Langsung ke konten utama

Mahasiswa, -seharusnya- tak sekedar membaca


leh : A. Malik Mughni*

”Kamu suka baca?”
“Ya saya suka baca, baca SMS, baca diktat ketika ujian berlangsung, baca makalah ketika ada tugas presentasi, baca leaflet ketika ikut demo, dan baca pamphlet yang bertebaran di kantin kampus!”
Dialog imajiner itu mungkin mencerminkan sebagian realitas Mahasiswa saat ini. Membaca bagi Mahasiswa tentu bukan hal yang sulit dilakukan, sebab selain telah tuntas mengikuti program wajib belajar yang dicanangkan pemerintah Indonesia sejak era Orde Baru, predikat Mahasiswa sebagai _ubsta intelektual, juga berkonsekwensi pada pembangunan sikap terpelajar, diantaranya dengan kebiasaan membaca.
Meski terlalu sederhana, asumsi tersebut setidaknya dapat mewakili kesimpulan umum, bahwa membaca telah mengkultur, atau bahkan menjadi semacam social heritage (warisan sosial) di kalangan Mahasiswa. Jika merujuk pada definisi membaca ala Jack.C. Richard, John Plat, dan Heidi Plat, bahwa membaca adalah melihat teks untuk memahami isinya, maka minat baca Mahasiswa sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, dengan kata lain peradaban Mahasiswa –secara umum- telah cukup tinggi, dan mencerminkan kebudayaan modern..
Tapi jika proses membaca mensyaratkan repsesifitas, dan penalaran kritis ala Habermas, apakah membaca SMS, dan membaca pamphlet, dapat meninggikan peradaban? Apalagi jika melihat realitas dilapangan, tentang tradisi tawuran dan budaya kekerasan yang menjalar di kalangan Mahasiswa, tentang immoralitas dan hedonisme yang juga mewabah di lingkungan kampus, tentang aksi-aksi anarkhis dengan tuntutan yang kurang _ubstantive dalam beberapa demonstrasi oknum Mahasiswa, adakah cermin tingginya peradaban di sana? Bukankah paradigma kritis –yang identik dengan Mahasiswa- mewajibkan analisa mendalam, cermat, dan dialektis dalam menentukan sikap, dan keputusan?
Ternyata membaca versi Mahasiswa dan membaca versi umum, amatlah berbeda, Mahasiswa, seharusnya dapat berinteraksi dengan bacaan, tidak hanya menggali informasi, dan mudah terpengaruh oleh bacaan. Jika masyarakat umum percaya begitu saja pada gossip, dan berita media, maka Mahasiswa sudah seharusnya menganalisa wacana media, dan menafsirnya. Sebab di Kampus –semestinya- diajarkan tehnik berfikir, dan metoda penafsiran teks yang beragam,sebagai bekal dalam membaca.
Tapi, lagi- lagi kenyataan di lapangan berbeda teori ideal yang ada. Mahasiswa justru diklaim sebagai salah satu komponen masyarakat yang mudah terprovokasi, mahasiswa juga mudah terpengaruh doktrin negatif. Simak saja bermacam berita tawuran, demo anarkhis, sikap immoral, hingga fundamentalisme dan gerakan garis keras yang banyak bermunculan di Kampus-kampus.
Siapa yang bertanggung jawab atas kondisi ini? Apakah Mahasiswa –dalam hal ini- menjadi subyek, sehingga bertanggung jawab atas pilihannya masing-masing, ataukah menjadi obyek yang diperalat dan menjadi korban atas sebuah sistem tertentu? Saya cenderung melihat mahasiswa dalam problem ini, sebagai obyek penderita, yang dikorbankan oleh sistem. Ya setidaknya inilah yang saya rasakan di kampus kami (IAIN ”SMH” Banten).

