Langsung ke konten utama

Sakit Jiwa

Oleh Abdul Malik Mughni,
20 persen warga Indonesia atau satu dari empat orang di negeri ini menderita sakit jiwa (koran Sindo, edisi minggu-minngu lalu). Asumsi yang dilontarkan oleh parapsikolog, beberapa waktu lalu itu mungkin benar adanya. Satu minggu ini saja aku mengalami kejadian lucu, aneh, sekaligus menyedihkan. Dua hari lalu, sebuah surat dari "Jibril ruhul kudus" lengkap dengan tandatangan Jibril (berupa inisial LE2) mampir ke kantor kami di PCNu Kota Serang. memberitahukan kebangkrutan Presiden Francis, Nicholas Sarkozy, sebagai peringatan Allah atas bangsa Indonesia, agar bertaubat, dan mengakui kerasulan Lia Eden.
Beberapa hari sebelumnya, surat yang sama juga datang dan memberi peringatan yang sama. pada surat yang lalu itu, Sang Jibril bahkan mengancam akan membuat Indonesia menderita krisis seperti Amerika, jika tidak mengeluarkan Lia dan Abdurrahman, sang nabi kerajaan eden. ancaman yang sama juga disampaikan oleh Imam Samudera, teroris Bom Bali 2. ia mengancam atas nama Allah, bahwa jika ia, Amrozi, dan terpidanamatiBom bali lainnya, jadi di hukum mati, maka Indonesia akan dibei Azab oleh-Nya. yang lebih lucu, buatku, adalah pernyataan Amrozi yang ingin menikah dua kali lagi,sebelum mati. lucu bukan? para prajurit Tuhan itu ternyata tidak betah dipenjara, mereka juga enggan menemui Tuhannya, sebagai konsekwensi jihad. gilanya lagi, masih ada juga yang berpikir tentang menikah lagi ketika ajal diujung mata.
pagi tadi juga aku diberitahu tentang tingkah Syekh Pujono Cahyo. P, yang dengan banggamengumumkan rencana pernikahannya dengan gadis usia 11, 9, dan 7 tahun. dia mentahbiskan sikapnya pada kisah Nabi Muhammad, yang menikahi Aisyah (liat Video di link ini: http://xmaro.multiply.com/reviews/item/64/APA_PENDAPAT_ANDA). ah, benar-benar gila.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…