Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2012

Inayah Wahid: Gus Dur Mengajarkan Pentingnya Proses

Ketokohan Gus Dur) dan beragam kontroversi yang mengiringinya, memberi arti tersendiri bagi puteri bungsu Gus Dur, Inayah Wulandari Wahid. Semasa Gus Dur menjadi presiden, Inay, begitu ia disapa, kerap tampil mendampingi Gus Dur. Gaya rambutnya yang saat itu sering dicat dengan beragam warna, diakui Inay kerap menuai teguran dari orang-orang dekat Gus Dur. “Tapi Bapak (Gus Dur,red) tak pernah marah. Beliau selalu mengajarkan kebebasan berkepresi tapi tetap harus bertanggung jawab. Saat itu Bapak tanya kamu siap nanti bakal dikecam, saya bilang siap. Beliau hanya tertawa,” kata Inay. Hal lain yang berkesan dari sang ayah, menurut Inay adalah kesadaran tentang pentingnya proses ketimbang hasil. Hal inilah yang menurut Inay harus diteladani anak-anak muda Indonesia. “Bapak mengajarkan perlunya proses. Bahwa prinsip hidup harus dipegang teguh. Meskipun banyak kendala menghadang,” ujarnya. Sebagai puteri kandung termuda, Inay juga terkesan dengan keberanian Gus Dur melawan arus, demi mempert…

Nusron Wahid: Gus Dur Personifikasi Kumbakarna

Peringatan haul seribu hari K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) akan terasa istimewa. Menggandeng Bank Indonesia, Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor)akan menggelar serangkaian kegiatan untuk mengenang tokoh pluralisme itu. Diantaranya gelar budaya di Taman Ismail Marzuki (TIM) dan wayangan semalam suntuk di kediaman Gus Dur Ciganjur. Ketua Umum PP GP Ansor Nusron Wahid menjelaskan, rangkaian kegiatan kebudayaan berupa pementasan wayang kulit, Solawatan dan Tahlil Akbar itu dihelat untuk mengenang perjuangan dan ajaran-ajaran Gus Dur yang harus diteladani anak-anak muda. “Wayang kulit itu akan digelar di kediaman Gus Dur, di Jalan warung Sila 10, Ciganjur, pada Rabu (26/9) malam. Wayang kulit itu akan dibeber oleh dalang Ki Enthus Susmono, dengan lakon Kumbakarno Gugur,” kata Nusron, saat berbincang soal Gus Dur. Kata Nusron, lakon Kumbakarno sengaja dipilih, lantaran menurut Nusron, sosok Gus Dur merupakanpersonifikasi Arya Kumbakarna, seorang patih Kerajaan Alengka, dalam serial wayang Rama …

Pengakuan 'Musuh' Gus Dur

Ada yang menarik dalam diskusi buku Sang Zahid; Mengarungi Sufisme Gus Dur, sore tadi di Wahid Institute. Seorang kiai yang menjabat Ketua Umum Lajnah Tanfidziyah Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dan pembina Pertahanan Ideologi Syarikat Islam (Perisai) K.H Muhammad E Irmansyah mengaku sempat salah memahami Gus Dur.
“Saya Muhammad Hermansyah, ketua syarekat Islam. Saya ingin membuat pengakuan dosa. Saya pernah membenci Gus Dur. Saya kenal dengan keluarga Gus Dur, tapi terus terang saya ada tabir dengan Gus Dur karena ajaran pluralisme beliau,” ungkapnya.
Ia mengaku pernah mendiskreditkan Gus Dur dalam sejumlah ceramahnya. Sebagai pengamal syariah, ia pernah tak sepaham dengan konsep pluralisme Gus Dur. Tapi setelah memahami lebih lanjut, bertahun kemudian, ia mengaku terkesan dengan sikap dan ajaran Gus Dur. “Saya merasa berdosa. Ternyata pluralisme yang diajarkan Gus Dur tak bertentangan dengan syariat Islam. Bahkan itulah ajaran nabi yang mengajarkan pentingnya k…

Mengulas Sufisme Gus Dur

Dari Asketisme, Hingga Pengakuan Dosa dari Seorang yang Memusuhinya
Perdebatan tentang sufisme K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), tak hanya terjadi di kalangan muslim. Sejumlah kalangan non muslim juga ternyata kerap berdebat tentang sikap hidup Gus Dur yang asketik, egaliter, menebar kasih terhadap sesama dan kemungkinan surga menerima beliau.
Abdul Malik Mughni (Tan Malika)

