Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2012

Ansor Menunggu Janji Tempo

*Catatan Diskusi Tabayyun Kebangsaan, GP Ansor. 
Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor Nusron Wahid mengungkapkan perlunya sikap arif umat islam, khususnya  para anggota GP Ansor dalam menanggapi pemberitaan soal Algojo 1965 yang dimuat sebuah majalah mingguan pada pekan lalu.
“Diskusi ini hanya upaya tabayun. Kami tak akan melakukan dmos terhadap majalah itu. Karena kami menghargai kemerdekaan pers. Tapi kami juga minta media tersebut bersikap arif. Kami menunggu janji mereka untuk memberikan hak jawab dan kelarifikasi serta permohonan maaf mereka,” kata Nusron dalam sarasehan kebangsaan berthema "Mengingat Kembali Pemberontakan PKI Tahun 1948 - 1965" yang diselenggarakan PP GP Ansor di kantor pusat GP Ansor, Senin malam (15/10).
Nusron menyesalkan munculnya pemberitaan yang menyudutkan para kiai, pesantren, GP Ansor, dan umat Islam khususnya kalangan Nahdiyin. Pemberitaan tersebut menurut Nusron cenderung bias, dan tidak komprehensif. Upaya Rekonstruksi sejarah masa lalu seharusnya…

Distorsi Sejarah Merusak Rekonsiliasi

*catatan diskusi Tabayyun Kebangsaan GP Ansor (1)

Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi meminta warga NU, terutama kader Ansor untuk mewaspadai setiap gerakan yang berupaya melemahkan NU, salah satunya lewat pengungkapan kembali kasus PKI pada tahun 1965/1966. “Serangan terhadap NU kini dimulai dengan gerakan pelemahan NU,” kata Hasyim Muzadi pada acara Tabayyun Kebangsaan ; Pemberontakan PKI 1948/65 di mata NU/GP Ansor, di kantor PP GP Ansor, Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, Senin (15/10). Acara ini menampilkan pembicara Sejarawan Taufiq Abdullah, penulis dan pelaku sejarah Salim Said, mantan Ketua Umum PB NU KH Hasyim Muzadi, sesepuh Ansor KH Chalid Mawardi, Wakil Ketua Umum BBNU Asad Said Ali, mantan Ketua PW GP Ansor Jatim Choirul Anam, dan Wakil Komnas HAM Ahmad Baso. Hasyim Muzadi menegaskan, kerukunan  pernah dijalin antara kelompok anak-anak PKI, anak-anak pahlawan revolusi, anak-anak Kartosuwiryo dan anak-anak PRRI/permesta yang sebenarnya cukup …

Cak Nun, Gus Dur dan Mauidzah Hasanah

Tanpa maksud mengkultuskan, saya akan tuliskan lagi sejumlah cerita tentang K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kali ini tentang muasal istilah 'Mauidzah Hasanah' yang kerpa jadi padanan kata ceramah. Cerita ini disampaikan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dalam acara Kenduri Cinta di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jumat (12/10) lalu. Sambil menulis catatan ini, saya berpikir, kenapa nama Gus Dur selalu disebut dalam berbagai obrolan ringan di warung kopi, kajian, sampai seminar-seminar seputar budaya, kebangsaan, dan keindonesiaan.
Cak Nun bercerita tentang sebuah perhelatan besar yang digelar di Pesantren Tambak Beras, Jawa Timur, entah di tahun berapa. Saat itu, kata Cak Nun, orasi politik yang disampaikan oleh Nurcholis Madjid (Cak Nur), menyinggung pemerintah Orde Baru. Sejumlah tentara yang hadir langsung merapat ke panggung dan hendak membubarkan acara. Selain Cak Nur, Gus Dur dan Megawati Soekarno Puteri juga hadir dalam acara tersebut.
"Melihat tentara merang…

Pendekar Banten Serukan Anti Komunisme di Istana Negara

Ribuan warga yang tergabung dalam Presidum Front Aliansi Anti Komunisme (FAKS) yang terdiri dari elemen Asosiasi Pencak Silat Tradisional Banten Indonesia (APSTBI), Gerakan Pemuda Ansor, dan Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan Indonesia (FKPPI) dan Pemuda Pancasila menggelar aksi simpatik di depan Istana Negara. Mereka menyerukan kembali ideologi anti komunisme di Indonesia. Dalam aksinya, mereka menuntut agar Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) tak terjebak dalam strategi komunisme gaya baru dan membersihkan diri dari anasir atau antek komunis. “Permintaan Komnas HAM kepada Presiden RI agar meminta maaf atas peristiwa Gerakan 30 September PKI (G 30/S PKI), membuktikan bahwa Komnas HAM terjebak dan menjadi salah satu unsur pendukung dari strategi komunis gaya baru,” ujar salah satu peserta aksi dari GP Ansor, Achmad Edwin Solichin, Senin (1/10). Kata Edwin, Komnas HAM seharusnya bertindak proaktif dan tidak diskriminatif dengan melakukan kembali pendataan korban kebiadab…

