Langsung ke konten utama

Wisanggeni dan Anas Urbaningrum di Harlah Lesbumi Nu ke 51



Pengurus Pusat Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia Nahdlatul Ulama (Lesbumi NU) menggelar pementasan wayang berjudul Wisanggeni Menggugat di Halaman kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Minggu (7/4). Pementasan wayang yang didalangi ke Enthus Susmono itu digelar dalam rangkaian Ulang Tahun Lesmbumi NU ke 51.
Sejumlah politisi hadir dalam acara yang dimulai dengan pemotongan tumpeng dan doa bersama itu. Antara lain Istri Mendiang Presiden Abdurrahman Wahid, Ny. Shinta Nuriyah, dan Mantan Ketua Umum Demokrat Anas Urbaningrum.  Kehadiran Anas menimbulkan praduga tentang tendensi politik pagelaran tersebut. Terlebih, Dalang Ki Enthus dalam prolognya tentang gelaran Wisanggeni Menggugat mengulas tentang cerita kisruh di ..
“ Sasaran utamanya adalah membunuh kekuatan Pandawa di kuru setro. Wisanggeni berani mengguncang mengkritik keras Betoro Guru beserta sekutunya. Anak muda ini sangat bersahaja dan melalui kekuatannya yang didukung alam semesta, para dewa lari tungggang langgang karena tak sanggup melawan wisanggeni, “ papar Ki Enthus.
Ki Enthus juga mengkritik tentang anomaly politik dan budaya di Indonesia. Tentang nilai budaya dan dasar Negara yang  direduksi hanya menjadi empat pilar oleh MPR RI dan situasi politik yang carut-marut belakangan ini. “Padahal pilar hanya penyangga, Empat Pilar yang sering diseminarkan itu malah membuat bangsa ini kehilangan jatidiri,” tandasnya.
Dan lagi-lagi, ki Enthus pun menyinggung keterpurukan Anas dalam karier politiknya, sehingga Anas pun ditetapkan sebagai tersangka. Dengan gaya kiai, sang dalang menasihati Anas agar bersabar.
"Kang Anas, orang terkena musibah itu akan diangkat derajatnya,” ujarnya.
Kuatnya kesan bahwa kegiatan itu ditujukan untuk member dukungan moril kepada Anas dibantah Ketua Umum Lesbumi, Zastrow el Ngatawi. Mantan Juru Bicara Gus Dur itu berdalih, kehadiran Anas bukanlah sebagai tamu istimewa. Sebab selain Anas, banyak politisi lain yang diundang. “Selain Anas kami juga mengundang Mas Umam (Khotibul Umam Wiranu,red) dari Partai Demokrat, dari Golkar, dari PDIP, PKB, semua kami undang untuk memperingati harlah Lesbumi. Dan kita gak bisa melarang siapapun untuk hadir di sini. Bahkan orang gila pun yang mau hadir, ya silahkan saja,”” ujarnya.
Zastrow juga membantah jika lakon Wisanggeni Menggugat adalah personifikasi dari kasus yang tengah membelit Anas. Menurut dia, gugatan terhadap carut-marutnya kehidupan di negeri ini juga banyak disampaikan kaum muda, dari kalangan Mahasiswa, seniman dan lainnya. “Gugatan itu banyak disampaikan mahasiswa dan akum muda lainnya kok. Kita kan resah melihat keadaan negeri yang kacau ini,” tandasnya.
Lebih lanjut Zastrow mengungkapkan misi Lesbumi di usianya ke 51, sebagai lembaga budaya yang berjuang membenahi kehidupan dan peradaban bangsa. Sebab menurut Zastrow saat ini, budaya Indonesia tengah diserang dari berbagai sisi. “Dari sisi kiri, kita diserang oleh budaya barat yang terlalu bebas dan mereduksi budaya lokal. Dari sisi kanan, kita diserang kalangan fundamentalis, yang bernafsu memformalisasi agama, dan mengeliminir budaya lokal dengan dalih bid’ah dan sebagainya,” tandasnya.
Sementara Wakil Sekretaris Jenderal PB NU Abdul Mun’im Dz mengungkapkan, kelahiran Lesbumi sejak awal memang untuk membenahi budaya dan mempengaruhi kehidupan politik di negeri ini. “Dari awal alhirnya Lesbumi meniru perjuangan Walisongo menjadikan budaya sebagai alat dakwah, sekaligus juga alat politik, untuk mewarnai peradaban bangsa agar lebih luwes dan punya tatanan,” paparnya.
Ia mengungkapkan pengaruh Lesbumi di era 60-an sampai era 70-an yang mampu mewarnai perfilman di Indonesia. Saat itu sejumlah seniman NU, antara lain Asrul Sani, Usmar Ismail dan  yang melahirkan actor, aktris dan film berkualitas. Namun di era Orde Baru, Rezim Soeharto menekan peranan Lesbumi dan berbagai lembaga kebudayaan lain, sehingga kualitas Film di negeri ini menurun paska tahun 70-an. Seperti diketahui, Fim Indonesia paska tahun 70-an, menjadi marak dengan film berbau seks dan hantu. “Dulu banyak aktor lahir dari Lesbumi. Tapi rezim Soeharto kemudian memberi tekanan yang keras, sehingga Lesbumi, bahkan NU pun termarginalkan. Maka kemudian kualitas seni di Indonesia pun menurun,” urainya.

Malikmughni


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…