Langsung ke konten utama

Kenapa Harus Proyek?


Apa hal lucu yang pernah lu alamin ketika aktif di SiGMA? Begitu kira-kira tema tulisan pesanan yang disebut-sebut sebagai proyek Yuwi, litbang SiGMA, yang super woman. Hmm, Aku malah merasa lucu dengan kata proyek. Sebab kata mujarab ini sering dibayangkan punya nilai lebih, berupa pendapatan, atau penghasilan. Kata proyek ini pernah digugat oleh salahsatu seniorku sewaktu aku menyampaikan format, atau draft bertajuk proyek proposal pelatihan jurnalistik & broadcasting se-banten. Kenapa harus proyek? Kata seniorku. Gugup, dan gelagap tiba-tiba menghinggap dalam diriku.
Kenapa gugup? Karena aku–sejak awal pembuatan proposal tersebut, dan sebelum bertemu senior yang kemudian kuketahui bernama Ahmad Arby Syahrostani itu- kurang suka dengan kata proyek. Kesanku kala itu, kata proyek selalu bernuansa bagi-bagi keuntungan materil, bagi-bagi duit. Padahal PJB, buatku (waktu itu) tak lebih dari event sosial untuk merekrut kader SiGMA. Ya, event sosial! Karena PJB menurutku tak menghasilkan untung materil bagi diri maupun keluarga SIGMA. Panitia PJB yang semuanya adalah kru SiGMA lebih sering nombok, ketimbang mendapat penghasilan. Meski kalau dipikir lebih lanjut, sebenarnya ada keuntungan bagi panitia PJB. Satu, kebanggaan sebagai panitia, dua, bisa jalan-jalan gratis, dan terakhir bisa mengumpulkan sertifikat. Tapi, bagi crew yang sudah berkali menjadi panitia PJB sepertiku –waktu itu-, keuntungan tersbut tidak lagi berarti (bukan bermaksud sombong, terlibat di kepanitiaan bautaku yang waktu itu menginjak semester enam, bukan lagi hal asing. Sertifikat sudah banyak, jalan-jalan? Karena tiap PJB, tujuan wisatanya adalah kantor redaksi Tempo, maka aku hampir bosan). Dan yang terpenting, waktu itu aku riskan dengan kata proyek, sebab kata tersbut rentan KORUPSI. Maka mendengar gugatan tersbut, aku jadi gugup. Dan kemudian aku terggelagap.
Mengapa tergelagap? Sebab sebagai bagian dari panitia, aku harus bertanggung jawab mempertahankan konsep yang telah disepakati bersama. Meski pada dasarnya, konsep tersebut tidak kukehendaki. Maka aku tergelagap mencari apologi atas gugatan Bang Aas, begitu kami biasa menyapanya. “Karena ini sebuah event besar bagi SiGMA” kalau tidak salah, begitulah jawabku waktu itu. “Ya, kenapa proposalnya dinamakan proyek?” aku jadi tambah keki waktu itu.
Nah, saat ini, aku tergelitik dengan istilah proyek Yuwi, atas tulisan ang ditujukan untuk mengenang kelucuan di SIGMA ini.
Kenapa harus Proyek Yuwi? Hmm, mungkin karena pengumpulan tulisan yang sebenarnya harus lucu ini diusulkan oleh Yuwi. Padahal, sejak beberapa tahun lalu, ketika aku menjabat Pimred, dan Pinum, aku sempat bicarakan keinginan mengumpulkan tulisan crew SiGMA tentang SIGMA dan kiprahnya. Waktu itu aku ingin kami, para crew memberi kado ulang tahun SIGMA ke-17. ya waktu itu, tepat di Januari 2007 (kalau tak salah) mestinya tulisan persembahan untuk kado ulang tahun ISGMA itu selesai. Ide tersbut pernah dibicarakan dengan pembina SIGMA, yang biasa kami panggil, Pak Sobri, dengan seorang senior bernama Sobari, dan seorang teman, yang kemudian hengkang, bertitel Fetty. Bahkan (kalau tak salah lagi) Toink, dan Yuwi juga pernah kudendangkan ide ini. Tapi waktu itu, memang tak terpikir olehku membuat tulisan lucu. Yang terbersit saat itu, mengenang SiGMA, dan masa-masa di SIGMA, baik pahit, maupun getirnya. Opps, kenapa pahit dan getir? Sebab menurutku, yang dikenal melankolis dan serius ini, masa-masa di SIGMA adalah masa pancaroba, bak kawah candradimuka. Pahit melulu, kadang-kadang getir. Padahal kalau mau jujur, banyak juga hal yang manis di SiGMA. Termasuk yuwi manisa, yang punya proyek tulisan ini.
Tapi kenapa harus proyek? Dan mengapa harus tulisan lucu? Seingatku selama di SIGMA, belum ada yang mampu menulis lucu atau humor secerdas pengarang abunawas di SiGMA. “Di sinilah lucunya” kata Toink. Dia juga mengusulkan kalau jadi dibukukan, kumpulan tulisan ini berjudul 100 persen ngakak! Sebab kumpulan tulisan ini lucu karena tak lucu, begitu katanya. Tidak lucu bukan? Syukurlah, saya memang tak berniat jadi pelawak. Dan –konon- Saya lebih berbakat jadi esais, dan penulis lepas sekaliber Gunawan Muhammad, atau Kuntowijoyo. Amiin…(mmaaf kalau isinya agak narsis, semoga tidak najis. hee)





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…