Langsung ke konten utama

Mengenal Capres : Gita Wirjawan



Anak Ningrat, Pekerja Keras

Lahir pada 21 September 1965  di tengah keluarga Diplomat dan mafhum perihal pendidikan, membuat Gita Irawan Wirjawan dan keempat saudaranya tumbuh sebagai pribadi yang cakap dalam menghadapi dinamika global. Dari sejumlah cerita tertulis tentang Menteri Perdagangan Kabinet Indonesia Bersatu II yang kini digadang sebagai Calon Presiden itu, tergambar integritasnya sebagai professional muda di bidang keuangan.
Meski lahir di tengah keluarga ningrat dan kaya raya, namun Gita tumbuh sebagai pekerja keras sejak usia remaja. Putera bungsu dari pasangan  Wirjawan Djojosoegito dan Paula Warokka itu mengaku pernah menggeluti beragam pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan perkuliahannya  di Universitas Texas Amerika, dan  Sekolah Musik Berkley.
“Pekerjaan apapun saya tekuni. Dari bermain piano di Club, membersihkan tinja di restoran, menjadi pemandu wisata, pelayan di kafetaria. Di musim panas saya malahan bekerja sampai 50 jam seminggu,” tuturnya dalam sebuah acara talkshow di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan, beberapa waktu lalu.
Meski keempat kakaknya pun terbilang sukses di bidang bisnis professional, namun Gita dididik untuk mandiri sejak remaja. Gita juga mengaku bersyukur dengan berbagai kesulitan hidup yang pernah dirasakannya semasa kuliah.  "Kesulitan hiduplah yang membentuk karakter saya,” ungkapnya seraya bercerita bahwa ketika kuliah, ia tinggal di India, sementara orang tuanya di Bangladesh.
“Beasiswa saya waktu itu tidak penuh. Sedangkan orang tua hanya membekali saya US$3000. Uang kuliah mencapai US$20.000, belum lagi biaya hidup. Jadi saya harus bekerja sambil kuliah," paparnya.
Sejumlah orang yang pernah mengenal masa kecil Gita, seperti Wakil Gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf Macan Effendi mengakui keistimewaan sahabat kecilnya itu terlihat sejak mereka belajar di SD Boedi Waloejo yang terletak di Jl. Cisanggiri 3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. “Iya sama. Tapi Beliau dari dulu sudah hebat,” kata Dede  menjawab pertanyaan tentang kebersamaan mereka di masa SD.

Hobi Ngejaz dan Ziarah

Banyak pihak juga mengakui keluarga Gita sebagai keluarga santri, ningrat dan terdidik. Kakek Gita, Raden Ngabehi Hadji Minhadjurrahman Djojosoegito adalah Ketua Muhammadiyah Cabang Purwokerto, yang kemudian mendirikan Gerakan Ahmadiyah Indonesia aliran Lahore, pada Desember 1928. Menariknya, Djojosoegito juga merupakan sepupu dari pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU), K.H Hasyim Asy’ari.
Tak heran, jika kemudian Ny. Lili Wahid, adik dari Presiden ke empat RI, K.H Abdurrahman Wahid, mengungkapkan jika Gita masih punya hubungan kekerabatan dengannya.  
“Pak Gita punya hubungan dengan klan Mbah Hasyim Asy’ari dari Mbah Hasyim Putri. Saya pernah menyampaikan masalah kekerabatan tersebut, dan saya mengatakan kepada beliau jangan sampai meninggalkan akar garis keturunan,” kata Lili, seraya mengungkapkan bahwa keluarga Djojosoegito adalah keluarga santri yang banyak melahirkan tokoh-tokoh intelektual. Pesan adik Gus Dur itu pun ia ikuti dengan rajin berkunjung ke Kampus Islam, Pesantren dan mengajak istri dan anak-anaknya untuk rajin berziarah ke makam orang tuanya.
