Langsung ke konten utama

Dagang -in- Kecap Obama

Majalah Gatra bulan ini memprediksi Obama akan menang mutlak dalam pemilu Amerika Serikat (AS), November ini. Laporan itu disampaikn wartawannya langsung dari negeri paman Sam. Media-media lain di AS juga sama, meramalkan kemenangan Obama, sebab ia dianggap tokoh transformasional. Demam Obama dimanfaatkan juga oleh partai-partai di Indonsia, saatnya tokoh muda memimpin! Begitu jargon yang diusung. Konon, Obamaisme memang merasuk ke hampir seluruh dunia.


Tapi di negeri ini, Obamaisme tak lebih dari tradisi ‘jualan kecap’. Para tokoh yang mengaku masih muda, ramai mempromosikan diri, tanpa diminta. Beberapa partai juga memanfaatkan gejala obamaisme untuk merangkul kaum muda, dengan mengiklankan tokoh muda yang dimilikinya.

Bagiku mereka tak lebih baik dari para salesman. Ramai-ramai berpromosi diri, padahal kualitas dirinya dipertanyakan. Ada yang pamer kekayaan, ada juga yang pamer ilmu dan idealisme, padahal hamper semua kalangan intelektual tahu, dia yang pamer kekayaan, menjadi pimpinan partai karena uang. Hampir semua juga tahu, dia yang pamer ilmu dan idealisme, ternyata adalah actor penjualan asset Negara kepada komprador asing. Dan semua juga tahu, tokoh yang diklaim muda dan layak memimpin oleh sebuah partai, bahkan tak mampu berbuat apa-apa ketika dia memimpin parlemen. Hanya berita pernikahannya saja yang sempat membuat heboh, lainnya? Tak lebih dari dagang kecap!


Obama, memang menginspirasi kaum muda. Termasuk mengisnpirasi segenap kaum muda yang tak pandai berkaca diri, dengan tiba-tiba mengklaim diri layak menjadi pemimpin, padahal track reccordnya, seperi kaset kusut yang diputar dengan tape yang berusia satu abad.


Banyak orang Indonesia pandai mengambil momentum. Untuk kepentingan diri dan kelompoknya. Hal yang wajar, dan baik, ketika kepentingan itu ditransformasikan dengan kerja keras dan semangat membara. Tapi yang kurang ajar, momentum itu dicuri untuk kepentingan diri, dan kelompok, atas nama Bangsa Indonesia.


Maka, jangan heran bila nanti para pedagang kecap itu yang jadi, asset Negara mungkin akan habis dijual, dan atau, para pejabat yang akan dating, lebih pandai lagi berteater, dengan pameran senyum kharismatik, dan elegant, hasil kursus kepribadian. Para pejabat itu nantinya akan lebih banyak menghadiri undangan dari beragam kalangan dan organisasi, termasuk undangan nonton bareng, tanpa mampu menyelesaikan problem serius bangsa ini. Mereka berlomba meniru gaya Obama, tapi tak mampu meniru kharisma, kecerdasan, idealisme, semangat, dan track record Obama yang fenomenal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…