Kontroversi Sejarah PKI

Kontroversi sejarah pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 30 September 1965, yang dikenal dengan istilah G/30 S PKI, atau Gerakan Satu Oktober (Gestok), semakin menyeruak dengan banyaknya versi sejarah tentang peristiwa kelam tersebut. Nahdlatul Ulama (NU) sebagai salah satu elemen bangsa yang turut menjadi korban keganasan PKI saat itu, tak mau tinggal diam dengan banyaknya versi sejarah tersebut. Terlebih, menurut Wakil Ketua Umum PBNU, K.H As’ad Sa’id Ali, belakangan ini muncul sejumlah literature yang mendiskreditkan warga NU yang turut serta dalam penumpasan PKI.   “NU sekarang sedang menghadapi fitnah. Warga NU dianggap sebagai pelaku kejahatan. Padahal kita adalah korban. Saat itu kita melakukan pembelaan diri dari serangan PKI, kata As’ad saat membuka kegiatan tahlilan untuk para kiai dan santri yang menjadi korban serangkaian pemberontakan PKI, di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Senin (1/10). As’ad juga mengingatkan kepada semua pihak, agar memahami sejarah secara…

Inayah Wahid: Gus Dur Mengajarkan Pentingnya Proses

Ketokohan Gus Dur) dan beragam kontroversi yang mengiringinya, memberi arti tersendiri bagi puteri bungsu Gus Dur, Inayah Wulandari Wahid. Semasa Gus Dur menjadi presiden, Inay, begitu ia disapa, kerap tampil mendampingi Gus Dur. Gaya rambutnya yang saat itu sering dicat dengan beragam warna, diakui Inay kerap menuai teguran dari orang-orang dekat Gus Dur. “Tapi Bapak (Gus Dur,red) tak pernah marah. Beliau selalu mengajarkan kebebasan berkepresi tapi tetap harus bertanggung jawab. Saat itu Bapak tanya kamu siap nanti bakal dikecam, saya bilang siap. Beliau hanya tertawa,” kata Inay. Hal lain yang berkesan dari sang ayah, menurut Inay adalah kesadaran tentang pentingnya proses ketimbang hasil. Hal inilah yang menurut Inay harus diteladani anak-anak muda Indonesia. “Bapak mengajarkan perlunya proses. Bahwa prinsip hidup harus dipegang teguh. Meskipun banyak kendala menghadang,” ujarnya. Sebagai puteri kandung termuda, Inay juga terkesan dengan keberanian Gus Dur melawan arus, demi mempert…

Nusron Wahid: Gus Dur Personifikasi Kumbakarna

Peringatan haul seribu hari K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) akan terasa istimewa. Menggandeng Bank Indonesia, Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor)akan menggelar serangkaian kegiatan untuk mengenang tokoh pluralisme itu. Diantaranya gelar budaya di Taman Ismail Marzuki (TIM) dan wayangan semalam suntuk di kediaman Gus Dur Ciganjur. Ketua Umum PP GP Ansor Nusron Wahid menjelaskan, rangkaian kegiatan kebudayaan berupa pementasan wayang kulit, Solawatan dan Tahlil Akbar itu dihelat untuk mengenang perjuangan dan ajaran-ajaran Gus Dur yang harus diteladani anak-anak muda. “Wayang kulit itu akan digelar di kediaman Gus Dur, di Jalan warung Sila 10, Ciganjur, pada Rabu (26/9) malam. Wayang kulit itu akan dibeber oleh dalang Ki Enthus Susmono, dengan lakon Kumbakarno Gugur,” kata Nusron, saat berbincang soal Gus Dur. Kata Nusron, lakon Kumbakarno sengaja dipilih, lantaran menurut Nusron, sosok Gus Dur merupakanpersonifikasi Arya Kumbakarna, seorang patih Kerajaan Alengka, dalam serial wayang Rama …

Pengakuan 'Musuh' Gus Dur

Ada yang menarik dalam diskusi buku Sang Zahid; Mengarungi Sufisme Gus Dur, sore tadi di Wahid Institute. Seorang kiai yang menjabat Ketua Umum Lajnah Tanfidziyah Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dan pembina Pertahanan Ideologi Syarikat Islam (Perisai) K.H Muhammad E Irmansyah mengaku sempat salah memahami Gus Dur.
“Saya Muhammad Hermansyah, ketua syarekat Islam. Saya ingin membuat pengakuan dosa. Saya pernah membenci Gus Dur. Saya kenal dengan keluarga Gus Dur, tapi terus terang saya ada tabir dengan Gus Dur karena ajaran pluralisme beliau,” ungkapnya.
Ia mengaku pernah mendiskreditkan Gus Dur dalam sejumlah ceramahnya. Sebagai pengamal syariah, ia pernah tak sepaham dengan konsep pluralisme Gus Dur. Tapi setelah memahami lebih lanjut, bertahun kemudian, ia mengaku terkesan dengan sikap dan ajaran Gus Dur. “Saya merasa berdosa. Ternyata pluralisme yang diajarkan Gus Dur tak bertentangan dengan syariat Islam. Bahkan itulah ajaran nabi yang mengajarkan pentingnya k…