Jaya Suprana, seorang penulis, humorolog sekaligus antropolog yang beragama keristen bercerita tentang perdebatan sejumlah pendeta pasca wafatnya Gus Dur.“Perdebatan sufisme meruncing ketika Gus Dur meninggal. Saya bertanya pada pendeta, bisakahGus Dur masuk surga?” kata Jaya dalam bedah buku Sang Zahid; Mengarungi Sufisme Gus Dur, karya K.H Hussein Muhammad, di kantor Wahid Isntitute, Selasa (25/9). Pendeta, kata Jaya, dengan tegas menjawab bahwa Gus Dur pasti masuk neraka, sebab Gus Dur tak mengakui ketuhanan Yesus. Jaya dan sejumlah pendeta lain sebenarnya tahu prasyarat masuk surga dalam agama kristen adalah peng…

Sisi Lain Munas NU III

Musyawarah Nasional NU tak hanya menjadi ajang silaturahim para ulama pesantren. Munas NU di Pondok Pesantren Kempek yang baru berakhir malam ini juga menjadi ajang pertemuan kaum muda NU. Termasuk para aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Sebagai anak budaya dari NU, PMII, dan jaringan alumninya berkomitmen mengawal gerakan para ulama. Dalam perjalanan menuju Cirebon bersama Ketua Umum  Pengurus Besar PMII Addin Jauharuddin, Ketua Kaderisasi Nasional PMII, Ketua Penataan Aparatur Organisasi PMII, Luhamul Amani, dan anggota Biro Hukum dan HAM PB PMII, Huda Kalimullah, terjadi perdebatan hangat seputar rencana PBNU untuk mereview UU Pemda, dan prosesi pemilukada yang dinilai merusak tatanan sosial masyarakat. Dari diskusi sepanjang perjalanan itu, disimpulkan bahwa PB PMII akan melakukan judicial review (uji materi) terhadap UU 18/2008, tentang  Pemda kepada Mahkamah Konstitusi (MK). Uji materi tersebut menurut Addin,  dilakukan sebagai langkah lanjutan untuk mendukung has…

Sisi Lain Munas NU II

HIPSI dan Entrepeneurship Pesantren
“Wahai pemuda putra bangsa yang cerdik, cerdas dan para ustadz yang mulia, mengapa tidak kau dirikan saja satu badan ekonomi yang berkoperasi, di mana setiap kota terdapat satu badan usaha yang otonom,” K.H Hasyim Asy’ari, Deklarasi Nahdlatut Tujjar  (Kebangkitan Saudagar) 1918. --- Selain menampilkan sejumlah lembaga , badan otonom Nahdlatul Ulama dan berbagai karya serta kinerjanya, stand bazar di acara Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar  (Munas dan Konbes NU), di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon,  juga diisi oleh promosi sejumlah perusahaan. Dari sejumlah stand itu,  ada sebuah stand menawarkan pisang arania, lele sangkuriang disertai promosi e-commerce tokonu.com. Stand itu mengukuhkan eksistensi Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (Hipsi) yang kini bernaung di bawah Rabithah Ma’had Islamiah (RMI) NU. Hipsi yang pertamakali dibentuk di Surabaya bermula dari keprihatinan sekelompok santri yang kuliah di Institut Tekhnologi Sepuluh Nopember…

Sisi Lain Munas NU I

Beralihnya Referensi Bahtsul Masail, dari Kitab Kuning, ke Kitab Digital
Ada yang beda dari Bahtsul Masail NU dalam  Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas dan Konbes NU) tahun ini. Biasanya dalam setiap bahtsul masail, para kiai membawa setumpuk kitab kuning dan berbungkus-bungkus rokok. Kali ini, suasana di ruangan bahtsul masail terlihat lebih tertib, layaknya siding anggota parlemen. Meja berjejeran, asap rokok tak terlalu banyak mengepul, dan tak terlihat lagi kitab bertumpuk atau berserakan di area Bahtsul Masail. Meski begitu, suasana di area munas yang membahas Sembilan hal penting terkait bangsa ini, tetap panas  dengan perdebatan. Para kiai beradu argument dengan dalil-dalil keagamaan yang fasih. Kiai-kiai muda tak segan membantah pernyataan kiai tua. Ratusan dalil dari kitab-kitab klasik tetap bertebaran dari pendapat para kiai. Bahkan hingga waktu rehat tiba, para kiai masih aktif berdebat sambil sesekali memandangi netbooknya. Dari mana para kiai…