Langsung ke konten utama

ISlam Indonesia

Pagi ini, aku meraih lagi setitik kebanggaan terhadap Indonesia. Ya, pagi ini, setelah aku tak jadi menggarap skripsi, dan malah membuka beberapa situs dari para bijak-bestari tradisional, aku melihat Indonesia dari sisi positif. Setelah lama terpengaruh oleh Puisi Taufik Ismail, yang membuatku turut "turut malu menjadi orang Indonesia", setelah bertahun aku sedih melihat bangsa yang selalu bermuara pada anarkhisme dan arogansi para pengklaim kebenaran subjektif, setelah berkali aku dibuat bingung oleh orang-orang yang kukagumi, kini aku -seolah- menemukan pintu keluar dari wabah inferioritas yang lama menjangkit dan mewabah dalam dalam hampir semua diri anak bangsa.

Semalaman, aku membaca essainya Cak Nun (Emha Ainun Nadjib), aku juga menyimak tulisan-tulisan Gus Mus (K.H. Musthofa Bisri), beberapa tulisan Gusdur, dan beberapa artikel lain dari numesir.org, sekumpulan tulisan sekelompok anak muda NU yang kuliah di Mesir. Mereka memandang negeri ini dari persfektif lain. Kultur dan tradisi masyarakat, dibaur dengan anasir sejarah, dana beberapa tafsiran 'khas' atas teks-teks keagamaan.

dari CakNun, aku mendapat terma "Maiiyyah", kebersamaan, sebagai sebuah paradigma sosial. dari GusMus, aku mendapat 'berkah' sufisme yang sedikit mistis, namun menarik meski kadang dibumbui parodi. dari GusDur, aku mendapat kekayaan tradisi, dan dari anak-anak muda Nu di Mesir, aku melihat transformasi keagamaan yang membumi. Beragam wacana tersebut, tidaklah terlalu asing, sebenarnya, tapi membaca lagi karya mereka, menyimak lagi pemikiran mereka dalam membahas fenomena yang menghampiri bangsa ini, memberiku nilai tertentu, seolah tercerahkan setelah lama dihantui kengerian melihat bangsa ini, (ha.ha, aku jadi ingin tertawakan diri. Masa depanku saja belum jelas, aku kok, sempat-sempatnya gelisah melihat bangsa ini? sok penting banget, ya? tapi tak apalah, kadang memikirkan hal di luar diri itu mengasyikkan, dan sesekali merenungkan nasib bangsa juga tak salah, bukan? he.he.)

Cak Nun, yang 'mbeling' ternyata dilirik oleh para pengusung fundamentalisme agama. bahakn pernyataannya dalam sebuah acara komunitas, kemudian dikutip sebuah partai dan organisasi yang selama ini dikenal puritan, dan bukan tidak mungkin, kutipan pernyataannya, dijadikan bahan kampanye, padahal, jika disimak lebih jauh, support Cak Nun terhadap partai dan kelompok tersebut, adalah ekspectasinya agar mereka yang puritan, berubah terbuka, mereka yang fundamental, menjadi moderat, mereka yang sok eksklusif, menjadi inklusif, dan mereka picik terhdap tradisi, menjadi bijak.

"PKS sekarang sedang berada dalam posisi punya presisi mana yang sebaiknya dimaterikan, mana yang sebaiknya digerakkan sebagai energi, dan mana yang mesti frekuensi. Kalau overmateri, bisa-bisa PKS diarani (dibilang) ini itu. Apalagi sekarang Islam sedang dikuyo-kuyo, KS jadilah kertasnya Allah. PKS jadilah mangsi (tinta)-nya Allah...." Pemimpin Kiai Kanjeng ini juga melanjutkan, bahwa "PKS harus menghormati kraton-kraton yang ada.
Pada bagian lain, Caknun juga menasihati pengurus Hizbut Tahrir, yang sowan kepadanya "Dalam politik dan kebudayaan muncul stigma yang sangat sulit, yaitu bahwa Islam itu musuhnya demokrasi. Ini berlaku secara internasional. Kita sering menjadi pelanduk stigma itu. Kalau tidak demokrasi, ya Islam. Atau sebaliknya. Padahal demokrasi itu bagian kecil saja dari demokrasi, kadang-kadang diperlukan, kadang-kadang tidak. Demokrasi dibutuhkan pada proporsi tertentu. Nah, saya tidak mau menjadi korban stigma itu. Saya cairkan semuanya ke dasar-dasar nilai semula...,"(http://padhangmbulan.com/info/4-berita).

