Langsung ke konten utama

Mengulas Sufisme Gus Dur




Dari Asketisme, Hingga Pengakuan Dosa dari Seorang yang Memusuhinya

Perdebatan tentang sufisme K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), tak hanya terjadi di kalangan muslim. Sejumlah kalangan non muslim juga ternyata kerap berdebat tentang sikap hidup Gus Dur yang asketik, egaliter, menebar kasih terhadap sesama dan kemungkinan surga menerima beliau.

Abdul Malik Mughni (Tan Malika)


Jaya Suprana, seorang penulis, humorolog sekaligus antropolog yang beragama keristen bercerita tentang perdebatan sejumlah pendeta pasca wafatnya Gus Dur.  Perdebatan sufisme meruncing ketika Gus Dur meninggal. Saya bertanya pada pendeta, bisakah  Gus Dur masuk surga? kata Jaya dalam bedah buku Sang Zahid; Mengarungi Sufisme Gus Dur, karya K.H Hussein Muhammad, di kantor Wahid Isntitute, Selasa (25/9).
Pendeta, kata Jaya, dengan tegas menjawab bahwa Gus Dur pasti masuk neraka, sebab Gus Dur tak mengakui ketuhanan Yesus. Jaya dan sejumlah pendeta lain sebenarnya tahu prasyarat masuk surga dalam agama kristen adalah pengakuan terhadap Yesus. Tetapi Jaya mengaku penasaran. Sebab selama hidupnya, Gus Dur mengamalkan ajaran kasih sayang terhadap sesama. Pengorbanan Gus Dur bagi sesama, menurut  Jaya, sangatlah besar dan layak diganjar surga.
Pendeta tetap ngotot bahwa Gus Dur tak mungkin masuk surga. Maka saya jawab. Baiklah kalau begitu, saya lebih baik masuk neraka menemani Gus Dur, ketimbang masuk surga bersama kalian, tandas Jaya. Pengakuan unik itu spontan membuat para hadirin tertawa, sekaligus terharu.
Dalam kesempatan itu, Jaya juga mengungkap permohonan penyesalannya atas kemunculan Film Innocence of Moslem, yang menurutnya merupakan film tak berkualitas, dan menistakan kesucian Nabi Muhammad.
Sebagai sahabat Gus Dur, Jaya mengaku sangat kehilangan sosok yang selama ini dianggap sebagai guru dan teladan hidupnya. Tapi sebagai humorolog, Jaya berhasil meramu kesedihannya dalam guyonan khas Gusdurian. Saya kehilangan Gus Dur. Sebagai seorang guru, saya sering bertanya pada Gus Dur, apa itu sufi.  Maka ketika Gus Dur wafat, saya bertanya-tanya.  Jangan-jangan Gus Dur wafat karena saya terlalu sering bertanya tentang apa itu sufi. Gus Dur mungkin tak mau kelihatan kesufiannya, kata Jaya seraya mengungkap bahwa sufisme merupakan pemahaman keagamaan yang melampaui agama itu sendiri. Beyond religion.
Dalam bedah buku yang berlangsung selama tiga jam itu, Kiai Hussein, sang penulis buku Sang Zahid, mengungkap sejumlah pengalamannya berdekatan dengan Gus Dur. Bagi Hussein, sikap hidup Gus Dur layak diteladani dan sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad, yang menekankan ummatnya untuk bersikap sederhana, dan tak menggantungkan diri pada duniawi. 
Gus Dur menghayati kesederhanaan dan mementingkan pemberian bagi orang lain. Sebagai seorang yang zahid, Gus Dur  tak pernah menceritakan kepada siapapun soal rizki yang sudah dibagikannya untuk mereka yang memerlukannya, kecil maupun besar. Gus Dur, saya yakin, selalu tak ingin membuat orang yang memintanya kecewa atau pulang ke rumahnya dengan wajah duka dan tangan yang tak bawa apa-apa, paparnya.
Sementara, K.H Lukman Hakim, Pemimpin Redaksi Majalah Sufi dalam paparanya mengulas keberanian Gus Dur, dan berbagai wacana yang dilontarkannya merupakan anugerah Allah. Kita Sebagai pengagum beliau, mempelajari wacana beliau, sulit meneladani beliau seutuhnya. Mengenai  derajat wali adalah hak prerogatif Tuhan.
Tapi dalam hal zuhud, Gus Dur berhasil melepaskan diri dari cinta dunia, ujarnya.
Dalam diskusi itu juga seorang kiai yang Menjabat Ketua Umum Lajnah Tanfidziyah Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dan pembina Pertahanan Ideologi Syarikat Islam (Perisai) K.H Muhammad E Irmansyah mengaku sempat salah memahami Gus Dur.
Saya Muhammad Hermansyah, ketua syarekat Islam. Saya ingin membuat pengakuan dosa. Saya pernah membenci Gus Dur. Saya kenal dengan keluarga Gus Dur, tapi terus terang saya ada tabir dengan Gus Dur karena ajaran pluralisme beliau, ungkapnya.
Ia mengaku pernah mendiskreditkan Gus Dur dalam sejumlah ceramahnya. Sebagai pengamal syariah, ia pernah tak sepaham dengan konsep pluralisme Gus Dur. Tapi setelah memahami lebih lanjut, bertahun kemudian, ia mengaku terkesan dengan sikap dan ajaran Gus Dur. Saya merasa berdosa. Ternyata pluralisme yang diajarkan Gus Dur tak bertentangan dengan syariat Islam. Bahkan itulah ajaran nabi yang mengajarkan pentingnya kasih sayang bagi sesama. Ternyata yang tak sepaham dengan Gus Dur, itu karena belum mencapai pada maqamnya saja, katanya seraya mengutip beberapa hadist, dan ayat al-Quran yang mendukung konsep pluralisme Gus Dur.
Ia mengaku semakin terkesan kepada Gus Dur, ketika ia menemui Gus Dur saat menjabat sebagai Presiden. Sikap sederhana Gus Dur masih melekat dalam ingatannya hingga sekarang. Karenanya kemudian ia kini berguru tasawwuf kepada K.H Lukman Hakim, yang notabene merupakan murid Gus Dur. Saya pernah beberapa kali bertemu presiden, tapi belum pernah bertemu presiden di kamar tidurnya. Saya merasa kecil sekali, ketika Gus Dur dengan santai menerima saya di kamar tidurnya. Betapa beliau telah menghilangkan sekat duniawi, tandasnya.

Komentar

sewa mobil jakarta mengatakan…
Gus Dur is the best deh!!!
Nurul Qadri mengatakan…
Gusdur sosoknya membuat kehidupan lebih ceria

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…