Selain berziarah, Lulusan sekolah musik Berklee, Boston, AS, ini juga  sangat mencintai musik jazz. Ia mempromotori album Tompi, Bali Lounge dan Dewi Lestari lewat perusahaan berlabel Omega Pacific Production yang didirikannya. Gita juga  biasa manggung di kafe dan menulis lagu serta merilis album Inner Beauty milik kelompok bandnya sendiri. Pada 2005, ia bermain bersama pentolan grup jazz Fourplay, Bob James, ketika menggelar pentas di Jakarta. Namun, kini aktivitasnya di musik banyak berkurang. “Dulu saya main berbagai macam alat musik, biola, gitar, bas, saksofon. Sekarang, saya bermain piano paling lama setengah jam saja dalam seminggu,” ujar suami Yasmin Stamboel, cucu pahlawan nasional Otto Iskandar Dinata, ini.
Di bidang olahraga, ia mengaku hobi bermain basket, renang, bulutangkis dan golf. Tak heran jika kemudian ia ngotot memajukan olahraga Indonesia melalui Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI).  Kini, ia juga mendirikan sekolah Golf di bawah perusahaan Ancor yang juga rutin memberikan beasiswa bagi anak-anak Indonesia berprestasi.
Tentang golf, ia menekuni hobinya itu sejak berusia 10 tahun.  Sejumlah turnamen golf regional di Bangladesh dan India tempat ayahnya ditunjuk sebagai wakil Pemerintah Indonesia di Badan Kesehatan Dunia (WHO), pernah ia juarai.
Sebagai putera dari Dokter perwakilan Indonesia di WHO, Gita juga banyak mendapat pengalaman penting dengan mengikuti perpindahan tugas ayahnya di berbagai Negara. Hal itu membuatnya tumbuh dengan pandangan globalisasi sejak usia belasan tahun.
“Saya di Indonesia sampai kelas dua SMP. Kemudian ikut orang tua. Tahun 1978 saya tinggal di Bangladesh kemudian di India. Saya bisa melihat bagaimana Bangladesh dan India, tertinggal dari negara kita. Ini sangat banyak memberi perspektif bagi saya untuk melihat hal-hal baik di negeri ini,” tutur Gita.

Mimpi Gita Tentang Masa Depan Indonesia
Dalam berbagai kesempatan, termasuk di lini massa twitternya, Gita sering berkampanye tentang pentingnya rasa bangga terhadap bangsa sendiri. Gita berpendapat, bahwa Indonesia pada sepuluh hingga dua puluh tahun ke depan akan mencapai kejayaan. Sebab, kata dia,  PDB Indonesia jauh lebih besar daripada Malaysia, Singapura, dan bahkan Arab Saudi. “Kita lebih besar dari apa yang selama ini kita bayangkan. Tidak ada alasan bagi Indonesia untuk tidak bisa mencapai 10 besar ekonomi dunia dan memiliki pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dari Amerika dalam 20 tahun ke depan,” paparnya.
Prediksi itu bukanlah ramalan mistik atau bualan kosong dari seorang yang berniat mencalonkan diri sebagai Presiden RI pada 2014 mendatang itu. Gita meyakini potensi kejayaan Indonesia berdasarkan pengalaman belajar dan perjalanan bisnisnya selama puluhan tahun.
Pendidikan Sarjananya ditempuh di University of Texas Amerika Serikat dan lanjut kuliah S-2 di Baylor University, pada 1989 di jurusan Administrasi Bisnis. Seolah tak puas kuliah di Texas, ia kemudian menempuh lagi pendidikan S-1 nya di Kennedy School of Government, Harvard University, Amerika Serikat, dan lulus tahun 1992. Selepas S-1, ia berkarier sebagai seorang bankir di Citibank. Di luar pekerjaan resminya itu, Ia juga menekuni karier sebagai musisi. Kecintaannya kepada musik membawanya manggung dari kafe ke kafe.
