Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2009

Kenapa Harus Proyek?

Apa hal lucu yang pernah lu alamin ketika aktif di SiGMA? Begitu kira-kira tema tulisan pesanan yang disebut-sebut sebagai proyek Yuwi, litbang SiGMA, yang super woman. Hmm, Aku malah merasa lucu dengan kata proyek. Sebab kata mujarab ini sering dibayangkan punya nilai lebih, berupa pendapatan, atau penghasilan. Kata proyek ini pernah digugat oleh salahsatu seniorku sewaktu aku menyampaikan format, atau draft bertajuk proyek proposal pelatihan jurnalistik & broadcasting se-banten. Kenapa harus proyek? Kata seniorku. Gugup, dan gelagap tiba-tiba menghinggap dalam diriku.
Kenapa gugup? Karena aku–sejak awal pembuatan proposal tersebut, dan sebelum bertemu senior yang kemudian kuketahui bernama Ahmad Arby Syahrostani itu- kurang suka dengan kata proyek. Kesanku kala itu, kata proyek selalu bernuansa bagi-bagi keuntungan materil, bagi-bagi duit. Padahal PJB, buatku (waktu itu) tak lebih dari event sosial untuk merekrut kader SiGMA. Ya, event sosial! Karena PJB menurutku tak menghasil…

Aku Jumawa! (20/01/09. tepat pukul 1.30 sampai 2 pagi)

Lagi-lagi terlalu banyak godaan untuk tidak terlelap –mungkin- hingga fajar menjelang. Kebiasaan buruk warisan pesantren! Pikirku. Loh, kenapa pesantren yang dipersalahkan? Tanya diriku yang lain. Hmm. Tahun-tahun terakhir di pesantren, aku memang jarang tidur malam, hampir tak pernah malah. Berkhayal, membaca, dan merenung seakan mengkarakter dalam diri ini. Tapi aku sadar ada penurunan kualitas dari tradisi melekan ku. Dulu, aku melek membaca buku bermutu, dari Filsafat Ghazali, sampai hadad Alwi. Dulu aku berdiskusi tentang makna hidup dengan berbagai kalangan. Dari Kiai, sampai tukang batu ali. Yah, pesantrenku sering disinggahi banyak orang, dari berbagai kalangan. Mereka sering menginap beberapa hari, berriyadloh, begitu istilah bagi mereka yang haus ketenangan jiwa, dan berusaha untuk dekat pada Tuhannya, “Melatih diri untuk menjadi insan sholeh” kata kiai. Atmosfer kesalehan nan privat itu mau-tak mau menyentuh, dan merengkuhku. Aku sempat terlena pada keintiman jiwa dengan S…

Lelah itu biasa, Sob!

lelah itu biasa menghampiriku, namanya juga orang hidup, ya mesti merasakan sesuatu. termasuk lelah. sebab lelah itu suatu perasaan juga. serius aku lelah banget. lelah mebolak-balik kata menjadi kalimat. lelah berkelana. "Tapi ini proses yang mesti gw jalanin," batinku saat ini. maka aku tersenyum mengingat cerita tentang rasa lelah. Dan bibirku semakin terkembang mendengar lagu Dewi Lestari bertajuk "malaikat juga tahu"yang dibuka dengan kata, lelah.
besok aku harus bersiap lagi untuk melakukan 'bag packker' bermodalkan selembar surat tugas dari sebuah koran, berkeliling mencari makanan atu pertokoan yang layak diberitakan. tapi aku sempat kecewa, ketika dua hari lalu aku ditegur lewat sms, "cari beritanya jangan pedagang gerobak, ya!" begitu bunyi pesan dari seniorku di koran tersbut. kenapa jangan pedagang gerobak? bukankah yang dicari adalah news values? dan aku sering temukan nilai berita dari para pedagang kecil. aku melihat human interes…

menjalani proses

Besok adalah hari ke 19 aku magang di sebuah media lokal yang bernaung dialam sebuah group media yang sedang meraja di Nusantara. Awalnya aku senang dengan tantangan yang diberikan, 3 berita setiap hari. Apalagi aku diplot untuk meliput berita info bisnis, besar harapku untuk trurt mengawal tumbuhnya ekonomi kerakyatan di Banten.
Sampai kemudian, datang sebuah petuah, “Cari berita bisnis yang berprospek pada peningkatan iklan” begitu kata seorang seniorku. Hmm, bekerja di media lokal yang baru tumbuh, membuat wartawan harus bisa menempatkan diri sebagai public relation, aku mencari berita plus tugas tambahan, mencari iklan!
Sebab aku butuh pekerjaan itu, maka tak banyak protes ku dendangkan. Aku tahu posisiku, Wartawan Magang. Dan wartawan magang di media professional, tentu berbeda dengan wartawan magang di pers kampus. Setiap hari kususuri kota serang, mencari berita untuk halaman bisnis. Kompensasi iklan tak begitu kugubris. Aku pilih meliput info bisnis kecil, dengan harapan, semo…

Menyesali pilihan

hidup ini seperti permaian lotere. kita bebas memilih, dan kemudian menyesali pilihan kita. Dihadapkan pada berbagai pilihan, sering membuatku panas-dingin. apalagi ketika sadar, telah memilih yang bukan terbaik. memimilih itu membingungkan. tapi hidup adalah pilihan, dan memaksa kita untuk memilih. yang repot adalah merelakan pilihan kita, dan menjalani konsekwensi dari pilihan kita. meski kita memilih apa yang diobsesikan, tapi ternyata tetap tak memuaskan.

Ketika pertama masuk kuliah, aku terobsesi untuk mengikuti dan menjuarai lomba menulis dan kepenulisan. sayang obsesi itu kini tinggal kenangan. ya sampai detik ini, ketika berbagai obsesi lain berkelabatan, obsesi itu belum tercapai juga. sampai sekarang ini, ketika usia perkuliahanku hampir mencapai titik akhir, impian untuk menjuarai lomba menulis tingkat lokal, maupun nasional, tak pernah kesampaian. hm.. pernah sekali aku menjuarai lomba resensi buku, tapi hanya sekali, di tingkat kampus, dengan peserta empat orang.
ha.ha.

Ber…