Langsung ke konten utama

Mengenal Capres : Djoko Santoso

Setegas Umar, Selembut Abu Bakar

 
Anak sulung dari sepuluh bersaudara, yang lahir dari pasangan Djoko Soejono (Alm) dan Soelani, ini memang dikenal beretos kerja tinggi sejak remaja. Lahir pada 8 September 1952, di tengah keluarga besar dengan penghasilan pas-pasan, membuat Jenderal TNI (Purnawirawan) Djoko Santoso tegar dan sadar diri sejak dini.
Sebagai seorang guru SMA, ayah Djoko terbilang sukses mendidik ke sepuluh anaknya hingga menjadi panutan banyak keluarga di desanya, atau bahkan di negeri ini. Ibunya yang pedagang gerabah juga berhasil menanamkan jiwa kemandirian dan wirausaha bagi anak-anaknya.
Kesuksesan keluarga Djoko Soedjono ini terrekam dalam buku berjudul Banjir kanal Timur Karya Anak Bangsa, yang terbit pada tahun 2010 lalu. Anak kedua Soedjono, Pitoyo Subandrio saat itu berhasil menerapkan konsep penanganan banjir terpadu melalui kanal banjir yang dibangun di sisi Barat dan Timur Jakarta.
Selain membanggakan kedua orang tuanya, dalam buku tersebut, Pitoyo mengungkap kebanggaanya terhadap sang Kakak, Djoko Santoso. Sejak kecil, mereka dididik untuk peka dan peduli terhadap masyarakat sekitar. Sejak kecil juga mereka belajar kemandirian. “Saya dan Mas Djoko memanfaatkan kemalasan orang untuk mengantre di Kantor Pos. Kami beli kartu lebaran di pasar grosir, dan menjualnya lagi di dekat Kantor Pos,” tuturnya. Di luar masa lebaran, mereka juga biasa menjualkan Onde-Onde, yang dibuat oleh Ibu dan adik-adik perempuan mereka.
Laba dari penjualan kecil-kecilan itulah yang mereka gunakan untuk biaya sekolah. Meski mengenal dunia bisnis sejak kecil, keluarga Soedjono tak mau mengabaikan pentingnya pendidikan. Maka sambil berdagang, mereka tak pernah lupa membawa buku pelajaran untuk disimak. Keprihatinan hidup keluarga itu pulalah yang mendorong Djoko Susanto untuk masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) yang kini berganti nama menjadi Akademi Militer (Akmil). Selepasn SMA, tahun 1975, Djoko berhasil masuk Akabri, dan mulai mendedikasikan hidupnya untuk Negara.
Perjalanan kariernya di dunia militer mempertegas wataknya dalam kecintaan pada Negara dan Konstitusi. Berbagai jabatan gemilang pun ia raih. Namun itu semua tak serta-merta membuat Djoko lupa daratan. Hal itu menurut Pitoyo tak terlepas dari nilai akhlakul karimah yang ditanamkan oleh ayah mereka. “Setiap 17 Agustus, Ayah selalu membeli kapur untuk mengecat dinding dan pagar rumah. Ayah juga menyuruh saya dan mas Djoko untuk mengecatkan dinding rumah Mbah Harso, tetangga kami yang sudah lanjut usia dan tak punya anak,” tutur Pitoyo mencontohkan nilai kemasyarakatan yang ditanamkan ayah mereka.
Cermin Reformasi TNI
Di sela pengabdiannya di dunia militer, Djoko Santoso juga sempat mengenyam pembelajaran politik di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Tahun 1992- 1995, Djoko ditugaskan menjadi Anggota DPR RI dari Fraksi ABRI. Saat itu Rezim Orde Baru memang member kuota khusus bagi kalangan militer, untuk memiliki perwakilan di DPR.
Untuk mematangkan visi politiknya, Djoko pun menyempatkan diri kuliah di Jurusan Sospol Fisip yang dilanjutkan di Magister jurusan Manajemen. Selepas berkarier di DPR, Djoko Santoso kembali ke barak dan bertugas di bidang Intelijen ketentaraan, hingga menjadi Wakil Asisten Sosial Politik Kepala Staf Territorial TNI pada tahun 1998.
Pergantian Rezim dari Orde Baru ke Pemerintahan Reformasi turut merubah posisi militer di tengah konstalasi politik kenegaraan di Republik ini. Militer yang sebelumnya dikenal angker dituntut juga mereformasi diri. Dan karakter Djoko Santoso yang memang luwes dan humanis itu kemudian dinilai sebagai cerminan reformasi TNI.
