Langsung ke konten utama

Silat dan Ketangguhan Budaya Nusantara


Suguhan jurus tarian kipas dalam gathering blogger bertajuk Maha Karya Indonesia 'Jiwa Indonesia mengingatkan saya pada Kam Bu Song yang ahli dalam Lo-hai-san-hoat (jurus kipas) pada serial cerita Silat Bu Kek Sian Su karya Asmaraman Khoo Ping Hoo. Ujaran-ujaran Bocah Ajaib yang sophisticated.

Ya, seperti agama, pelacuran, tradisi berburu dan bercocok tanam,  silat mungkin merupakan salahsatu sub-kultur tertua dalam peradaban manusia. Asimilasi budaya yang terjadi di Nusantara sejak era kerajaan Salaka Nagara (menurut sejumlah babad, mulai berdiri abad I-III M) dan cerita-cerita yang menyertainya menunjukkan seberapa lama silat mewarnai Nusantara.Legendalklor Ajisaka membuktikan hal itu, Bagaimana sang jagoan yang konon berasal dari India itu mengalahkan Prabu Dewata Cengkar, dengan keahlian silat bathin nya dengan menggelar selendang yang mampu mendorong Dewata Cengkar ke Laut Selatan.  Silat juga selalu mengiringi babad politik sebuah wilayah di Nusantara.
Seperti diungkapkan JJ Rizal, dalam Bloger gathering di Jakarta (29/4/2015) yang bercerita tentang muasal nama daerah Kwitang yang menurut sejarawan asal Betawi itu diambil dari nama kelompok silat Mustika Kwitang. Kwitang sendiri bermula dari peertarungan tokoh Kuntao (seni beladiri dari China) dengan tokoh silat Betawi yang melahirkan jurus Mustika kwitang. Perpaduan jurus beladiri antar perguruan atau antar daerah yang berbeda, agaknya merupakan asimilasi yang biasa terjadi sejak zaman China Kuno. Lihat saja dalam cerita silat Khoo Ping Hoo yang berseri-seri itu. Dalam serial Pendekar Bodoh, misalnya. Cin-Hai bersama .. memadukan jurus tari pedang yang lembut dengan Ang I Niocu (Serial Bu Pun Su).Hal itu dibenarkan atlet Pencak Silat yang juga aktor film Rantau, Yayan Ruhian, saat menjawab pertanyaan dari salah seorang peserta gathering tentang keragaman jurus silat di Nusantara.
Menurut Yayan, keragaman jurus dan model pukulan, patahan, tendangan atau gerak pertahanan diri di berbagai daerah punya cirikhasnya masing-masing. Kekhasan silat ragam daerah itu, menurut dia, muncul berdasarkan karakter daerah yang berbeda-beda. "Karakrer sunda beda dg sumatera. Itu muncul bersasarkan wataknya. Aliran jabar dan sumbar juga banyak aliran. Tapi saya melihatnya bukan sebagai perbedaan yang harus diperbandingkan. Saya melihatnya sebagai keragaman. Sebab pada dasarnya setiap jurus itu sama. Hanya beragam kembangnya," ujar Yayan.
Menurut Rizal,Pencak silat itu berkembang di sumatera. Berita paling tua, di melayu. Ada tambo, kronik minagkabau abad ke 10, ada datuk diraja, penasihat kerajaan minang. Keahliannya, selain ahli pengetahuan juga ahli pencak. Terkenal ungkapannya, "lubuk akal lautan budi" Silat juga punya peranan dalam sejarah pergerakan nasional. Misalnya, paspampres pertama itu tokoh2 silat betawi. "Tokoh-tokoh nasional seperti Budi Utomo juga ahli silat. Selain punya klub sepakbola, juga silat," imbuhnya.

Sementara menurut Yayan,  Ibu kandung dari pencak  adalah  olah budi dan olahraga. "Silat berkaitan dengan budi, bukan hanya raga. Tapi juga banyak nilai filosofis dan ajaran etis. Dalam silat kita bertemu kerendahan hati, gigih, dan kesabaran. Juga nilai gotong royong. Dalam ajaran agama Nusantara, khususnya di Pesantren, silat juga menjadi bagian dari pelajaran utama. Maka dikenallah silat duduk dan berdiri. Duduk mengolah diri mendekatkan dengan sang pencipta melalui solat. Berdiri bersama manusia, yakni menjalin silaturahmi," paparnya.
Ya, pesantren dalam rangkaian sejarahnya, seperti dipaparkan Zamakhzyari Dhofier dan K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) diakui sebagai salahsatu evolusi pendidikan tertua di Nusantara. Yang merupakan perpaduan dari Perdikan (sebuah tempat penggemblengan prajurit dan anak raja) kemudian dipadukan dengan pendidikan keislaman yang menggunakan sistem kelas atau madrasah. Silat menurut Yayan datang dari pedagang dan agama. "Pesantren santri bisa solat, pinter silat. Olah raga, olah rasa.

Dalam silat juga dipelajari nilai-nilai luhur. Tidak hanya beladiri, tapi wawasan kebangsaan dan kebudayaan," tandasnya.
Silat juga dikenal dalam pagelaran wayang yang dikembangkan di Nusantara sebagai sarana dakwah oleh Sunan Kalijaga. Namun, seperti kata Nanang Hape, sayangnya kurikulum pendidikan kita kurang ajeg dalam memperhatikan budaya Nusantara. "Maka generasi muda kita seolah kehilangan karakter dan tak kenal budaya sendiri, karena mereka tidak cukup mendapat pengetahuan tentang wayang itu sendiri,” kata Nanang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…