Langsung ke konten utama

Paparan Primbon, Falak dan Fengshui Tentang Nomor Urut Parpol

.
Angka bagi sebagian orang di negeri ini memiliki pengaruh terhadap nasib. Tak heran jika kemudian banyak para penafsir angka yang laris di negeri ini. Para penafsir angka di Indonesia biasanya merujuk pada Primbon Jawa, Ilmu Falak (Ilmu perhitungan bintang Arab) dan Fengshui (Filosofi angka ala China).
Para ahli Primbon, Falak dan Fengshui itu, diakui atau tidak ternyata berpengaruh pada pandangan para politisi terhadap nomor urut Partai Politik. Hal itu terlihat dari banyaknya politisi berharap mendapatkan nomor tertentu, yang diharapkan bisa mensugesti masyarakat untuk memilih Parpol tempat mereka bernaung. Nomor urut juga diyakini bisa mesugesti para kader Parpol dalam memperjuangkan Parpolnya untuk meraih suara sebanyak-banyaknya dalam Pemilu 2014 mendatang.
Salah satu ahli Primbon Jawa dan Falak Nujum dari Probolinggo, Pujiyanto Gepeng, kepada Kandidat mengungkapkan hal itu, Minggu (27/1) lalu. Mengapa sebagian politisi masih mempercayai ramalan primbon, falak dan fengshui menurut Mas Gepeng, disebabkan oleh kultur masyarakat Jawa yang memang suka menerka sesuatu.
“Sejatinya, Primbon Jawa merupakan perpaduan ilmu astronomi arab yang dikenal dengan ilmu falak, Fengshui China dan India. Tapi bukan di Jawa saja tradisi ramalan angka itu ada. Tradisi ini memang telah ada sejak dulu. Bahkan masyarakat Eropa yang dikenal modern juga ada yang percaya pada mitos angka dan ramalan nasib. Ini mungkin sebuah keniscayaan. Setiap kita selalu penasaran terhadap masa depan, dan ingin menerkanya atau bahkan melihatnya dari sekarang,” ujar Mas Gepeng.
Ia menguraikan, di masyarakat Eropa dikenal ada cenayang, atau peramal nasib. Di masyarakat China juga ada ahli Fengshui, di Arab pun ada ahli nujum. Di Indonesia, mereka dikenal sebagai dukun atau peramal. “Dalam Ilmu psikologi, mereka yang punya ahli semacam itu kemudian diklaim berbakat Indigo. Mereka punya firasat yang tajam, dan punya keahlian menerka nasib,” paparnya.
  Lebih lanjut ia mengungkapkan, dalam tradisi Islam, Ilmu falak sebenarnya digunakan untuk menghitung waktu. Membuat kalender, dan menerka musim yang secara alamiah selalu berganti siklus. “Ilmu falak sebenarnya adalah Ilmu Astronomi. Kata Falak berasal dari bahasa arab yang berarti  jalan atau lintasan atau peredaran. Ilmu Falak ini untuk mempelajari peredaran bintang-bintang, yang bermanfaat untuk membuat kalender dan menerka musim,” ujarnya.
Karenanya, masyarakat Islam punya criteria tersendiri dalam menentukan ibadah tahunan, semacam puasa Ramadhan, perayaan Idul Fitri, dan pelaksanaan ibadah haji. “Tapi sejumlah ulama kemudian ada yang mengaitkan ilmu perhitungan dan perdaran bintang itu, dengan fase kehidupan sebuah mahluk. Bahkan diceritakan, ada Ulama ahli falak, yang sampai mampu menerka kapan waktunya sebuah daun jatuh. Sebenarnya ia menerka dari siklus alamiah,” ujarnya.

