Langsung ke konten utama

melawan provokasi dengan Teror?

Mendengar berita bentrok AKKB dan FPi yang kesekian kalinya, berontakku terhadap para tokoh agama,dan pendukungnya yang merasa benar sendiri muncul kembali.
kebenaran subjektif, kadang mematikan rasa kemanusiaan seseorang. ketika rasa kebenaran telah digenggam dalam ego, maka tak ada tempat belas kasih bagi mereka yang bersebrangan. sungguh kenyataan ironis bagi peradaban islam. aku jengah dengan doktrin-doktrin yang ditafsirkan dengan tanpa upaya rasionalisasi dan konstektualisasi, hanya menjadi virus ganas yang menyeramkan, dia menjadi seperti zombie dan drakula yang haus darah, dan bergentayangan mencari mangsa.
Sebuah ajaran sesuci, semulia, dan sekeren apapun akan berubah menjadi bara api yang membakar jiwa penganutnya, untuk bertindak irrasional, jika ditafsirkan dan dipraktikkan dengan egosentris dan mental diri yang picik dan penuh kebencian.
Maka aku setuju jika tulisan Anick HT, berjudul Provokasi berikut ini, perlu direnungkan oleh segenap kaum muslimin di negeri ini.


Provokasi
Oleh Anick HT


Jika provokasi adalah keberanian berkata tidak terhadap kezaliman di depan mata, saya harus menyatakan rasa salut saya kepada para provokator.



Ketika saya melangkahkan kaki saya melewati kerumunan massa FPI menuju kursi saksi persidangan, beberapa orang dalam kerumunan itu berteriak tertahan “majnun, majnun†. Saya meragu. Dalam sekian detik, di kepala saya sudah terumuskan dua jawaban “La ya’rifu majnun illa majnun†, dan “Laisa al-majnun illa biidznillah†. Tapi rumusan itu tak kunjung keluar dari mulut saya.



Jika provokasi adalah menyuarakan yang haq tanpa kekerasan di tengah kesemenaan yang haus darah, sebutlah kami provokator.


Ketika Istiqomah didesak, diusir dari tempat duduknya di ruang pengunjung sidang, ditarik, dihentakkan, lalu dijambak rambutnya oleh sekelompok orang yang merasa benar sendiri dan berkuasa melakukan apa saja. Ketika Nong Darol Mahmada memprotes kepada polisi yang bertugas betapa para tersangka berkeliaran dengan bebasnya di luar ruang sidang, sementara seharusnya mereka ada dalam kawalan petugas. Ketika Guntur berteriak kepada Ketua Majlis Sidang bahwa dia ditendang kakinya dan dipukul oleh
salah seorang tersangka. Ketika Ibu Musdah Mulia tetap duduk tepekur sementara dengan suara membahana kelompok mayoritas di ruang sidang berteriak-teriak “Yang tidak berdiri berarti bukan muslim†. Maka sebutlah mereka provokator.


Jika provokasi adalah menyuarakan aspirasi damai di tengah ancaman tirani intoleran yang tak terkendali, saya bangga menjadi bagian dari provokator itu.



Ketika ribuan warga Ahmadiyah terancam di kampungnya sendiri, ditutup rumah ibadahnya, diberangus haknya beraktivitas, dicerabutpaksa dari keyakinan yang menuntunnya seumur hidupnya. Ketika jutaan kelompok beragama lokal dan minoritas distempel dengan label “sesat†, tak bisa mencantumkan agama yang diyakininya dalam KTP-nya sendiri, bahkan tak diakui perkawinan dan sistem kepercayaannya. Ketika seluruh yang berbeda disebut “kafir†dan “sesat†, dan karena itu statusnya adalah warga kelas dua. Maka saya malu menjadi bagian dari “mayoritas†itu.



Ternyata provokasi hanya milik kami.



Ketika setiap saksi di persidangan diteriaki “kafir†, “sesat†, “bunuh†, “berangus†. Ketika koor “Allahu akbar†dan kegaduhan selalu mewarnai ruang sidang. Ketika seoang warga NU yang lahir besar sebagai santri, bahkan kyai, dibentak “jangan bawa-bawa NU†, “kyai palsu†. Ketika seorang ulama besar yang mantan presiden diteriaki “gila†dan “bodoh†. Ketika jaksa dan polisi bahkan dibentak-bentak ketika melaksanakan tugas negara yang mereka emban. Maka jika itu kasusebut sebagai jihad, keluarkan saya dari barisan jihadmu.


Ternyata provokasi lebih buruk daripada kekerasan.



Ketika karena alasan telah melakukan provokasi orang menjadi sah untuk dipukul. Ketika anggapan sebagai provokator memposisikan seseorang sebagai “layak dihajar†. Ketika darah yang keluar dari seorang provokator adalah sah dan memang sudah seharusnya, di negara hukum ini. Ketika tongkat pemukul dan kelewang menjadi kata jawab dari sebuah syarat bernama provokasi itu. Maka disebut negara apa sesungguhnya Indonesia?



Betapa inginnya saya menjadi provokator. Betapa inginnya saya diberi keberanian oleh Tuhan seru sekalian alam untuk mengatakan sesuatu yang sudah terumuskan di kepala saya. Betapa inginnya saya mendapatkan energi untuk berkata “tidak†di depan tirani. Betapa inginnya saya menunjukkan bahwa kuasa kekerasan harus dilawan agar tak benar-benar melahirkan Hitler-Hitler baru.



Ah, saya terlalu takut dipukul. Terlalu takut disakiti kedirian saya. Saya memang pengecut, pecundang. Saya hanya mampu berterima kasih kepada para provokator itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…