Langsung ke konten utama

Sisi Lain Munas NU II

HIPSI dan Entrepeneurship Pesantren

“Wahai pemuda putra bangsa yang cerdik, cerdas dan para ustadz yang mulia, mengapa tidak kau dirikan saja satu badan ekonomi yang berkoperasi, di mana setiap kota terdapat satu badan usaha yang otonom,” K.H Hasyim Asy’ari, Deklarasi Nahdlatut Tujjar  (Kebangkitan Saudagar) 1918.
---
Selain menampilkan sejumlah lembaga , badan otonom Nahdlatul Ulama dan berbagai karya serta kinerjanya, stand bazar di acara Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar  (Munas dan Konbes NU), di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon,  juga diisi oleh promosi sejumlah perusahaan.
Dari sejumlah stand itu,  ada sebuah stand menawarkan pisang arania, lele sangkuriang disertai promosi e-commerce tokonu.com. Stand itu mengukuhkan eksistensi Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (Hipsi) yang kini bernaung di bawah Rabithah Ma’had Islamiah (RMI) NU.
Hipsi yang pertamakali dibentuk di Surabaya bermula dari keprihatinan sekelompok santri yang kuliah di Institut Tekhnologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), atas meredupnya semangat kewirausahaan kaum pesantren.
“Padahal,  keberadaan NU tak pernah terlepas dari lembaga Nahdlatut Tujjar (kebangkitan pedagang), Nahdlatul Wathan (kebangkitan tanah air) dan Tashwirul Afkar (gerakan kaum pemikir). Bahkan di awal pergerakannya, hingga tahun 1960-an, kaum santri sebagai basis utama NU,  masih menguasai sektor perdagangan,” papar Mohammad Ghozali, Ketua Umum Hipsi, Minggu (15/9).
Ghozali dan kawan-kawan berpendapat,  semangat kewirausahaan di kalangan pesantren harus kembali dibangkitkan, setelah meredup akibat represi orde baru, dan kapitalisme global. Pesan Kiai Hasyim Asy’ari yang mendorong kaum muda untuk membentuk lembaga ekonomi yang independen, pada tahun 1918 lalu harus diimplementasikan.
Dengan jargon “saatnya santri bersatu membangun negeri,” mereka mencoba meretas kembali semangan wira usaha yang didengungkan para ulama, melalui Hipsi yang dibentuk sejak tahun 2002 lalu, Ghozali dan kawan-kawan telah membina ratusan santri di seratus pesantren, di seantero jawa dan sumatera.
“Visi kami adalah mencetak satu juta santri pengusaha, dan melahirkan pengusaha besar nasional dari pesantren,” tandasnya.
Meski belum diakui secara resmi oleh NU, Hipsi, kata Ghozali telah membulatkan tekad untuk menumbuhkan klaster pengusaha kecil dan menengah yang memiliki nilai tambah, bersinergi dan bermartabat.
“23 ribu pondok pesantren yang tergabung dalam RMI merupakan potensi besar yang bias dikembangkan untuk melahirkan jutaan pengusaha local dari kalangan pesantren,” ujarnya.
Perlunya membina kewirausahaan para santri, menurut Ghozali dilakukan untuk menjawab tantangan dunia global yang kini tak hanya mensyaratkan ijazah dan penguasaan teori keagamaan di tengah kehidupan yang materialistik.
“ Kami telah mengadakan workshop di ratusan pesantren berdasarkan cluster potensi ekonomi yang kita survey. Kami juga mengadakan pelatihan keterampilan web desain untuk mempermudah para pengusaha santri dalam mempromosikan produknya,” papar Ghizali.
Tak hanya itu, pada bulan Juli lalu, Hipsi menghelat entrepreneur camp, untuk menyatukan visi para santri yang terjun di dunia usaha, agar mau membantu sesame dan mempertajam ideology kepesantrenan, serta memperluas jaringan usaha mereka.
“Kami mengedepankan kejujuran, keadilan, profesionalitas, kerja cerdas, serta menjunjung tinggi norma agama, kesusilaan, kesopanan, dan hokum,” ujarnya.
Upaya kaum muda pesantren itu mendapat sambutan dari para kiai pengasuh pesantren di Kempek, Cirebon. Kiai Ahmad Ade Idris, pengasuh Pondok Pesantren Alidrisiyah mengungkapkan, NU perlu generasi muda kreatif, untuk mengimplementasikan sejumla misi social NU.
“yang terpenting dari NU saat ini adalah manajerial, kedisiplinan dan komitmen para pengurusnya. Agar umat tak lagi sekedar dijadikan obyek politis, tetapi dijadikan mitra untuk bangkit bersama,” ujarnya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…