Ilmu falak juga kemudian menjadi digandrungi, karena dinilai bermanfaat terutama untuk mengamati musim atau arah angin. “Itu biasanya digunakan oleh masyarakat petani dan nelayan. Pemerintah kita juga kan punya Badan meterologi klimatologi dan geofisika ((BMKG) untuk menerka cuaca,” imbuhnya.
Namun kemudian, kata Gepeng, Ilmu Falak ini kadang digunakan untuk meramal karakter dan nasib seseorang berdasarkan nama, atau perhitungan tanggal lahir. “Astrologi namanya. Atau ilmu nujum. Ada kitabnya tersendiri. Di Jawa dikenal dengan kitab Primbon, atau Muarobat. Sebenarnya kitab itu untuk pengobatan, tapi kadang digunakan untuk meramal,” paparnya.
Lalu benarkah ada pengaruh nomor urut terhadap nasib Parpol dalam Pemilu 2014? Mas Gepeng menilai tak terlalu signifikan. “Jika dari sisi Fengshui atau Primbon Jawa, secara psikologis mungkin aka nada pengaruhnya. Tapi hanya di awal saja. Seiring dengan berjalannya waktu, pengaruh itu akan pudar, kalah oleh kerja keras para Caleg (Calon Legislatif),” tuturnya.
Dari sisi Primbon Jawa, menurut Mas Gepeng, pengaruh terbesar dimiliki oleh nomor urut 9. “Karena angka 9 adalah angka keramat bagi sebagian masyarakat kita. Di Jawa, barang siapa bisa menutupi babahan howo songo (9 lubang) dalam tubuh, maka dia akan sakti. Nah nomor Sembilan ini paling berpeluang,” urainya.
Setelah nomor 9, menurut Mas Gepeng yang punya pengaruh adalah nomor 8. “Karena 8 menunjukkan arah mata angin. Jadi Partai nomor 8 akan merata suaranya,” imbuhnya.
Selanjutnya yang cukup baik pengaruhnya adalah nomor 5.  “Angka ini melambangkan keseimbangan. Dalm Primbon, Angka 5 melambangkan Mars, yang penuh libido, berani dan pantang menyerah,” ujarnya.
  Sayangnya, Mas Gepeng tak mau membuka tafsir angka di luar ketiga nomor urut tersebut. Sebab menurutnya, hal itu tak penting, dan hanya menjadi sugesti belaka.
Senada dengan mas Gepeng, Master Aries Harijanto, dalam blognya mengungkapkan, bahwa angka sejatinya tak ada yang membawa hokky ataupun sial. “Karena masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dan patut diperhatikan bahwa kita lah yang mendefinisikan angka-angka tersebut dalam sebuah arti, bukannya angka-angka itu muncul dengan sendirinya. Angka-angka tersebut tidak akan ada artinya jika kita  tidak pernah menciptakannya, jadi angka yang tergantung kita bukan kita yang tergantung angka. Demikian juga dengan penghidupan kita, apakah mungkin dengan menggunakan sebuah angka maka penghidupan kita akan berubah?,” paparnya.
Sayangnya, menurut Aries, dilema ini sudah umum tejadi di beberapa lapisan masyarakat kita, sehingga menjadikan Feng Shui sebagai praktek yang semakin kelihatan takhayul saja. “Bukan menjadi seni yang berbau logis lagi!,” tandasnya.
Lebih lanjut ia menguraikan,  Praktek-praktek penggunaan angka yang hokky dalam Feng Shui ini sebenarnya bermula dari para praktisi yang ada di Hong Kong, yang mana setiap angka memiliki sebuah makna tertentu dihubungkan dengan dialek pengucapannya, seperti :
- Angka 3 dihubungkan dengan permulaan yang baru.
- Angka 8 dihubungkan dengan kekayaan.
- Angka 9 dihubungkan dengan kejayaan.
- Angka 10 dihubungkan dengan kesempurnaan.

