Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2009

Doktrin Teror dalam Pengajian

Kenyataan bahwa beberapa tertuduh terorisme (dalam bentuk pemboman), di negeri ini adalah alumni salahsatu pesantren, cukup menggelisahkan kalangan yang pernah atau tengah bersentuhan dengan pesantren.
Munculnya stigma negatif terhadap pesantren sempat menghebohkan negeri ini. Apalagi ketika stigma tersebut keluar dari seorang tokoh nasional yang saaat itu tengah memimpin bangsa yang acrut-marut ini (masih ingat pernyataan JK tentang Terorisme pesantren?)
Aku sempat berpikir sama tentang adanya doktrin yang kerap ditafsirkan sebagai keindahan bersikap keras dalam beragama, di pesantren tertentu. Keindahan spiritual.
Itu kuamini keberadaanya, ketika aku bertemu dengan salahsatu atau beberapa alumnus pesantren yang dikenal ‘keras’, dan berbincang dengan mereka.
Alumnus pesantren tersebut begitu yakin akan kebenaran subyektif yang hanya dimilikinya dan kelompoknya saja.
Aku juga sempat merasakan itu, keyakinan akan kebenaran subyektif. Beruntung aku tumbuh di lingkungan yang prulal, dan penga…

Facebook, Kesetaraan Gender Hingga Delegitimasi Fatwa

Polemik tentang Hasil Bathsul Masa’il XI Forum Pondok Pesantren Putri se-jawa Timur yang mengharamkan penggunaan Facebook secara berlebihan, mendapat reaksi yang ‘wah’ dan beragam dari para pengguna facebook (Facebooker) dan masyarakat umum.

Para Facebooker sampai membuat forum tersendiri bertajuk “Facebook Haram’ beranggotakan 134 Facebooker, ada juga gropu anti fatwa haram facebook yang anggotanya mencapai lima ribuan. Jumlah group facebook bertajuk fatwa tersebut juga tak kurang dari dua puluh jumlahnya. Para penulis juga banyak tergelitik mengomentari hasil bathsul masa’il para santri putri se jawa itu.

Ada banyak hal yang bisa dilirik dari kelahiran fatwa facebook dan reaksi terhadapnya.

Pertama adanya pergeseran budaya masyarakat muslim yang –setidaknya bagi saya- menggembirakan dari reaksi terhadap fatwa tersebut. menggembirakan karena kini masyarakat –muslim- Indonesia mengakui keberadaan para Ulama perempuan. Kesetaraan gender di bidang ilmu keislaman sedang terjadi dengan atau …

Janji Pemerintah Buat Pengusaha Kecil

Antisipasi Krisis Global, Pasar Dalam Negeri Diperkuat

CILEGON - Imbas krisis global yang masih dirasakan industri dan manufaktur di dalam negeri, membuat pemerintah mengeluarkan beragam kebijakan untuk mengamankan perekonomian. “Langkah pengamanan ini harus dilakukan, di antaranya kebijakan fiskal dengan stimulus ekonomi sebesar 70 persen, pengetatan bea cukai, pengetatan ekspor impor, serta pengembangan pasar dalam negeri dengan upaya peningkatan daya beli masyarakat,” ungkap Sekretaris Jenderal Departemen Perindustrian Indonesia Agus Cahayana kepada Baraya Post, usai membuka seminar nasional industrial services 2009, Jurusan Tehnik Industri Untirta, di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) PT Krakatau Steel, Rabu (29/4).
Kendala terbesar dalam pengembangan pasar dalam negeri menurut Agus adalah maraknya produk luar yang masuk secara ilegal ke Indonesia. Disamping itu, kampanye penggunaan produk dalam negeri yang telah gencar dilakukan pemerintah kurang mendapat respon dari mas…

Tak Menyerah Meski terpinggirkan

Tak Menyerah Meski Terpinggirkan

... Bersyukur Aku merasakan bisa berjalan sendiri// Walau hanya dalam mimpi//mimpi indah sekali//... (Mimpi)
...Sejak lahir aku belum bisa berjalan//tidak pernah pula duduk di bangku sekolah//. Tapi Aku bisa membaca, menulis// walau dengan jempol kakiku// berkat mama merawatku,mengajariku//.. (Rasa Syukuruku)

Cilegon- Dua Penggalan puisi itu karya Corri Novika warga Jalan Melati F12/10 BBS 2 Ciwedus, Cilegon. Gadis dua puluh dua tahun yang mengalami penyumbatan otak sejak usia empat bulan. Tangannya kaku, dan kakinya mengalami kelumpuhan, ia pun sulit berkata-kata, karena penyakitnya tak kunjung sembuh meski Kedua Orang tua Vika, Joko Waskito dan Nining Yuningsih telah mengobatinya di berbagai rumah sakit, dan tampat pengobatan alternatif. Meski begitu, Vika punya semangat kuat untuk jadi penulis. “Aku ingin seperti Asma Nadia, yang pandai menulis, aku juga ingin seperti mama yang aktif di berbagai organisasi. Aku bangga sama mama yang ngajarin aku meb…

