Langsung ke konten utama

Kader Nu Opportunistik?

Hmm, jadi prihatin baca postingan tentang keluhan Mbah Muchit (ww.NUOnline, 12 Nov/2008), terus-terang awalnya kupikir para sesepuh dan pejabat Nu saat ini masih disibukkan dengan politik praktis, dan beragam kepentingan di dalamnya.

Harapan mbah muchit sepertinya mudah diwujudkan, seandainya para pejabat struktural NU, dan berbagai departemennya, serta banom (badan otonom)nya, bersikap proaktif, untuk "turba" (turun ke bawah,-meminjam istilah era revolusi, red-). membina dan mengajak kaum muda Nu untuk bergabung dan memberi ruang kontribusi untuk kaum muda.

Sayangnya, tradisi "turba" itu hanya dilakukan menjelang Pemilu (pilkada, maupun Pemilu RI), atau Konferensi, baik tingkat cabang maupun wilayah. "Turba" nya juga dilakukan dengan tambahan embel-embel kepentingan politik.

Kondisi tersebut mungkin hanya asumsiku saja, melihat realitas yang terjadi di tempat tinggalku saat ini (Serang, Banten), para tokoh PBNu ( juga departemen, dan Banomnya, IPNu misalnya). Beberapa waktu lalu, dikabarkan beberapakali berkunjung ke PCNu Serang, kebetulan saat itu menjelang Konferwil NU, kemudian berlanjut dengan Konferwil IPNU Banten. Pembahasan yang dilakukan, ya seputar politik belaka. dan satu lagi, kunjungan pengurus pusat IPNU, -yang, konon- untuk menjaring tim kampanye pencalonan salah satu pengurus IPNU sebagai caleg DPRRI. Kabarnya lagi, yang ditunjuk jadi tim wilayah Banten juga orang Opportunis banget, ( di Banten, ada julukan 'ular' bagi kader NU yang bersikap opprotunis, dan untuk yang satu ini, katanya sih adalah ular berkepala dua, he)

Saya setuju dengan asumsi Mbah Muchit, bahwa banyak kaum muda Nu tidak terberdayakan potensinya. tapi saya kurang setuju jika kaum muda Nu dianggap kurang potensial (semisal, dalam hal kepenulisan, investigasi dan tradisi intelektualitas lainnya). Sebab setahu saya, di berbagai mailist, blogroll, dan media-media internal kampus, maupun media lokal, banyak anakmuda berlatar belakang Nu mampu menulis, tapi mereka -kadang- tak mencantumkan identitas ke-NU-annya.
Apa sebab? Karena hingga saat ini, kaum muda NU yang bepotensi itu kurang dirangkul, dan mereka meretas sendiri jalan intelektualitas masing-masing. Mereka melakukan kajian informal, menulis, dan berkarya, tanpa melabelkan ke-NU-an, meski secara ideologis, mereka tak bisa memungkiri identitas kultural, sebagai anakmuda NU.

Lihat saja, di PMII, setiap kader mengembangkan diri masing-masing, dan secara perlahan melepas identitas ke-PMII-an, dan otomatis, secara kultural, identitas ke-NU-an dilepas juga. Lemahnya administrasi dan data warga Nu, mungkin juga adalah biang dari kenyataan ini. tanggung jawab siapa?

Kemudian di Lakpesdam, masing-masing PC bergerak sendiri, seolah tidak ada koordinasi dengan PP Lakpesdam, sebab sebagai departemen, Lakpesdam, LTN, LBM, dan lainnya hanya berkoordinasi dengan PCNU masing-masing.

Bagi lembaga-lembaga atau banom yang ada di lingkungan strategis (secara intelektual dan ekonomi; dalam wilayah kota pendidikan, misalnya), akan mudah melakukan pengembangan, sementara bagi yang ada di lingkungan kurang strategis, mereka meraba sendiri, tertatih dan kebingungan. maka apa peran Lembaga pusat? otonomi menjadi dalih untuk lembaga-lembaga di pusat untuk bertindak sendiri, dan melepas diri dari kewajiban membina lembaga-lembaga di daerah (ini yang terasa di Serang, loh, entah di daerah lain).

Imbasnya, lihat saja, muncul beragam gaya dan ideologi yang diusung lembaga-lembaga tersbut (misal;Lakpesdam), ada yang bernuansa liberal, karena 'difounderi' oleh donatur dari eropa, australi dan USA, ada yang bernuansa konservativ, sebab dapat dananya dari Yaman, ada juga yang lebih memilih kajian politik dan monitoring APBD, sebab di sanalah -mungkin- sumber dana itu ada. (Hmm, ke depan, bisa jadi ada lembaga NU yang bernuansa Wahhabi, karena dapat donor dari Saudi, kali yee?)

Ditambah lagi, para pejabat struktur PCNU -kadang- sibuk berpolitik praktis, atau bahkan sibuk merangkul penguasa daerah, yang ironis bagi saya, kadang alasannya sangat sepele dan pragmatis betul, ( Di Serang, dan Banten, saya menyaksikan ini. beberapa Ulama mendukung calon tertentu, dan atau mencalonkan diri, dengan dalaih demi kompensasi mendapat dana untuk mengontrak atau membangun Kantor PCNU) Pak Hasyim juga, dalam konferwil NU Banten, sempat meminta itu, bahwa "Ketua NU Banten, mendatang, harus bisa mengusahakan Kantor permanen", ironis, ko cuman gedung, yang dipikirkan? pengaruh depelovmentasi-isme Orba, yag hanya mementingkan pembangunan fisik, tampaknya masih kuat.

Maka, jangan heran jika muncul anggapan di kalangan muda NU, bahwa para pengurus struktural NU tak sempat memikirkan ummat dan kadernya, sebab sedang sibuk mikirkan 'BaseCamp'. Dan jangan bingung juga, kalau kemudian, banyak kader potensial Nu menyeberang ke ormas lain, atau membuat LSM sendiri, yang bisanya sekedar batu loncatan menuju hal yang pragmatis, mungkin benar apa yang diriset dalam beberapa buku ke-NU-an yang ditulis oleh orang luar NU, bahwa bahwa NU adalah ormas yang berideologi Opportunistik. (wallahu'alam)

Komentar

abdal malik mengatakan…
Tentang Lomba Penulisan Artikel

Diberitahukan dengan hormat,

Sesuai ketentuan yang ada pada lomba penulisan artikel di blog hatetepe://abdal976.wordpress.com, Anda termasuk yang memenuhi kriteria mengikuti lomba karena pernah memberi komentar blog tersebut. Oleh karena itu saya sampaikan hal-hal sebagai berikut:

Karena ketidaktahuan saya blog hatetepe://abdal976.wordpress.com saat ini sudah di-“suspend” oleh WP.

Lomba penulisan artikel tetap dilaksanakan dengan ketentuan yang sama, sedangkan blog saya beralih ke http://belajarngode.blogspot.com .

Apabila Anda berminat mengikuti lomba tersebut bisa membaca penjelasan lebih lanjut di blog http://belajarngode.blogspot.com itu.

Demikian pemberitahuan saya, mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.

Terima kasih,
Abdal Malik

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…