Pengalaman di lingkungan militer, di wilayah politik, dunia intelijen dan terjun di lapangan yang penuh konflik membuat nalar strategis Djoko semakin yahud. Ia pun kian matang di semua lini. Sebagai tentara ia punya sikap tegas, namun sebagai intelijen yang mengerti betul soal strategi dan pendidikan, Djoko terbilang luwes, mampu menempatkan diri dan menghargai kemanusiaan.
Citra diri Djoko tersebut bukanlah hal yang direkayasa, tetapi memang betul-betul terpateri dalam diri Alumni Akademi Militer 1975 itu, dalam sepanjang kiprahnya di dunia militer maupun di dunia sosial politik. Sebagai tentara Djoko pernah menjabat posisi puncak sebagai Panglima TNI pada 28 Desember 2007 hingga 28 september 2010.
Dalam lingkaran sosial keagamaan dan kependidikan, Ayah dua anak ini pernah menjabat Ketua Umum Persatuan Bulutangkis Indonesia (PBSI), Pandu Petani Indonesia (PATANI) hingga Wakil Ketua Dewan Penasihat Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI). Selain itu banyak organisasi dan lembaga sosial yang dipimpinnya sebagai ajang pengabdian. 
Bahkan ketika menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KASAD), tahun 2005 lalu,  Djoko  mendirikan  Patriot Leadership Development Centre (PLDC). Lembaga itu, kata Djoko merupakan sebuah pusat pengembangan calon pemimpin pada tingkat nasional yang memiliki keunggulan dan diapresiasi secara internasional. “Peserta didik PLDC ini berasal dari berbagai komunitas. Baik sipil maupun militer. Ini sebagai wadah komunitas belajar lintas disiplin ilmu yang mampu mengembangkan kompetensi kepemimpinan, baik secara perorangan maupun organisasi. Visi PLDC adalah pusat pengembangan calon pemimpin di tingkat nasional yang memiliki keunggulan dan diapresiasi secara internasional,” paparnya.
Dalam berbagai kesempatan, Djoko memang sering mengungkapkan keprihatinannya terhadap bangsa dan generasi muda Indonesia. Ia berharap, PLDC bisa melahirkan para kader pemimpin berwawasan kebangsaan di berbagai sektor kehidupan. “Sehingga di masa depan mereka akan dapat ikut meningkatkan keunggulan kompetitif bangsa Indonesia di dunia internasional,” tandasnya.
Kini, PLDC yang diserahkan pengelolaannya kepada Yayasan kartika Eka Paksi, milik TNI AD, rutin menggelar kaderisasi yang melibatkan para pemuda potensial dari beragam organisasi.
 Humanis dan Bersih KKN
Humanisme suami dari Angky Retno Yudianti ini memang tertanam sejak dini. Riwayat hidup sang Jenderal yang penuh keprihatinan, membuatnya peka terhadap pentingnya membela hak dan keadilan masyarakat. Dalam rekam jejaknya sebagai ADC PANGDAM I/Bukit Barisan (1978), hingga Panglima TNI (2007), Djoko dikenal piawai menyelesaikan konflik antara sesama masyarakat sipil, maupun antara sipil-militer dengan pendekatan yang arif dan berkeadilan.
Saat ia ditugaskan menjadi Panglima Komando Operasi Pemulihan Konflik di Maluku (2002-2003) misalnya, ia berhasil meredam perang berbau SARA, dengan pendekatan tradisi masyarakat setempat. Pun ketika terjadi perebutan tanah antara warga dengan TNI, yang notabene berada di wilayah kekuasaanya, Djoko tak menggunakan kekuatan militernya untuk menundukkan masyarakat sipil. Bahkan, setelah terbukti bahwa tanah itu memang tanah warga, ia rela membayar ganti rugi bagi warga setempat.
Sejumlah masyarakat yang pernah berjumpa atau bahkan bersinggungan dengannya pun mengakui tingginya empati Djoko Santoso terhadap nasib rakyat di sekitarnya. Seorang Mahasiswa Phd di Universitas Charles Sturt Australia, yang pernah berjumpa Djoko Santoso di sebuah Rumah Sakit, pada tahun 2003 lalu, mengungkapkan kedermawanan Sang Jenderal yang secara spontan membantu seorang ibu yang kesulitan biaya Rumah Sakit.