Tak Menyerah Meski terpinggirkan

Tak Menyerah Meski Terpinggirkan

... Bersyukur Aku merasakan bisa berjalan sendiri// Walau hanya dalam mimpi//mimpi indah sekali//... (Mimpi)
...Sejak lahir aku belum bisa berjalan//tidak pernah pula duduk di bangku sekolah//. Tapi Aku bisa membaca, menulis// walau dengan jempol kakiku// berkat mama merawatku,mengajariku//.. (Rasa Syukuruku)

Cilegon- Dua Penggalan puisi itu karya Corri Novika warga Jalan Melati F12/10 BBS 2 Ciwedus, Cilegon. Gadis dua puluh dua tahun yang mengalami penyumbatan otak sejak usia empat bulan. Tangannya kaku, dan kakinya mengalami kelumpuhan, ia pun sulit berkata-kata, karena penyakitnya tak kunjung sembuh meski Kedua Orang tua Vika, Joko Waskito dan Nining Yuningsih telah mengobatinya di berbagai rumah sakit, dan tampat pengobatan alternatif. Meski begitu, Vika punya semangat kuat untuk jadi penulis. “Aku ingin seperti Asma Nadia, yang pandai menulis, aku juga ingin seperti mama yang aktif di berbagai organisasi. Aku bangga sama mama yang ngajarin aku meb…

Tak Menyerah Meski terpinggirkan

... Bersyukur Aku merasakan bisa berjalan sendiri// Walau hanya dalam mimpi//mimpi indah sekali//... (Mimpi)
...Sejak lahir aku belum bisa berjalan//tidak pernah pula duduk di bangku sekolah//. Tapi Aku bisa membaca, menulis// walau dengan jempol kakiku// berkat mama merawatku,mengajariku//.. (Rasa Syukuruku)

Cilegon- Dua Penggalan puisi itu karya Corri Novika warga Jalan Melati F12/10 BBS 2 Ciwedus, Cilegon. Gadis dua puluh dua tahun yang mengalami penyumbatan otak sejak usia empat bulan. Tangannya kaku, dan kakinya mengalami kelumpuhan, ia pun sulit berkata-kata, karena penyakitnya tak kunjung sembuh meski Kedua Orang tua Vika, Joko Waskito dan Nining Yuningsih telah mengobatinya di berbagai rumah sakit, dan tampat pengobatan alternatif. Meski begitu, Vika punya semangat kuat untuk jadi penulis. “Aku ingin seperti Asma Nadia, yang pandai menulis, aku juga ingin seperti mama yang aktif di berbagai organisasi. Aku bangga sama mama yang ngajarin aku mebaca dan mengaji,” Ungkap Vika denga…

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Geli

Aku ingin terbahak
Lihat segala menggila
Mengunyah tawa
Hingga meregang nyawa



Kenapa Harus Proyek?

Apa hal lucu yang pernah lu alamin ketika aktif di SiGMA? Begitu kira-kira tema tulisan pesanan yang disebut-sebut sebagai proyek Yuwi, litbang SiGMA, yang super woman. Hmm, Aku malah merasa lucu dengan kata proyek. Sebab kata mujarab ini sering dibayangkan punya nilai lebih, berupa pendapatan, atau penghasilan. Kata proyek ini pernah digugat oleh salahsatu seniorku sewaktu aku menyampaikan format, atau draft bertajuk proyek proposal pelatihan jurnalistik & broadcasting se-banten. Kenapa harus proyek? Kata seniorku. Gugup, dan gelagap tiba-tiba menghinggap dalam diriku.
Kenapa gugup? Karena aku–sejak awal pembuatan proposal tersebut, dan sebelum bertemu senior yang kemudian kuketahui bernama Ahmad Arby Syahrostani itu- kurang suka dengan kata proyek. Kesanku kala itu, kata proyek selalu bernuansa bagi-bagi keuntungan materil, bagi-bagi duit. Padahal PJB, buatku (waktu itu) tak lebih dari event sosial untuk merekrut kader SiGMA. Ya, event sosial! Karena PJB menurutku tak menghasil…

Aku Jumawa! (20/01/09. tepat pukul 1.30 sampai 2 pagi)

