Langsung ke konten utama

Inayah Wahid: Gus Dur Mengajarkan Pentingnya Proses




Ketokohan Gus Dur) dan beragam kontroversi yang mengiringinya, memberi arti tersendiri bagi puteri bungsu Gus Dur, Inayah Wulandari Wahid.  Semasa Gus Dur menjadi presiden, Inay, begitu ia disapa, kerap tampil mendampingi Gus Dur. Gaya rambutnya yang saat itu sering dicat dengan beragam warna, diakui Inay kerap menuai teguran dari orang-orang dekat Gus Dur.
Tapi Bapak (Gus Dur,red) tak pernah marah. Beliau selalu mengajarkan kebebasan berkepresi tapi tetap harus bertanggung jawab. Saat itu Bapak tanya kamu siap nanti bakal dikecam, saya bilang siap. Beliau hanya tertawa, kata Inay.
Hal lain yang berkesan dari sang ayah, menurut Inay adalah kesadaran tentang pentingnya proses ketimbang hasil. Hal inilah yang menurut Inay harus diteladani anak-anak muda Indonesia. Bapak mengajarkan perlunya proses. Bahwa prinsip hidup harus dipegang teguh. Meskipun banyak kendala menghadang, ujarnya.
Sebagai puteri kandung termuda, Inay juga terkesan dengan keberanian Gus Dur melawan arus, demi mempertahan idealismenya. Gus Dur, yang semasa hidupnya kerap dihadang berbagai kendala, tapi tetap bersemangat. Anak-anak muda harus meniru hal ini. Bahwa sebuah mimpi sesulit apapun harus diperjuangkan. Jangan karena lingkungan rusak, kita lalu ikut arus. Kita harus berani mempertahankan idealisme, tandasnya.
Sebelum mengakhiri perbincangan, Inay juga mengungkapkan rencananya untuk menekuni dan melestarikan tradisi gamelan jawa. Dalam acara panggung budaya pada peringatan haul Gus Dur, Jumat (27/9) nanti di Taman Ismail Marzuki, ia akan menunjukkan kepiawainnya bermain gamelan.
Ada cerita unik dibalik gamelan itu. Sebelum ia belajar gamelan, kakak ipar Inay, Dzohir Al-farisi (suami dari Yenni wahid, kakak kandung Inay,red) mimpi bertemu Gus Dur. Kata Bapak, mainkan gamelannya biar ibu senang. Mas Dzohir lalu mencari-cari gamelan itu, yang tersimpan di gudang. Lalu Mas Dzohir menawari saya, mau main gamelan? Saya jelas mau. Sebab sehari sebelumnya saya juga berpikir bahwa gamelan perlu dilestarikan, paparnya. mm 



Komentar

Dewanto Sinurat mengatakan…
kita rindu tokoh tokoh yang apa adanya kayak gusdur ,udah ada sih jokowi ahok cuma kita perlu banyak agar dapat merubah bangsa ini

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…