Langsung ke konten utama

Revolusi Mental dan Buah Simalakama

                                                           (gambar:intriknews)

Sudah setahun lebih sejak dilantik jadi Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) sering jadi bulan-bulanan netizen. Tak terhitung berapa banyak bully buat pedagang kayu asal Solo itu. Imbasnya, gak Cuma Jokowi dan lingkaran istana yang jadi bahan peloncoan, para pendukungnya yang dulu habis-habisan berdebat kusir mengampanyekan pentingnya memilih Jokowi pun ikut dibully. Bahkan Februari lalu, perdebatan di sosmed (twitwar) antara @redinparis dengan @panca66 berbuah perkelahian di Senayan yang menghebohkan jagad twitter Indonesia. Om Iwan Fals, Slank dan sejumlah selebtwit juga tak luput dari serangan para hatters Jokowi.
Secara kasatmata, memang sejumlah kebijakan Pemerintahan Jokowi ini ibarat buah simalakama, melahirkan sejumlah blunder yang gak hanya bikin gemas para oposan, tapi juga sempat menggoyahkan simpati dari para pendukungnya. Sebenarnya, sejumlah kebijakan kontroversi pemerintahan Jokowi merupakan cerita lawas yang selalu diulang sejak era presiden-presiden sebelumnya. Kenaikan BBM, gas dan tarif dasar listrik misalnya, itu kan sering terjadi, dan selalu ada jurus buat menangkal keresahan masyarakat akibat kebijakan tersebut. Begitu juga perihal ‘perang’antara KPK-Polri, pemblokiran sejumlah website, ketimpangan hukum yang menimpa nenek asyani, hingga tunjangan mobil dinas buat para pejabat (khususnya legislatif) pernah terjadi di Era SBY.
Ya namanya buah simalakama, memang bikin limbung. Dimakan oposisi ngamuk, gak dimakan koalisi pendukung ngambek. Nah soal simalakama ini. Dari sejumlah media yang saya sisir, konon merupakan nama lain dari buah mahkota dewa. Dulu, racunnya yang mematikan, dianggap kutukan. Tapi belakangan, banyak orang mulai percaya kalau simalakama setelah diproses dengan cara tertentu justru bermanfaat buat kesehatan. Mestinya, orang-orang di lingkaran istana ini belajar dari para sesepuh dunia herbal, bagaimana caranya agar kebijakan beracun itu justru jadi alat buat menyehatkan masyarakat. Tidak malah mengubah tagline revolusi mental yang sophisticated alias canggih itu menjadi bahan olok-olok yang bikin tekanan mental.
Entah kenapa, saya kok melihat jurus ngeles Jokowi beserta jajarannya gak sehebat para pedagang herbal. Komunikasi politiknya kurang keren, sehingga menimbulkan gonjang-ganjing tiada tara di Negara yang dihuni para penikmat gosip ini. Dalam gegeran penggunaan speaker masjid misalnya, Jokowi, Jusuf Kalla dan jajarannya bisa mengutip para ahli therapy stress yang mengandalkan suara lembut ketimbang suara bising.
Soal tarik-ulur pencalonan Komjen Budi Gunawan sebagai Kapolri, juga bisa belajar dari tukang obat yang meyakinkan para calon pasiennya yang berlagak membanding-bandingkan produk setelah dicicipi. Misalnya, pak Jokowi bilang,  “ini strategi  melibatkan masyarakat agar melihat kelemahan institusi hukum kita, yang mudah direduksi jadi  urusan politik.” Atau dalam hal pemblokiran situs ‘radikal’ seharusnya para pejabat Hubungan Masyarakat di Badan Nasional Penanggulangan Teroris dan Kementerian Komunikasi, bias berdalih dengan adagium “lebih baik mencegah daripada mengobati.”
Dalam kasus Peraturan Presiden tunjangan kredit mobil pejabat, Pak Presiden juga kan sebetulnya bisa ngadem-ngademin masyarakat dengan mengatakan kalau tunjangan itu memang diatur dalam Undang-Undang tentang Pejabat Negara, kalau masyarakat menghendaki, mari kita gemakan revolusi mental dengan menuntut semua pejabat hidup sederhana. Wah, kalau itu yang disampaikan mungkin hujatan-hujatan gak penting yang mengganggu kinerja pemerintah bisa dieliminir. –eh tapi gak tau juga ding, karena kan namanya hatter’s juga punya jurus tersendiri buat ngebully siapapun-
Terakhir, mungkin kalimat ini bisa jadi pengobat galau masyarakat yang belum melihat dampak positif dari pemerintahan Jokowi-JK yang baru memimpin negeri ini selama enam bulan: 
“Namanya revolusi selalu mengagetkan. Daya kejutnya kadang bikin resah dan sulit diprediksi alur pasca pencapaiannya. Terlebih revolusi mental. ia menghantam kemapanan 'nalar dan rasa' yang kadung nyaman dengan asumsi-asumsi yang dibangun dari arus opini dan informasi distorsif,”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…