Pernyataan awal Cak Nun (tentang PKS) kemudian diklaim sebagai dukungan, dan dijadikan bahan kampanye. Padahal, jika menyimak lebih lanjut, CakNun jelas memberikan harapan yang mustahil, sekaligus sindiran tajam, kepada PKS, "Kalau overmateri, bisa-bisa PKS diarani (dibilang) ini itu" sikap materialistis, memang menjangkit di kalangan mereka, maeterialistis dalam hal politik, juga materialistis dalam hal syari'ah. kemudian, pernyataan PKS harus menghormati kraton-kraton yang ada"
saya pikir adalah hal yang mustahil bagi PKS, sebab, jika mau jujur dan idealis, PKS tentu berseberangan dengan tradisi Indonesia, yang diusung mereka, kan (kalu jujur, dan tidak munafik,) adalah reduksi dari gaya Ikhwanul Muslimin. begitu juga dengan restunya, kepada HT, sebenarnya berisi kritik tajam terhadap nalar mereka yang kacau, tentang khilafah islamiyah, yang ternyata juga berbau demokrasi.

Tapi yang menarik buatku bukanlah sindiran dan kritik terhadap mereka, yang emnarik buatku, adalah bagaimana respon mereka yang dikritik, justru malah -seolah- mendapat restu dan dukungan dari CakNun, kritik, yang membesarkan hati, (kalau tidak dikatakan geer, he)

tokoh selanjutnya, yang membuatku sedikit terhibur, adalah Gusmus (K.H. Musthofa Bisri), yang mengkritik Gusdur, dan kemudian, mengagungkannya. Tiba-tiba saya teringat analisis seorang kawan yang melihat Gus Dur /PKB dari prespektif "kewalian". Dia memulai dengan menceritakan kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir. kata GusMus, yang kemudian dialnjutkan dengan analogi Khidir yang membocorkan perahu tumpangannya. Kalau kiai-kiai yang dulu mati-matian mendukung Gus Dur itu paham, mereka tidak akan mendirikan partai baru," katanya. "Mereka mendirikan partai baru karena jengkel dengan kelakuan awur-awuran Gus Dur dalam memimpin PKB. Padahal, Gus Dur memang sengaja membuat mereka jengkel agar mereka benci dan meninggalkan kehidupan kepartaian yang awur-awuran."

"Sekarang ini," kata si kawan melanjutkan "analisis"-nya, "justru menjelang Pemilu 2009 Gus Dur seperti sengaja membunuhi anak-anaknya sendiri dan merusak perahunya yang bernama PKB. Karena "perahu" itu milik orang-orang miskin; jangan sampai dirampas dan dipakai oleh orang-orang yang hanya ingin memperkaya diri, termasuk anak-anaknya sendiri. (celaka 13/www.gusmus.net)" meski mengaku jengkel, namanya sering dicatatut sebagai deklarator PKB, dan kesal terhadap sikap Gusdur, tapi Gusmus masih melihat itu semua sebagai hal positif yang tersembunyi.

yah, uniknya orang NU, memang melihat sesuatu tidak dalam perspektif tunggal, karenaya, selalu aa sisi positif yang dianggap sebagai salahsatu hasil dari sesuatu. begitulah tradisi yang masih dipelihara sekelompok anak muda Nu yang sedang tinggal di Timur tengah. sementara Gusdur, tak henti berkontroversi, dengan gaya 'pendekar mabuk'a nya, dalam membela beberapa kelompok yang justru dibenci sebagah dari bangsa beradat ketimuran ini.
, Islam Indonesia itu memang majemuk, dan ini harus disyukuri, dengan tidak bertindak arogans, dan terlelu percaya diri, atau bahkan ge-er!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…