Langsung ke konten utama

menjalani proses



Besok adalah hari ke 19 aku magang di sebuah media lokal yang bernaung dialam sebuah group media yang sedang meraja di Nusantara. Awalnya aku senang dengan tantangan yang diberikan, 3 berita setiap hari. Apalagi aku diplot untuk meliput berita info bisnis, besar harapku untuk trurt mengawal tumbuhnya ekonomi kerakyatan di Banten.
Sampai kemudian, datang sebuah petuah, “Cari berita bisnis yang berprospek pada peningkatan iklan” begitu kata seorang seniorku. Hmm, bekerja di media lokal yang baru tumbuh, membuat wartawan harus bisa menempatkan diri sebagai public relation, aku mencari berita plus tugas tambahan, mencari iklan!
Sebab aku butuh pekerjaan itu, maka tak banyak protes ku dendangkan. Aku tahu posisiku, Wartawan Magang. Dan wartawan magang di media professional, tentu berbeda dengan wartawan magang di pers kampus. Setiap hari kususuri kota serang, mencari berita untuk halaman bisnis. Kompensasi iklan tak begitu kugubris. Aku pilih meliput info bisnis kecil, dengan harapan, semoga liputanku bisa menumbuhkan gairah para pengusaha kecil lokal. Semua liputanku bersifat ‘ecek-ecek’. Aku tak meliput mall, dan usaha-usaha agen kapitalis lain. Meski hanya wartawan info bisnis, aku ingin berteguh pada visi idealku semasa di pers kampus. Aku meliput pedagang penganan tradisional, aku meliput pedagang t-shirt, dan pakaian produk lokal, atau yang dikenal dengan clothing dan distro. Satu harapanku, semoga usaha mikro yang jelas menjual barang ‘nyata’ di serang bergeliat. Semoga krisis keuangan di Amerika tak begitu melemahkan urat ekonomi rakyat kecil.
Sempat kubandingkan pola manajemen rdaksional di media tempatku bekerja saat ini, dengan manajemen kerdaksian yang sempat kuterapkan di Pers Kampus, bersama para sahabat yang satu visi. Kami berkeinginan memberi manfaat pada para pembaca. Kami ingin tumbuhkan wacana kritis di tengah kampus kami yang feodal. Visi itu hamper terlaksanan rasanya. Sampai kemudian kami tingkatkan visi menjadi media alternative mahasiswa, dan pelajar. Saying, baru 3 bulan, kami berjuang, dating berbagai bala bencana yang melemahkan semangat para crew. Bahkan aku dan beberapa pimpinan divisi saat itu, kemudian ikut melempem. Visi itu kandas.
Sekarang, aku bergabung di sebuah media profesional tingkat lokal. Prinsip yang kupegang selama tiga tahun di pers kampus, hampir tergerus oleh beragam alasan. Idealisme, rasionallisme yang ku junjung selama menjadi wartawan kampus, hampir pudar. Dan aku merasa beberapa kemampuan menulisku melemah. Sebab aku dikejar deadline, aku mesti hasilkan 3 sampai 6 berita dalam sehari. Aku tak lagi ketat dalam kualitas tulisan.Sering aku didingatkan tentang komposisi tulisan, ”betapa bodohnya aku?”.
Aku juga dirundung problem baru, menyiapkan ongkos liputan, dan ongkos ke kantor setiap hari. Banyak yang bilang, dengan diplot di info bsinsi, aku punya banyak peluang untuk menjadi kaya. Ha.ha, ya aku berharap kaya berkat doa para pedagang kecil yang senang ketika warungnya kuliput.
Aku ingin tetap berteguh pada kode etik jurnalistik, dan visi sosialis, yang pernah diajarkan para guruku terdahulu.. dan seharusnya, perusahaan pers ketat menginisiasi wartawannya untuk tidak menjadi wartawan bodrek. Untuk itu, mereka harus siap memberi fasilitas, dan mencukupi kebutuhan wartawannya. Agar wartawan bisa memproteksi diiri dari godaan uang tips yang terkutuk, tapi menggiurkan, he
Aku juga ingin tetap menuliskan refleksi kritis atas berbagai realita yang menghampiri. Semoga aku benar-benar jadi penulis hebat. Ha,ha



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…