Namun dari sisi Fengshui, menurut Aries, ada kepercayaan masyarakat Tionghoa, sebagai berikut :

1. Angka 1 atau disebut Bintang uang, adalah angka yang selalu menguntungkan. 1 juga adalah angka air yang diartikan sebagai uang dalam dunia feng shui. Di bawah bintang terbang ini bisa menguntungkan kalau bergerak ke tenggara. Namun berbahaya kalau bergerak ke selatan bisa mengindikasikan kematian muda kalau terjadi kesalahan pengobatan feng shui.
2. Angka 2 atau disebut Bintang penyakit, adalah angka yang membawa penyakit. Dalam feng shui bintang tebang angka ini akan membawa kemajuan di bidang militer namun juga menciptakan duda atau janda muda dan membawa penyakit yang sangat serius.

3. Angka 3 atau disebut Bintang cekcok, adalah bintang yang membawa perkelahian, cekcok, kecelakaan. Bintang ini adalah bintang yang membawa ketidak harmonisan dalam feng shui bintang terbang.
4. Angka 4 atau disebut Bintang seksi, angka ini adalah angka puitis dan romantis. Memajukan pendidikan, karya tulis. Bintang ini disebut juga dead star tidak terlalu menguntungkan pada periode 8 dan 9 yang akan datang. Dalam feng shui bintang terbang angka 4 menciptakan stress pada mental. Lumayan kalau bergabung dengan white star. Tapi membuat pertumbuhan dalam hubungan percintaan kalau terbang ke barat daya.
5. Angka 5 atau disebut Bintang jahat. Bintang yang tidak menguntungkan setiap orang. Angka yang paling susah dikombinasikan. Membawa pengaruh jahat. Membawa gangguan penyakit. Kemanapun muncul dalam feng shui terbang angka ini selalu diperangi. Bintang ini kalau muncul bersamaan dalam bagan tahunan dan bulanan betul-betul menciptakan kecelakaan fatal.
6. Angka 6 atau disebut Bintang surga. 6 keberuntungan dari langit julukan angka ini. Walaupun termasuk angka yang membawa keberuntungan memudar kalau muncul sendiri, angka ini tetap pavorit bagi praktisi feng shui. Karena 6 berarti juga emas, keberuntungan dan kaya.
7. Angka 7 atau disebut Bintang kekerasan. Ini keberuntungan masa lalu dan kemunculannya pada periode 8 sungguh tidak menyenagkan karena 7 juga berarti kekasaran dan perampokan. Atau keberuntungan masa silam.
8. Angka 8 atau disebut Bintang kekayaan ini adalah salah satu white star yang membawa keberuntungan special kalau angka ini muncul pada periode sekarang ini. Selalu membawa keberuntungan ekstra dimanapun angka ini muncul.
Angka 8 adalah angka periode sekarang ini. Praktisi feng shui bintang terbang mengetahui bahwa angka 8 ini adalah angka yang paling menguntungkan untuk periode 8. Angka 8 adalah angka keberuntungan sekarang dan sampai tahun Februari tahun 2024. Dunia bisnis memakai angka ini sebagai akhiran nomer rekening bank, nomer plat kendaraan, nomer rumah, nomer telepon, dan segala bentuk yang menggunakan nomer. Nomer 8 ini disebut juga white star dari 3 angka white star. Dua angka lainnya adalah angka 1 dan 6. Jadi kombinasi angka 1, 6 dan 8 adalah angka-angka keberuntungan periode ini.
Di rumah membuat kolam air berbentuk angka 8 juga akan sangat menguntungkan. Angka 8 adalah angka yang paling kuat di antara angka yang mewakili unsur tanah. Angka lainnya 2 dan 5. Namun disarankan untuk tidak membuat kombinasi dengan 2 dan 5. Buatlah lukisan, perhiasan dengan menggunakan bentuk angka 8 ini. Angka 8 juga dianggap lambang infinity atau angka yang tak pernah berakhir. Keberuntungan tiada akhir. Gunakan figure 8 ini semaunya karena ini akan memberikan keberuntungan ekstra.
9. Angka 9 atau disebut Bintang ganda, adalah angka yang menunjukkan keberuntungan masa depan. Angka ini selalu menggandakan pasangannya. Baik itu buruk atau bagus. Namun masih Favorit untuk digabungkan dengan white star.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…