Lagi-lagi terlalu banyak godaan untuk tidak terlelap –mungkin- hingga fajar menjelang. Kebiasaan buruk warisan pesantren! Pikirku. Loh, kenapa pesantren yang dipersalahkan? Tanya diriku yang lain. Hmm. Tahun-tahun terakhir di pesantren, aku memang jarang tidur malam, hampir tak pernah malah. Berkhayal, membaca, dan merenung seakan mengkarakter dalam diri ini. Tapi aku sadar ada penurunan kualitas dari tradisi melekan ku. Dulu, aku melek membaca buku bermutu, dari Filsafat Ghazali, sampai hadad Alwi. Dulu aku berdiskusi tentang makna hidup dengan berbagai kalangan. Dari Kiai, sampai tukang batu ali. Yah, pesantrenku sering disinggahi banyak orang, dari berbagai kalangan. Mereka sering menginap beberapa hari, berriyadloh, begitu istilah bagi mereka yang haus ketenangan jiwa, dan berusaha untuk dekat pada Tuhannya, “Melatih diri untuk menjadi insan sholeh” kata kiai. Atmosfer kesalehan nan privat itu mau-tak mau menyentuh, dan merengkuhku. Aku sempat terlena pada keintiman jiwa dengan S…

Lelah itu biasa, Sob!

lelah itu biasa menghampiriku, namanya juga orang hidup, ya mesti merasakan sesuatu. termasuk lelah. sebab lelah itu suatu perasaan juga. serius aku lelah banget. lelah mebolak-balik kata menjadi kalimat. lelah berkelana. "Tapi ini proses yang mesti gw jalanin," batinku saat ini. maka aku tersenyum mengingat cerita tentang rasa lelah. Dan bibirku semakin terkembang mendengar lagu Dewi Lestari bertajuk "malaikat juga tahu"yang dibuka dengan kata, lelah.
besok aku harus bersiap lagi untuk melakukan 'bag packker' bermodalkan selembar surat tugas dari sebuah koran, berkeliling mencari makanan atu pertokoan yang layak diberitakan. tapi aku sempat kecewa, ketika dua hari lalu aku ditegur lewat sms, "cari beritanya jangan pedagang gerobak, ya!" begitu bunyi pesan dari seniorku di koran tersbut. kenapa jangan pedagang gerobak? bukankah yang dicari adalah news values? dan aku sering temukan nilai berita dari para pedagang kecil. aku melihat human interes…

menjalani proses

Besok adalah hari ke 19 aku magang di sebuah media lokal yang bernaung dialam sebuah group media yang sedang meraja di Nusantara. Awalnya aku senang dengan tantangan yang diberikan, 3 berita setiap hari. Apalagi aku diplot untuk meliput berita info bisnis, besar harapku untuk trurt mengawal tumbuhnya ekonomi kerakyatan di Banten.
Sampai kemudian, datang sebuah petuah, “Cari berita bisnis yang berprospek pada peningkatan iklan” begitu kata seorang seniorku. Hmm, bekerja di media lokal yang baru tumbuh, membuat wartawan harus bisa menempatkan diri sebagai public relation, aku mencari berita plus tugas tambahan, mencari iklan!
Sebab aku butuh pekerjaan itu, maka tak banyak protes ku dendangkan. Aku tahu posisiku, Wartawan Magang. Dan wartawan magang di media professional, tentu berbeda dengan wartawan magang di pers kampus. Setiap hari kususuri kota serang, mencari berita untuk halaman bisnis. Kompensasi iklan tak begitu kugubris. Aku pilih meliput info bisnis kecil, dengan harapan, semo…

Menyesali pilihan

hidup ini seperti permaian lotere. kita bebas memilih, dan kemudian menyesali pilihan kita. Dihadapkan pada berbagai pilihan, sering membuatku panas-dingin. apalagi ketika sadar, telah memilih yang bukan terbaik. memimilih itu membingungkan. tapi hidup adalah pilihan, dan memaksa kita untuk memilih. yang repot adalah merelakan pilihan kita, dan menjalani konsekwensi dari pilihan kita. meski kita memilih apa yang diobsesikan, tapi ternyata tetap tak memuaskan.

Ketika pertama masuk kuliah, aku terobsesi untuk mengikuti dan menjuarai lomba menulis dan kepenulisan. sayang obsesi itu kini tinggal kenangan. ya sampai detik ini, ketika berbagai obsesi lain berkelabatan, obsesi itu belum tercapai juga. sampai sekarang ini, ketika usia perkuliahanku hampir mencapai titik akhir, impian untuk menjuarai lomba menulis tingkat lokal, maupun nasional, tak pernah kesampaian. hm.. pernah sekali aku menjuarai lomba resensi buku, tapi hanya sekali, di tingkat kampus, dengan peserta empat orang.
ha.ha.

Ber…