Langsung ke konten utama

Cirahab Semoga Lestari


Membaca perjuangan warga Padarincang, Kabupaten Serang, Propinsi Banten, membuat hatiku berdesir. Di sana, warga bersatu menolak kekuatan asing yang hendak menguasai mata air yang bisa jadi merupakan warisan budaya warga padarincang.Upaya warga menolak keberadaan pabrik Aqua di sana patut dicontoh. Mereka lebih patut mendapat apreasiasi daripada partai atau sekelompok politisi yang berkoar anti neolib, anti globalisasi ekonomi, tapi nyatanya menerima sumbangan dari donatur asing, untuk mengubah kebudayaan asli Indonesia.

Cerita tentang penolakan warga Padarincang terhadap keberadaan pabrik air mineral sebenarnya telah berlangsung lawas, sejak Danone melakukan survei di daerah tersebut, pada beberapa tahun lalu.

Penolakan warga yang berlangsung warga itu ternyata tak direspon oleh pemerintah Kabupaten Serang, yang pada Januari lalu malah menandatangani MOU pembangunan pabrik Aqua di daerah Padarincang. Inilah kedzoliman yang dilakukan pemerintah terhadap warganya sendiri. mereka mengutamakan investor daripada kebutuhan warganya.

Pemkab Serang menutup mata akan dampak yang bisa ditimbulkan dari keberadaan pabrik air mineral di kawasan penyuplai air di Kabupaten Serang itu. Bahwa eksploitasi sumberdaya alam itu akan berdampak pada kekeringan di Padarincang, bahkan di Kabupaten Serang.

Jika memang Pemkab berkehendak meningkatkan taraf ekonomi warga, sebenarnya ada alternatif lain yang bisa dilakukan. Misalnya dengan menjadikan daerah padarincang sebagai daerah wisata air, dan mendukung warganya untuk mengadakan program kemandirian ekonomi, melalui aset warisan tersebut.

Sikap pemerintah yang menutup mata terhadap aspirasi rakyatnya itu berujung pada kemarahan warga Padarincang, pada sepekan terakhir (6-10 Desember 2010). Sebagian orang menilai kemarahan warga yang membakar gudang pabrik Aqua adalah tindakan kontra produktif. Padahal jika ditelisik dari muasal kemarahan tersebut, maka luapan amarah warga itu dapat dimaklumi. Bahkab patut didukung.

Jika kita berkaca pada beberapa daerah lain, yang juga dieksploitasi aset airnya, seperti di daerah Curug dan Cidahu, Sukabumi, maka kita bisa memahami kekhawatiran warga Padarincang akan kelestarian aset warisan leluhurnya itu.

Satu hal yang membuat saya kagum terhadap perlawanan warga Padarincang adalah kebersatuan mereka. Sudah menjadi rahasia umum, apabila pemerintah atau kelompok asing datang dengan maksud merebut aset masyarakat, yang pertama dilakukan biasanya adalah merayu tokoh masyarakat tertentu, dan kemudian memecah belah warga. politik pecah belah ala Belanda itu masih kerap dilakukan pemerintah kita. Sebagai contoh, adalah pembangunan Tol di Pesantren Babakan Ciwaringin, yang memunculkan friksi di lingkungan dalam warga pesantren tersebut. Saya bersyukur hal itu tak terjadi di Padarincang. Artinya seluruh warga sadar akan aset warisan yang patut dipertahankannya.

Sekedar gambaran, Padarincang adalah dataran tinggi di Kabupaten Serang, yang cukup elok dipandang mata. Di sana terdapat sumber mata air yang begitu jernih. Di sana juga terdapat beberapa pemandian umum masyarakat yang dibuat alami, tanpa merusak sumber mata air yang berlimpah itu, diantaranya yang kerap kami kunjungi adalah kawasan Cirahab.

Semoga sekelumit peristiwa heroik di Padarincang bisa menydarkan pemerintah setempat untuk tidak bertindak semena-mena. Sebab rakyat kini sudah berani berhadapan dengan golok atau senjata api sekalipun. Perlawanan warga Padarincang bisa jadi api perjuangan warga Banten untuk tak lagi tunduk pada keserakahan para jawara. Maka sudah saatnya aktifis dan masyarakat Banten bersatu melawan kebodohan para pemimpinnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…