petualangan hasrat Kalaupun ku tidur dengannya Tak berarti ku mencintainya
Maka percayalah, cinta kita kan abadi Karena kemesraan tak selalu bermakna cinta Kasih kita kan selalu bersanding Meski tanpa komitmen setia
Kau pun boleh mencoba asal saling suka Rasakan sensasi yang tak terkira Jangan ragu tuk tebar birahi Hanya karena takut berdosa

tag