Tahun 1997, ia memutuskan berhenti dari kegiatan bermusiknya dan melanjutkan pendidikan paska sarjana di Jurusan Administrasi Publik Universitas Harvard. Lulus dari Harvard, pada tahun 2000, ia kemudian  bekerja di Goldman Sachs Singapura hingga tahun 2004. Goldman Sachs adalah sebuah bank yang didirikan oleh Marcus Goldman. Pada tahun 2005 ia pindah bekerja ke ST Telekomunikasi, Singapura. Di perusahaan tersebut, ia bekerja selama kurang lebih satu tahun sebelum akhirnya berlabuh sebagai  Direktur Utama JP Morgan Indonesia, pada tahun 2006.
Dari sejumlah pengalaman itu, terutama sejak ia menjabat sebagai pemimpin puncak di JP Morgan Indonesia, yang bergerak di bidang financial, analisis ekonomi Gita semakin terasah. Gita mengaku, ketika ia masih menjabat sebagai Presdir JP Morgan Indonesia, Ia telah mengingatkan Pemerintah RI, Ekonom dan Pengusaha di Indonesia, tentang gelagat krisis ekonomi Amerika, yang dampaknya akan meluas ke seluruh dunia.
Ia menyarankan sejumlah langkah antisipasi krisis. Namun tak ada pihak yang menggubrisnya saat itu. Karenanya, kemudian ia mulai mempersiapkan dana untuk membeli saham-saham perusahaan yang diperkirakan akan jatuh terimbas krisis global. Tahun 2008, dengan persiapan yang sangat matang, ia keluar dari JP Morgan pada tahun 2008 dan mendirikan perusahaan investasi Ancora Capital.  
Ancora Capital telah berhasil menghimpun dana investasi (private equity fund) dari para investor asal Timur Tengah, Malaysia, dan Brunei yang mencapai 300 juta dollar AS. Private equity fund yang dibentuk Ancora Capital ini merupakan private equity fund pertama yang didirikan dan memenuhi ketentuan syariah (sharia-compliant private equity fund).
Beberapa bulan setelah mendirikan Ancora, prediksinya tentang krisis keuangan Amerika terbukti.  Dengan modal yang telah ia persiapkan ini mengambil alih sebagian saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk, PT Bumi Resources Tbk, PT Multi Nitrat Kimia, perusahaan properti di Jakarta, dan sebuah perusahaan properti di Bali.
Politik Pasal Modal dan Revilatisasi Pasar Rakyat
Kesuksesannya sebagai Pialang saham, memikat Presiden Susilo Bambang Yuhoyono, untuk mengajaknya bergabung di Kabinet Indonesia Bersatu jilid II sebagai Kepala Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM), pada 11 November 2009. Tahun 2010, Gita mulai berkampanye tentang pentingnya membuka peluang  lebih lebar bagi  investor asing.
Melalui artikelnya tentang Nasionalisme Ekonomi di sebuah harian nasional, Gita membalik logika para ekonom Indonesia yang anti investor asing.  “Semangat nasionalisme ekonomi ini perlu diterapkan serta disikapi secara bijak dan pada porsinya. Penerapan nasionalisme ekonomi yang kurang tepat justru bisa menghambat pertumbuhan ekonomi, dan pada akhirnya tidak sejalan dengan upaya membawa kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia,” papar Gita dalam artikelnya yang kemudian menuai polemik nasional pada tahun 2010 lalu.
Ia menguraikan, salah satu penerapan semangat nasionalisme ekonomi yang kurang tepat adalah besarnya fokus pada struktur kepemilikan suatu investasi dibandingkan sejauh mana investasi bermanfaat bagi rakyat Indonesia. Ia juga mengkritisi lemahnya profesionalisme Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang kerap mendapat kue proyek nasional, meski secara kualifikasi dan kualitas BUMN saat itu cenderung tak sehat.
“ Nasionalisme ekonomi jadi salah kaprah ketika sebuah entitas nasional maupun milik negara dipaksa terlibat dalam suatu proyek meski kapasitasnya tak memenuhi kualifikasi teknis yang disyaratkan sehingga menghasilkan produk yang kurang optimal,” tandasnya.  
