Langsung ke konten utama

Kontroversi Sejarah PKI

 Kontroversi sejarah pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 30 September 1965, yang dikenal dengan istilah G/30 S PKI, atau Gerakan Satu Oktober (Gestok), semakin menyeruak dengan banyaknya versi sejarah tentang peristiwa kelam tersebut.
Nahdlatul Ulama (NU) sebagai salah satu elemen bangsa yang turut menjadi korban keganasan PKI saat itu, tak mau tinggal diam dengan banyaknya versi sejarah tersebut. Terlebih, menurut Wakil Ketua Umum PBNU, K.H As’ad Sa’id Ali, belakangan ini muncul sejumlah literature yang mendiskreditkan warga NU yang turut serta dalam penumpasan PKI.  
“NU sekarang sedang menghadapi fitnah. Warga NU dianggap sebagai pelaku kejahatan. Padahal kita adalah korban. Saat itu kita melakukan pembelaan diri dari serangan PKI, kata As’ad saat membuka kegiatan tahlilan untuk para kiai dan santri yang menjadi korban serangkaian pemberontakan PKI, di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Senin (1/10).
As’ad juga mengingatkan kepada semua pihak, agar memahami sejarah secara utuh. Tidak sepotong-sepotong. Sebab pemahaman sejarah yang hanya dengan membaca potongan fragmen akan melahirkan pemahaman menyimpang. Bahkan bisa memutar balikkan fakta sebuah peristiwa. Hal itulah yang kini sedang terjadi di tengah bangsa ini, dalam memahami pemberontakan PKI.
 “Dalam pandangan sejarah kontemporer,  PKI hanya dianggap  membuat manuver politik pada peristiwa 1965. Itu pun tak sepenuhnya diakui. Peristiwa itu diputarbalikkan faktanya, bahwa seolah peristiwa berdarah itu adalah manuver TNI Angkatan Darat,” Tandasnya.
Padahal, lanjut As’ad, PKI melakukan pemberontakan secara sporadis dan sistematis sejak tahun 1926, kemudian dilanjutkan pemberontakan Madiun pada tahun 1948, dan berlanjut lagi pada tahun 1965. “Semua peristiwa itu adalah kesatuan sejarah yang saling terkait. Para pelakunya saling berhubungan. Tujuan utamanya adalah bagaimana mengkomuniskan Indonesia, dengan mengorbankan para Ulama dan aparat negara,” ujarnya.
Dalam rangkaian peristiwa itu, kata As’ad, banyak kiai dibunuh, pesantren, madrasah dan masjid dibakar.   Ia menguraikan, misalnya pada pemberontakan di Madiun 1948, ratusan kiai, pemimpin tarekat dan santri dibantai secara keji. Lalu pada sebuah pertemuan di Surabaya, tahun 1965, ratusan kader Gerakan Pemuda Ansor diracun. “Anehnya kini  fakta sejarah itu diputar balikkan. PKI yang selama ini melakukan kekejaman, diubah menjadi korban kekejaman aparat. Lalu mereka melakukan berbagai manuver melalui Amnesti Internasional dan Mahkamah Internasional, termasuk Komnas HAM. Kita harus meluruskan sejarah. Komnas HAM juga jangan pura-pura tak tahu dengan semua peristiwa ini,” tandasnya.
PBNU, kata As’ad juga mengajak seluruh warga negara Indonesia wapada dan tak mudah pecaya pada berbagai propaganda yang bertujuan mengadu domba anak bangsa. “Kalau diperlukan, Mari kita islah, saling memberi maaf. Demi membangun Indonesia yang utuh, tanpa diskriminasi, NU bersedia memaafkan PKI. Hal ini juga sudah dirintis oleh K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang saat menjabat presiden, beliau telah memulihkan hak-hak sosial mereka,” ujarnya.
Hal senada diungkap K.H Syaifudin Anshori, salah satu saksi sejarah keganasan PKI di Jakarta. Ia mengungkapkan, ada sejumlah pihak yang kini berupaya memutar balikkan sejarah. “Sekarang banyak sejarah yang dibentuk. Para penulis sejarah itu bukan menelusuri sejarah, tapi membentuk opini sejarah baru. Jika mau jujur, ada sebuah buku karangan sejarawan asing yang menyebutkan bahwa korban kekejaman PKI itu mencapai jutaan orang. Penulis itu dulu lama tinggal di Jakarta, dan menyaksikan langsung peristiwa tersebut,” ujarnya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…