Langsung ke konten utama

Sisi Lain Munas NU I

Beralihnya Referensi Bahtsul Masail, dari Kitab Kuning, ke Kitab Digital

Ada yang beda dari Bahtsul Masail NU dalam  Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas dan Konbes NU) tahun ini. Biasanya dalam setiap bahtsul masail, para kiai membawa setumpuk kitab kuning dan berbungkus-bungkus rokok.
Kali ini, suasana di ruangan bahtsul masail terlihat lebih tertib, layaknya siding anggota parlemen. Meja berjejeran, asap rokok tak terlalu banyak mengepul, dan tak terlihat lagi kitab bertumpuk atau berserakan di area Bahtsul Masail.
Meski begitu, suasana di area munas yang membahas Sembilan hal penting terkait bangsa ini, tetap panas  dengan perdebatan. Para kiai beradu argument dengan dalil-dalil keagamaan yang fasih. Kiai-kiai muda tak segan membantah pernyataan kiai tua. Ratusan dalil dari kitab-kitab klasik tetap bertebaran dari pendapat para kiai. Bahkan hingga waktu rehat tiba, para kiai masih aktif berdebat sambil sesekali memandangi netbooknya.
Dari mana para kiai itu mengutip dalil-dalil kitab klasik dan saling memverifikasi pendapat kiai lainnya? Ternyata, netbook yang berada di hadapan para kiai itu berisi ribuan kitab klasik digital yang telah dipersiapkan panitia Munas.
“Pada saat pra munas, panitia menyediakan ribuan kitab digital, yang dirangkum dalam hardisk. Ribuan kitab itu seberat satu tera (seribu giga,red,)” ungkap anggota Raisy Syuriah PB NU K.H Isomudin membocorkan rahasia kefasihan dalil para kiai.
Ribuan kitab klasik yang disimpan dalam hardisk berkekuatan satu tera itu, menurut Isom dijual oleh panitia senilai Rp 1,8 juta. “Ya ini lebih praktis. Daripada kita mendownload sendiri kan lama,” ujarnya.
Meski praktis, menurut Isom,  membaca kitab kuning jauh lebih nikmat, ketimbang membaca kitab digital. “Kalau di netbook kita gak bias mencoret dan memberi makna. Di kitab kan kita bias mencoret dan membuka lembaran kitab kuning itu, sungguh indah rasanya,” katanya bernostalgia.
Selain itu, kata Isom, isi dari kitab digital itu banyak yang harus diverifikasi ulang. Sebab tak jarang kitab-kitab digital itu ada yang tak lengkap isinya, atau bahkan dirubah isinya. “Mendownload jug harus hati-hati. Sebab banyak situs yang menyediakan kitab digital itu justru malah menyesatkan isinya. Biasanya kelompok wahabi yang tega merubah isi kitab,” ujarnya.
Karenanya, PBNU berencana menyampaikan persoalan ini kepada Raja Arab Saudi dalam pertemuan yang akan dilakukan PBNU dan Kerajaan Arab Saudi, beberapa bulan mendatang. “Kami akan bahas ini. Ini persoalan serius. Banyak kitab para ulama yang dirubah isinya hanya untuk kepentingan memaksakan ideologi. Ini merusak,” katanya.
Menjelang magrib, sidang bahtsul masail ditunda. Sejumlah kiai pun ke luar ruangan. Di luar, mereka bersalaman. “Maaf ya kiai, tadi saya membentak-bentak,” kata seorang kiai dari Jawa Timur.  “Tak apa, saya juga minta maaf, tadi sempat ngotot. Tapi ini biasa dalam peredebatan ilmiah,” kata kiai lainnya.

Dalam Munas kemarin, siding bahtsul masail dibagi menjadi tiga komisi. Komisi A membahas masalah waqi’iyah atau isu-isu kekinian, Komisi B membahas soal Maudu’iyah atau tematik, dan Komisi C membahas Qanuniyah.
Sementara Konbes juga dibagi tiga komisi. Masing-masing membahas Keorganisasian, Evaluasi Program, dan Rekomendasi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…