“Baru kali ini dalam hidup saya melihat seorang jenderal menangis! Saya bisa melihat air mata beliau yang keluar secara spontan dan tidak dibuat-buat karena di tempat itu hanya ada saya dan beliau. Mana Ibu itu? Itu pak di sana. Tanpa babibu dan basa basi dikeluarkannya uang  dari dompetnya dan dikasih ke Ibu itu. Ibu... Ini ada sedikit uang untuk membantu biaya operasi anak Ibu... Terus Pak Djokonya turun tangga,” papar sang Mahasiswa dalam blognya, http://arifrohmansocialworker.blogspot.com.
Kesahajaan Djoko dan sikap Humanisnya itu juga diceritakan banyak tokoh lain, seperti DR HM Attamimy, Mantan Ketua Satgas Amar Na’ruf Nahi Munkar Muslimin Maluku, dan Uskup Amboina, Mgr.P.C Mandagi, hingga Mantan Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah. Attamimy yang kini menjabat Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Maluku bahkan sempat menuliskan buku khusus tentang kepiawaian Djoko Santoso dalam mendamaikan konflik SARA di Ambon (2001-2003). Buku berjudul Merajut Harmoni di Bumi Raja-Raja, yang ditulisnya tahun 2004 lalu itu mengulas keteladanan Djoko Santoso yang dinilainya telah mencetak sejarah di negeri ini, dengan meletakkan dasar-dasar perdamaian di Maluku dan Maluku Utara.
Selaku Panglima Perang, ketegasan Djokowi juga tak diragukan. Seperti Umar Bin Khattab, Ia bahkan tak segan menghukum anak buahnya yang terbukti turut serta dalam mengobarkan konflik berdarah di Ambon. Ia juga rela naik gunung bersama stafnya, untuk mencarikan sumber air bagi masyarakat yang kekeringan. Belas kasihnya yang selembut Sahabat Nabi Abu Bakar Siddiq itu kemudian, membuat masyarakat terhenyak dan merasa sedih ketika Djoko meninggalkan Maluku untuk mengemban Panglima Kodam Jaya (Pangdam Jaya). Keteladanan Sang Jenderal ini pula yang menginspirasi Hikmat Israr, seorang Kolonel yang sempat turut serta mendampingi Djoko Santoso di Maluku, untuk menulis sebuah buku berjudul Meninggalkan Ambon dengan Kepala Tegak.
Sejumlah pengamat militer dan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) pun mengakui, bahwa sepanjang kariernya sebagai Panglima Komando di berbagai daerah Konflik, hingga karier puncaknya di Militer sebagai Panglima TNI, Djoko Santoso dinilai bersih dari isu pelanggaran HAM. Teristimewa lagi, Djoko juga lekang dari persoalan Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN).

Komitmen Terhadap Reformasi TNI

Komitmennya terhadap Reformasi TNI juga ditunjukkan ketika ia menjabat sebagai KASAD dan Panglima TNI. Ia memastikan netralitas TNI dalam Pemilu tahun 2009, menegaskan sikap anti KKN nya dengan melarang keluarganya bergelut di dunia bisnis di lingkungan TNI. Ia juga  menelurkan konsep Trisula, sebagai pengganti Dwitunggal ABRI, yang menitik beratkan peran TNI sebagai penjaga pertahanan NKRI yang bertumpu pada kepentingan rakyat.
Trisula TNI itu seolah ingin menegaskan komitmen TNI sebagai kekuatan pertahanan Negara, kekuatan moral Negara dan kekuatan kultural bangsa Indonesia. Tiga mata tombak Trisula secara harfiah juga menunjukkan kesatuan seluruh angkatan TNI, yakni Angkatan Laut, Angkatan Udara dan Angkatan Darat, yang menyatu dalam tangkai. “Tangkai Trisula ini bermakna dukungan rakyat. Artinya, tanpa dukungan Rakyat Indonesia, tiga mata tombak ini tak berarti apa-apa. Trisula ini harus dimiliki oleh seluruh anggota TNI,” ujarnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…