Langsung ke konten utama

Mencintai Cinta

Cinta, kata yang tak pernah usai dibicarakan banyak orang. Bahkan Tuhan menamakan dirinya sebagai Ar-Rahman, Sang Pengasih, juga Ar-Rahim, Sang Penyayang. Kasih-sayang-Nya itu disandingkan dan dianjurkan untuk selalu diucapkan, ketika seorang yang beriman, memulai sebuah kebaikan. Maka kasih-sayang, dan kebaikan semesetinya mendarah-daging dalam diri setiap mu’min. Inikah cinta? Sebuah kebaikan yang didasarkan pada kasih sayang? Entahlah. Saya tak terlalu yakin dengan itu. Sebab Plato yang jenius pun tak sanggup mendefinisikan cinta.
Tapi, dulu seorang ulama bernama Ibnu Jauzy, mengklasifikasikan cinta dalam empat kategori. Saya sempat membaca klasifikasi cinta ala Ibnu Jauzy itu dalam sebuah buku terjemahan, yang saya sendiri lupa judulnya. Kono, cinta itu ada yang sekedar dating, kemudian pergi, itulah cinta yang hanya menempel di sisi kalbu. Ada pula cinta yang agak sulit dilupakan, itulah cinta pertama. Ia hampiri kalbu yang resah, kemudian menetap lama di sanubari. Tapi cinta pertama masih dapat dilupakan, seiring dinamika kalbu.
Yang ketiga adalah cinta yang menusuk kalbu. Cinta buta yang sulit disirnakan. Ketika dipaksa untuk dicabut, niscaya kalbu itu akan merasakan sakit yang sangat, bisa jadi menimbulkan kematian. Terkahir, -kalau tidak salah- adalah cinta yang menggores kalbu. Inilah tempat pecinta yang tersakiti. Kategorisasi ini belum tentu benar adanya, sebab buku sumbernya pun aku telah lama tak membacanya lagi.
Dulu aku pernah mengalami rasa suka yang rumit. Sophisticated, kata orang filsafat. Mungkin itulah cinta yang pernah kurasakan, begitu kuat menancap di benak. Sulit dilupakan. Dan yang mengherankan, aku suka dan sayang dia dengan tanpa alasan yang logis. Tak ada yang begitu istimewa darinya. Cerdas, tidak seberapa. Sifat dan sikapnya pun bukanlah tipe yang kuidamkan. Cantik? Mungkin iya, bagiku. Tapi bukankah cantik itu relatif? Aku menyayanginya, hanya karena aku merasa berarti dihadapnya.
Gadis lugu yang manja, dan sering menangis di depanku. Aku suka dia, karena dia jadikan aku luapan hatinya. Setiap ada masalah, dia hampir selalu menangis di hadapku. Padahal, aku tak penah memberinya solusi atas masalah yang didapatnya. Aku pun tak pernah mendiskusikan masalahku dengannya. Sebab aku tau, dia takkan mengerti masalah yang kuhadapi.
Bekali kucoba tepiskan keinginan untuk memilikinya, berkali pula aku gagal. Dan, saat itu, aku hanya ingin memiliki, tanpa nilai guna yang kumengerti. Ya, saat itu, aku tak inginkan tubuh seksinya. Aku juga tak perduli wajah cantiknya. Dia tak pernah membantuku selesaikan persoalan, dan tak jarang, justru ia yang membawa persoalannya kepadaku. Artinya, saat itu, dia malah menjadi bebanku. Tapi kenapa aku justru menyukainya? Hingga bertahun lalu aku masih sulit melupakannya. Padahal, kami sudah jarang berkomunikasi, apalagi bertemu muka. Sebab kini kami berjauhan tempat dan hati.
Baru dua tahun lalu aku bertekad melupakannya, sebab ia tak pernah memberi jawaban pasti atas keinginanku untuk meminangnya, nanti. Aku bosan dengan jawabnya yang tak menentu, “mengenai tunangan, bagaimana nanti saja”. Aku merasa sangat bodoh, jika mengingat penantian panjangku terhadapnya. Ya, aku memang tak pernah ungkapkan rasa cinta kepadanya, tapi keinginanku yang serius untuk memilikinya secara sah, melalui pertunangan, dan kemudian menikah. Bukankah itu lebih dari kata cinta? Memang saat itu, kami belum layak menikah, sebab kami masih sama-sama sekolah, tapi merencanakan masa depan, adalah sah, bukan?
Ha.ha, aku jadi malu dengan gaya tulisanku yang terlalu emosional ini. Ya, itu dulu, ketika ku masih mengaggap sakral, kata cinta. Kini, cinta tak lebih dari sebuah transaksi bagiku. Harus ada take and give dan komitmen yang disepakati bersama. Cinta tak lebih dari permainan. Aku akan memberikan kasih-sayangku, secara utuh, ketika ku mendapatkan rasa nyaman, aku akan memebrikan’cinta’ku, jika aku measa puas dengan pelayanan yang didapat. Maaf, bukan pelayanan fisik, seperti seks dan sejenisnya, tapi pelayanan hati, yang kucari. Ketika aku merasa terbantu, maka aku akan membantu. Ketika diberi sebuah kebaikan, kubalas kebaikan itu semaksimal mungkin, semampuku. Tapi ketika merasa sakit, aku akan sulit menghapusnya dari ingatan. Ketika kepercayaanku telah ternodai, maka tak ingin lagi kupercayakan sesuatu, seutuhnya, kepada mereka yang telah berkhianat. Kecuali mereka bertobat, hmm.
Arogan, kah? Tidak, juga, bukankah hidup ini pilihan? Dan aku memilih untuk tidak bertindak jahat kepada siapapun, tapi ketika aku dijahati, maka aku akan bebuat baik sesuka hatiku.
Aku sadar, sikap tersebut kurang bijak, sebenarnya aku ingin meniru kasih-sayang Tuhan, yang tidak pandang bulu, tapi hal yang amat baik itu, belum mampu kulakukan secara tulus. Tapi aku akan berusaha sepenuh hati, untuk bisa mencintai cinta dengan tulus. Menyayangi semua orang, tanpa syarat, bisa kah? Semoga saja.
*(Tulisan ini spontan kutuangkan,
ketika membaca pertanyaan Thoink, tentang cinta.)
.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…