Mengulas Sufisme Gus Dur

Dari Asketisme, Hingga Pengakuan Dosa dari Seorang yang Memusuhinya
Perdebatan tentang sufisme K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), tak hanya terjadi di kalangan muslim. Sejumlah kalangan non muslim juga ternyata kerap berdebat tentang sikap hidup Gus Dur yang asketik, egaliter, menebar kasih terhadap sesama dan kemungkinan surga menerima beliau.
Abdul Malik Mughni (Tan Malika)

Jaya Suprana, seorang penulis, humorolog sekaligus antropolog yang beragama keristen bercerita tentang perdebatan sejumlah pendeta pasca wafatnya Gus Dur.“Perdebatan sufisme meruncing ketika Gus Dur meninggal. Saya bertanya pada pendeta, bisakahGus Dur masuk surga?” kata Jaya dalam bedah buku Sang Zahid; Mengarungi Sufisme Gus Dur, karya K.H Hussein Muhammad, di kantor Wahid Isntitute, Selasa (25/9). Pendeta, kata Jaya, dengan tegas menjawab bahwa Gus Dur pasti masuk neraka, sebab Gus Dur tak mengakui ketuhanan Yesus. Jaya dan sejumlah pendeta lain sebenarnya tahu prasyarat masuk surga dalam agama kristen adalah peng…

Sisi Lain Munas NU III

Musyawarah Nasional NU tak hanya menjadi ajang silaturahim para ulama pesantren. Munas NU di Pondok Pesantren Kempek yang baru berakhir malam ini juga menjadi ajang pertemuan kaum muda NU. Termasuk para aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Sebagai anak budaya dari NU, PMII, dan jaringan alumninya berkomitmen mengawal gerakan para ulama. Dalam perjalanan menuju Cirebon bersama Ketua Umum  Pengurus Besar PMII Addin Jauharuddin, Ketua Kaderisasi Nasional PMII, Ketua Penataan Aparatur Organisasi PMII, Luhamul Amani, dan anggota Biro Hukum dan HAM PB PMII, Huda Kalimullah, terjadi perdebatan hangat seputar rencana PBNU untuk mereview UU Pemda, dan prosesi pemilukada yang dinilai merusak tatanan sosial masyarakat. Dari diskusi sepanjang perjalanan itu, disimpulkan bahwa PB PMII akan melakukan judicial review (uji materi) terhadap UU 18/2008, tentang  Pemda kepada Mahkamah Konstitusi (MK). Uji materi tersebut menurut Addin,  dilakukan sebagai langkah lanjutan untuk mendukung has…

Sisi Lain Munas NU II

HIPSI dan Entrepeneurship Pesantren
“Wahai pemuda putra bangsa yang cerdik, cerdas dan para ustadz yang mulia, mengapa tidak kau dirikan saja satu badan ekonomi yang berkoperasi, di mana setiap kota terdapat satu badan usaha yang otonom,” K.H Hasyim Asy’ari, Deklarasi Nahdlatut Tujjar  (Kebangkitan Saudagar) 1918. --- Selain menampilkan sejumlah lembaga , badan otonom Nahdlatul Ulama dan berbagai karya serta kinerjanya, stand bazar di acara Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar  (Munas dan Konbes NU), di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon,  juga diisi oleh promosi sejumlah perusahaan. Dari sejumlah stand itu,  ada sebuah stand menawarkan pisang arania, lele sangkuriang disertai promosi e-commerce tokonu.com. Stand itu mengukuhkan eksistensi Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (Hipsi) yang kini bernaung di bawah Rabithah Ma’had Islamiah (RMI) NU. Hipsi yang pertamakali dibentuk di Surabaya bermula dari keprihatinan sekelompok santri yang kuliah di Institut Tekhnologi Sepuluh Nopember…

Sisi Lain Munas NU I

Beralihnya Referensi Bahtsul Masail, dari Kitab Kuning, ke Kitab Digital
Ada yang beda dari Bahtsul Masail NU dalam  Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas dan Konbes NU) tahun ini. Biasanya dalam setiap bahtsul masail, para kiai membawa setumpuk kitab kuning dan berbungkus-bungkus rokok. Kali ini, suasana di ruangan bahtsul masail terlihat lebih tertib, layaknya siding anggota parlemen. Meja berjejeran, asap rokok tak terlalu banyak mengepul, dan tak terlihat lagi kitab bertumpuk atau berserakan di area Bahtsul Masail. Meski begitu, suasana di area munas yang membahas Sembilan hal penting terkait bangsa ini, tetap panas  dengan perdebatan. Para kiai beradu argument dengan dalil-dalil keagamaan yang fasih. Kiai-kiai muda tak segan membantah pernyataan kiai tua. Ratusan dalil dari kitab-kitab klasik tetap bertebaran dari pendapat para kiai. Bahkan hingga waktu rehat tiba, para kiai masih aktif berdebat sambil sesekali memandangi netbooknya. Dari mana para kiai…