Meski menuai kritik keras dari sejumlah pakar Ekonomi Indonesia, diantaranya Kwik Kian Gie, Gita berkukuh pada tafsirnya tentang nasionalisme ekonomi itu. Sebagai Kepala BKPM, Gita menerapkan sejumlah kebijakan untuk meningkatnya realisasi investasi di Indonesia. Gita berhasil menjadi pemasar andal bagi investor asing untuk menanamkan modalnya di negeri ini.  Ia mengakui, upayanya menarik investor asing ke Indonesia secara sepintas, terkesan mengabaikan kepentingan nasional karena mendahulukan kepentingan penanam modal, terutama penanaman modal asing. “Akan tetapi, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa jika dirancang dengan baik, upaya ini akan membawa arus dana yang dibutuhkan serta manfaat jangka panjang yang besar bagi rakyat,” ujarnya.
Lebih lanjut ia pun membantah jika prinsip dan kebijakannya selama di BKPM merupakan bagian dari upaya liberalisasi ekonomi. “Penyikapan nasionalisme ekonomi yang pada porsinya bukanlah debat mengenai liberalisasi ekonomi versus proteksionisme ekonomi. Penyikapan yang dilakukan adalah bagaimana penerapan nasionalisme ekonomi bisa berfokus pada manfaat ekonomi secara menyeluruh,” tandasnya.
Kata Gita, sebagai Negara berkembang, Indonesia masih memerlukan bantuan keuangan. Karenanya,  investasi asing (foreign investment) masih dinilai sebagai strategi pembangunan nasional paling efektif saat ini. “Meningkatnya investasi asing justru menciptakan lapangan pekerjaan baru, meningkatkan pendapatan pajak, standar hidup, memberikan transfer teknologi dan pengetahuan, serta mendorong perkembangan sektor turunan lainnya harus menjadi beberapa faktor yang diperhitungkan, di atas pertimbangan asal modal maupun struktur kepemilikan modal,” paparnya.
Kontroversi Gita kemudian berlanjut setelah ia didaulat menjabat Menteri Perdagangan menggantikan Mari Elka Pangestu, pada 18 Oktober 2011. Di awal masa jabatannya sebagai Mendag, ia mewajibkan para pegawai di Kementerian Perdagangan untuk menguasai bahasa asing. Ia menargetkan seluruh pegawainya lolos Toefl dengan skor 600. Gita juga mengampanyekan boikot Black Berry karena RIM lebih memilih membangun pabriknya di Malaysia, ketimbang di Indonesia.
Belum reda kontroversi atas dua kebijakannya tersebut, di tahun yang sama Gita mengampanyekan diversifikasi pangan dari beras ke singkong dan umbi-umbian untuk menekan impor beras. Ia pun lalu mengeluarkan kebijakan pembatasan impor holtikultura untuk memproteksi hasil pertanian dalam negeri. Kini, ia juga rajin keliling pasar tradisional,  untuk memastikan efektifnya program revitalisasi pasar rakyat yang telah diterapkan sejak tahun 2009.
Pembelaannya terhadap produk perdagangan, pertanian dan perkebunan lokal juga ditunjukkan dengan sikap tegasnya yang meminta Amerika Serikat untuk mencabut status tak ramah lingkungan terhadap produksi kelapa sawit Indonesia.
Ia meminta Amerika merubah struktur Badan Perlindungan Lingkungan (Environmental Protection Agency/EPA) dan meninjau kembali status produk kelapa sawit Indonesia, menimbulkan ketiadaan penegasan status produk itu.
"Setelah dinyatakan tidak memenuhi standar ramah lingkungan, saya protes dan EPA mengirimkan tim ke Indonesia kemudian mendapatkan laporan yang berbeda, namun hal ini tidak dilanjuti karena terjadi perubahan struktur organisasi setelah itu," kata Gita.
Pihaknya secara tegas menyatakan kepada Menteri Luar Negeri Amerika, Hillary Clinton,  bahwa produk kelapa sawit ini termasuk kategori ramah lingkungan dengan daya reduksi karbon yang sesuai standar, ditambah dengan penerapan teknologi untuk asumsi beberapa tahun mendatang. Ia pun berjanji akan terus mengemukakan isu ini di forum internasional, di antaranya pada pertemuan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada Desember 2013. (tanmalika)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…