Langsung ke konten utama

Cak Nun, Gus Dur dan Mauidzah Hasanah

Tanpa maksud mengkultuskan, saya akan tuliskan lagi sejumlah cerita tentang K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kali ini tentang muasal istilah 'Mauidzah Hasanah' yang kerpa jadi padanan kata ceramah. Cerita ini disampaikan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dalam acara Kenduri Cinta di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jumat (12/10) lalu. Sambil menulis catatan ini, saya berpikir, kenapa nama Gus Dur selalu disebut dalam berbagai obrolan ringan di warung kopi, kajian, sampai seminar-seminar seputar budaya, kebangsaan, dan keindonesiaan.
Cak Nun bercerita tentang sebuah perhelatan besar yang digelar di Pesantren Tambak Beras, Jawa Timur, entah di tahun berapa. Saat itu, kata Cak Nun, orasi politik yang disampaikan oleh Nurcholis Madjid (Cak Nur), menyinggung pemerintah Orde Baru. Sejumlah tentara yang hadir langsung merapat ke panggung dan hendak membubarkan acara. Selain Cak Nur, Gus Dur dan Megawati Soekarno Puteri juga hadir dalam acara tersebut.
"Melihat tentara merangsek ke panggung, Massa yang berasal dari PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia,red) GP Ansor (Gerakan Pemuda Ansor) dan para santri langsung teriak takbir, Allahu Akbar," kata Cak Nun, sambil mengkritik kebiasaan massa di negeri ini yang menyebut nama Tuhan dengan nada tinggi dan penuh emosi.
Cak Nun lalu menenangkan massa, dan meminta waktu untuk bernegosiasi dengan para tentara. "Saya bilang ke tentara, baik acara akan dibubarkan, Bapak tenang dulu, saya akan bicara dengan Gus Dur, Mbak Mega dan Cak Nur. Karena mereka yang menjadi tamu dalam acara ini. Saya juga akan menenangkan massa," kata Cak Nun, kepada pimpinan rombongan tentara itu.
Kiai Mbeling ini lalu meminta Gus Dur, Mega dan Caknur untuk mengikuti skenarionya, tanpa protes. Ia berjanji acara akan tetap berlanjut. "Saya bilang Jenengan semua diam saja, biar saya yang atur acara ini. Lalu saya naik mimbar, dan menyampaikan bahwa tentara akan bicara sebentar," katanya, dan Massa pun kemudian diam.
Tentara itu mengumumkan perintah pembubaran acara. Usai membacakan surat perintah pembubaran acara, Caknun, konon meminta sang tentara rehat sejenak di tempat yang tak jauh dari panggung. "Saya naik mimbar lagi. Saya bilang, baiklah para hadirin, kegiatan tadi telah dibubarkan, sekarang kita buat acara baru. Saya melirik ke Gus Dur, acaranya apa Gus? tanya saya. Gus Dur menjawab acaranya Mauidzatul Hasanah. Sejak saat itulah pertama kali penyebutan istilah Mauidzah Hasanah, diperkenalkan untuk mengganti istilah ceramah, yang sering dicurigai pemerintah," kata Cak Nun.
Acara di Tambak Beras itu kemudian dilanjutkan, Cak Nur kembali ceramah, dan tentara itu dijamu sedemikian rupa oleh Cak Nun dan panitia, sehingga lupa pada tugasnya untuk membubarkan ceramah umum itu.
*kalau mau komplain tentang cerita ini, komplain ke Cak Nun ya,"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…