Langsung ke konten utama

Nusron Wahid: Gus Dur Personifikasi Kumbakarna






Peringatan haul seribu hari K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) akan terasa istimewa. Menggandeng Bank Indonesia, Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor)  akan menggelar serangkaian kegiatan untuk mengenang tokoh pluralisme itu. Diantaranya gelar budaya di Taman Ismail Marzuki (TIM) dan wayangan semalam suntuk di kediaman Gus Dur Ciganjur.
Ketua Umum PP GP Ansor Nusron Wahid menjelaskan, rangkaian kegiatan kebudayaan berupa pementasan wayang kulit, Solawatan dan Tahlil Akbar itu dihelat untuk mengenang perjuangan dan ajaran-ajaran Gus Dur yang harus diteladani anak-anak muda.
“Wayang kulit itu akan digelar di kediaman Gus Dur, di Jalan warung Sila 10, Ciganjur, pada Rabu (26/9) malam. Wayang kulit itu akan dibeber oleh dalang Ki Enthus Susmono, dengan lakon Kumbakarno Gugur,” kata Nusron, saat berbincang soal Gus Dur.
Kata Nusron, lakon Kumbakarno sengaja dipilih, lantaran menurut Nusron, sosok Gus Dur merupakan  personifikasi Arya Kumbakarna, seorang patih Kerajaan Alengka, dalam serial wayang Rama Shinta.
“Kita ingin meneladani semangat yang dibangun Gus Dur. Semangat patriotisme, multikulturalisme, dan idealisme beliau dalam menebar kedamaian di negeri ini,” tandas Nusron.
Dalam cerita pewayangan, Kumbakarna menjadi salah satu tokoh sentral dalam peperangan antara Ramayana melawan Rahwana, karya Resi Walmiki dari India. Kumbakarna diceritakan sebagai tokoh yang idealis, dan hidup asketik, di tengah gelimangan harta benda. Kumbakarna kerap menjadi simbol kesaktian, kegagahan, kejujuran dan keberanian. Selama hidupnya, Kumbakarna mencontohkan hidup sederhana, dan teguh terhadap prinsip, meskipun ia hidup di tengah lingkungan yang penuh angkara murka, ketidak adilan, bergelimnagan korupsi dan kesewenanga-wenangan rezim berwatak Rahwana.  
“Gus Dur adalah sosok yang memegang teguh prinsip. Beliau sangat idealis. Hari ini kita merindukan sosok macam Gus Dur. Lakon Kumbakarna digelar agar anak-anak muda Indonesia bisa melihat Gus Dur secara utuh,” ujarnya.
Kumbakarna juga dikisahkan berwatak kritis, dan berani. Ia sering menasihati dan mengkritisi Rahwana, yang lalim. Kumbakarna tak gentar melawan kekejaman Raja Sejumlah sifat positif Kumbakarna itu, menurut Nusron ada dalam diri Gus Dur. Bahkan, menurut mantan Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) itu, saat ini sulit mencari sosok sefenomenal Gus Dur. Jasa Gus Dur buat bangsa ini juga sangat besar. Sehingga mampu mencegah perpecahan bangsa ini pasca reformasi.
“Gus Dur adalah konsolidator ulung. Semangat silaturahminya perlu dilestarikan. Beliau menjembatani kiai dari pesantren ke pesantren. Maka dalam kesempatan ini, kami juga mengingatkan kembali kepada anak-muda, terutama anak muda NU di GP Ansor, supaya punya semangat konsolidasi,” tandasnya.
Selain menghelat pementasan wayang, GP Ansor menurut Nusron juga akan manghelat Tahlil dan Solawat Akbar yang dipimpin oleh K.H Mustofa Bisri (Gus Mus), Prof. K.H Qurais Sihab dan Habib Syekh  Abdul Qadir Assegaf. Peringatan seribu hari wafatnya Gus Dur itu juga akan dilakukan oleh para pengagum Gus Dur, dengan menghelat doa lintas iman dan pawai budaya di TIM pada Jumat (28/9). Panggung Budaya di TIM itu, kata Nusron akan diisi oleh sejumlah parade kesenian oleh  penampilan Glenn Fredly, Jaya Suprana, Kang Sobari, Zawawi Imron, Arswendo Atmowiloto, Inayyah Wahid, Agus Nuramal PMTOH, Paduan suara GKI, Marawis, Candra Malik, KH.Husein Muhammad, Imam Malik, Dibyo Primus.
"Tahlilan digelar pada Kamis (27/9) malam,  dipimpin Habib Syekh Abdul Qodir Assegaf dari Solo. Untuk pengisi tausiah KH Musthofa Bisri, KH Quraish Shihab,” paparnya. mm

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…