Bacaan bermutu, barang mewah bagi Mahasiswa
Mahasiswa dan bacaan mestinya menjadi dua kata yang sulit terpisahkan. Beragam tugas perkuliahan menuntut Mahasiswa untuk mencari refferensi, bila ingin gratis, buku referensi perkuliahan –mestinya- bisa didapat di perpustakaan Kampus. Ya, mencari refferensi, itu tujuan utama para pengunjung perpustakaan, sisanya, suasana pepustakaan kampus kami lebih enak digunakan untuk tempat pertemuan rahasia, pacaran misalnya.
Pacaran di perpustakaan, cerita klasik itu masih bisa disaksikan di Kampus kami. Karena perpustakaan di kampus kami ramai dikunjungi pada waktu tertentu saja. Menjelang masa pengajuan skripsi atau tugas akhir perkuliahan, dan pada masa ujian tengah atau akhir semester. Di luar masa itu perpustakaan kampus kembali senyap, hanya beberapa pasangan mahasiswa yang terlihat di sana. Mungkinkah hal yang sama juga terjadi di Kampus lain? Saya tidak terlalu yakin.
Beberapa kawan yang pernah terbilang rajin berkunjung ke perpustakaan, sering mengeluhkan kejenuhan mereka dengan suasana perpustakaan, buku ‘buluk’ yang tidak terrawat, pendingin ruangan yang tidak berfungsi karena kurangnya daya listrik, hingga kurang lengkap dan beragamnya buku referensi yang bisa dipinjam.
Meski ada ruang referensi –pada waktu tertentu itu, ruangan ini paling sering disesaki pengunjung- yang menyediakan keragaman buku dengan agak lengkap, tapi buku di ruangan tersebut tidak dipinjamkan, dan hanya boleh dicopy di ruangan, dengan harga yang tidak biasa. Hak mahasiswa untuk mendapat fasilitaspendidikan yang bermutu di kampus kami, memang agak dikebiri. Mungkin, hal yang sama terjadi dikampus lain? Saya tidak terlalu yakin.
Minimnya bacaan bemutu, sistem, pendidikan tinggi yang hanya mementingkan angka indeks prestasi, dengan metoda ujian konvensional dan cenderung teks book, secara tak sadar membuat kami menjadi pecontek ulung. Verifikasi tugas karya tulis yang rendah, juga memudahkan kami menjadi plagiator dalam menulis makalah, bahkan –mungkin- skripsi. Perkuliahan yang mensyaratkan kehadiran 70%, dengan proses kegiatan belajar-mengajar yang kurang bermutu dan pola ajar ala yayasan (beberapa Dosen seakan mentasbihkan diri sebagai dewa ajar, yang anti kritik), membuat sebagian kami segan di kelas, dan membungkam. Ditambah fasilitas pendidikan (perpustakaan, misalnya) yang kurang layak, bisa jadi menghasilkan mahasiswa yang kurang bermutu pula.
Nah, jika Pola pendidikan yang berlaku semacam ini, jangan heran jika tridarma perguruan tinggi tidak tercapai sepenuhnya. Bagaimana seorang Mahasiswa akan mendapat dan mengamalkan aspek penelitian, jika sikap kritis dibungkam sejak di kelas, bagaimana pengabdian masyarakat akan menghasilkan perubahan yang signifikan ke arah perbaikan kultur, jika tradisi membaca yang ada, hanya sebatas menggali, dan memindahkan informasi, tanpa verifikasi kelengkapan data, analisa wacana, dan dialektika, untuk selanjutnya ditafsir, dan dipraktikkan ditengah masyarakat, dengan penyesuaian kultur dan sosiologi masyarakat. Ketika sikap jujur dalam berkarya sudah hilang, bagaimana lulusan perguruan tinggi dapat mendidik masyarakat?
Sebagai obyek perguruan tinggi, Mahasiswa berhak mendapat pendidikan yang layak dan bermutu, mahasiswa juga berhak atas fasilitas pendidikan, diantaranya perpustakaan, dengan buku-buku berkualitas, dan pelayanan nyaman, dan ramah dari pengelolanya. Karena mahasiswa tak sekedar membaca, maka beri Mahasiswa bekal praktis untuk membaca, proses dialektis, pembelajaran kritis, serta kecermatan dalam menganalisa teks, mestinya ditradisikan, bermula dari pengajar yang berkualitas, dan bahan bacaan yang berkualitas pula.



• Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Jinayah Siyasah,
Fakultas syari’ah IAIN ”SMH” Banten,
Pengaji di Umbruch Cercle,
Saat ini bergabung di LAKPESDAM NU Kota Serang.
Tulisannya dapat dilihat di www.malikmughni.co.cc
(http://a-malikmughni.blogspot.com)




Komentar

daniel john mengatakan…
I’ve been always so indecisive to start my own blog as I wasn’t sure that it’ll gain popularity. I am running the blog for three months already and I am pretty happy with the results.

Term papers

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…