Langsung ke konten utama

Lulus Pada Waktunya!

Judul tulisan ini mungkin mirip sebuah filosofi atau kalimat-kalimat bijak yang terdapat dalam syair atau puisi; Indah pada waktunya.


Aku mendengar kalimat “Lulus pada Waktunya” dari teman sekelasku, Ita Nurul Masyitoh namanya. Dia mahasiswi biasa, yang –dalam pantauanku- menikmati kelajangannya. Akrab dengan kosmetik, kadang ngerumpi, dan bergenit ria. Kuliah baginya dalah bagian dari siklus kehidupan yang taat dijalani. Tapi nilai tak begitu penting baginya, tugas-tugas kuliah, hingga pilihan skripsi yang ia garap tidak neko-neko, yang penting lulus pada waktunya! Begitu katanya dari ujung telepon. Ya, siang tadi aku menghubungnya, skedar bertukar kabar dan informasi. Kabar terbaru darinya, adalah sidang skripsi yang akan ia jalani esok hari, dan pencalonan legislatif dari sebuah partai baru yang ia ikuti. Dari gadis biasa, kini Ia –akan- menjelma salah seorang yang luar biasa. Beberapa kalimat bijak lainnya juga kerap keluar dari mulutnya kini.

Jangan mikirin yang lain dulu, fokuslah pada skripsi, agar kamu segera lulus. Percuma rasanya, dikenal sebagai aktifis, dianggap cerdas dan kritis, tapi lulus tidak tepat waktu. Ita aja yang cewe, bisa focus! Begitu kira-kira, kalimat bijak yang terurai darinya.

Selain Ita, ada beberapa gadis lain yang awalnya kuanggap biasa, ternyata luar biasa. Lia misalnya, dia gadis kecil berumur enam belas tahun, dan kini sedang bekerja sebagai pelayan toko baju, di kampungku. Hidupnya bagiku terkesan getir. Ayah-ibunya bercerai, dan kini Lia tinggal dengan nenek, dan Bibinya, yang menurutnya super cerewet, sehingga membuatnya tak betah tinggal di rumah. Dari tampang, pakaian dan sikapnya, aku mengira dia dari kalangan menengah ‘agak’ ke atas. Dia sering bercerita tentang masa SMP yang ia lalui dengan hura-hura dengan Ganknya. Sesekali ia juga berkelahi dengan Gank lain atau sesame peempuan lainnya,. Aku jadi teringat cerita Gank Nero. Ia menikmati betul masa indah di sekolah, tapi kemudian, ia tak berhasil mencapai target nilai Ujian Nasional, “aku enggak lulus UN” ungkapnya, masih dengan bibir yang terkembang, “ bodoh banget, ya ?” hi.hi. tawanya getir. Tapi kenapa temanku yang lebih nakal, males, dan lebih oon ko malah lulus? Gak adil, khan? Keluhnya lagi. Kini ia sedang menunggu hasil ujian paket B yang ia ikuti setelah gagal lulus UN, “kayaknya sih bakal lulus, sebab hampir semua soal dikasih tahu jawabannya, he.he”.

Tak ada sedih di raut wajahnya, Meski ia mengaku sempat menangis tanpa henti selama hampir seminggu, kelugasan ceita dan senyum getirnya, menandakan Ia mampu menerima kenyataan dengan lapang hati, walau usianya belum juga dewasa. Bagiku ini cukup luar biasa.

Beberapa temanku yang lain, juga mengalami dilema kelulusan. Tak mampu mencapai target lulus empat tahun, karena memilih belajar tetang hal lain, ada yang sengaja kursus bahasa asing, (sesuai jurusan kuliah yang ditekuninya), ada juga yang terlena oleh kursus jurnalistik di Bali, beberapa lainnya, sengaja tak lulus tahun ini, karena menjabat posisi tertentu di organisasi. Mereka berani memilih, dan konsisten dengan pilihannya.

Sedang aku, masih kalut oleh berita pelaksanaan wisuda pada 03 desember mendatang, dan puluhan orang yang menanyakan kelulusanku, hm.. aku bersyukur banyak yang berharap, aku segera lulus. meski hati kecil, kadang limbung, sebab satu nilai mata kuliah menghambatku untuk lulus, belum lagi skripsi yang tak emangat lagi kugarap karena nilai yang tak keluar itu.

Organisasi yang kupimpin, belum juga jalan, sebab bingung menari dana. Lamaran kerja ku di beberapa media juga belum direspon, dan kini aku malah ikut proyek riset kependidikan, yang sesungguhnya tak sejalan dengan jurusan politik Islam yang ku ikuti, atau dunia jurnalistik yang kugeluti. Ah,, nanti juga akan lulus pada waktunya..


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…