Langsung ke konten utama

Menyesali pilihan



hidup ini seperti permaian lotere. kita bebas memilih, dan kemudian menyesali pilihan kita. Dihadapkan pada berbagai pilihan, sering membuatku panas-dingin. apalagi ketika sadar, telah memilih yang bukan terbaik. memimilih itu membingungkan. tapi hidup adalah pilihan, dan memaksa kita untuk memilih. yang repot adalah merelakan pilihan kita, dan menjalani konsekwensi dari pilihan kita. meski kita memilih apa yang diobsesikan, tapi ternyata tetap tak memuaskan.

Ketika pertama masuk kuliah, aku terobsesi untuk mengikuti dan menjuarai lomba menulis dan kepenulisan. sayang obsesi itu kini tinggal kenangan. ya sampai detik ini, ketika berbagai obsesi lain berkelabatan, obsesi itu belum tercapai juga. sampai sekarang ini, ketika usia perkuliahanku hampir mencapai titik akhir, impian untuk menjuarai lomba menulis tingkat lokal, maupun nasional, tak pernah kesampaian. hm.. pernah sekali aku menjuarai lomba resensi buku, tapi hanya sekali, di tingkat kampus, dengan peserta empat orang.
ha.ha.

Berkali kesempatan mengikuti lomba menghampiri. berkali pula hambatan datang, dan membuat obsesiku tak tercapai.Dua tahun lalu, ketika aku berekeinginan kuat mengikuti Anual conference yang rutin diadakan Diktis Depag, aku tersibukkan oleh advokasi kebijakan kampus, dan liputan khusus untuk demo IAIN Banten 2006. tahun lalu,ketika Ahmad wahib Award digelar, aku menyiapkan lagi tulisan, tapi kemudian gagal lagi, karena aku harus menyiapkan proposal dan format monitoring PKBM yang akan digarap sebuah LSm yang dipimpin salahsatu seniorku. kemarin, ketika aku hendak ikuti lomba menulis esai politik islam yang digelar sebuah partai, juga tak sempat kuikuti, sebab aku memilih magang di sebuah media lokal. dan barusan, aku menyesal gak bisa ikut lomba menulis esai urban sufism, karena aku terlambat mengetahui agendanya. padahal hampir tiap hari aku di warnet.



Mengapa aku tak rela pada pilihanku sendiri? Mengapa penyesalan selalu datang seusai memilih? Mengapa aku bersedih hadapi konsekwensi dari pilihanku?
Karena pilihan yang kulakukan tak lebih dari keterpaksaan. Aku dipaksa kondisi, Aku dipaksa kenyataan. dan Aku dipaksa oleh keterbatasan. Maka ke depan, tak hendak lagi aku memilih, jika itu tak perlu. tapi sepertinya sulit menghindari pemilihan.

pernah aku memilih untuk dipilih, dan kemudian pilihan itu kusesali lagi. pernah aku memilih seseorang untuk kepentinganku, lagi-lagi tak seperti yang dibayangkan, repotnya memilih, maka aku tak hendak lagi memilih. Sebab aku bukan orang terpilih, yang layak tuk dipilih, saat ini, aku tak ingin lagi ikut pemilihan..





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…