Langsung ke konten utama

Hedonisme, Kekuasaan dan Senioritas

Diri rapuh, meluluh
Tengok realita mewarna
Hati bergemuruh, misuh
Dijerat fatamorgana
Bersimpuh pada sepuh yang merusuh
Mestikah?

Sepuh, sering jadi tameng bagi mereka yang beranjak tua untuk menginisiasi kaum muda dengan beragam doktrin berbau kepentingan pribadi dan kelompok kekuasaan. Jeremy Bentham, salah seorang filsuf pengusung hedonisme, berasumsi bahwa setiap hukum yang diberlakukan dalam kelompok masyrakat, berjalin-kelindan dengan pemuasan keinginan dan kesenangan yang disepakati—dan atau dipaksakan—para penguasa.

Asumsi Bentham tampaknya telah menyata dalam keseharian elit masyrakat saat ini. Simak saja realita yang banyak terjadi belakangan ini; kapitalisme global, telah lama menggurita dan mengancam kehidupan negara-begara dunia ketiga seolah menjadi hukum tidak tertulis bagi masyarkatdunia. Represifitas pemerintahan Junta Myanmar terhadap para bikhsu dan mahasiswa di Burma mengingatkan kita pada sejarah penjajahan kopeni dan penindasan rezim Soeharto.

Kekerasan atas nama agama, menguapnya tangisan para korban sumur Lapindo hingga kekerasan dalam rumah tangga dan tindakan sadistis para majikan terhadap pembantunya—tidak hanya terjadi di tanah Arab dan Malaysia di Indonesia pun kejamnya perbudakan masih kerap terjadi—serta beragam kisah dramatis lainnya yang ternyata kurang mendapat respons serius dari mayarakat dunia, bisa menjadi membuktikan membudayakan sikap hedonis.

Dalam ranah lokal, semangat primordialisme yang menyubur dengan bumbu formalisasi tradisi agama dan keyakinan tertentu, memperkuat pembuktian asumsi Bentham. Hedonisme telah menjadi rujukan bersama, mengutamakan kepuasan, kesengan, dan kenikmatan sebagai tujuan bersama. Upaya pemuasan ego primordial begitu kentara dalam beragam manuver para elit di tingkat lokal. Maraknya sparatisme, pengagungan berlebih terhadap simbol-simbol keyaikinan lokal—termasuk agama dan adat lokal—mencerminkan kehausan eksisitensi diri dan kelompok.

Eksisitensi kedaerahan yang gencar diusung, sebenarnya dapat dijadikan amunisi dalam persaingan global, upaya meningkatkan citra daerah di mata nasional dan internasional. Tapi globalisasi mensyaratkan tingginya kualitas, yang natinya akan menumbuhkan ‘brand image’ simbol yang diagungkan. Bukan sebaliknya, mengusung simbol, tanpa memperhatikan kualias produk.

Tradisi pengagungan simbol mewajarkan pengabaian terhadap hak-hak masyarkat. Tidak mampu menjalankan good governance dan membentuk masyarakat madani, maka beragam event bertajuk agama pun digelar, dengan segala pengagungan terhadap simbol-simbol keagamaan, seperti menutup luka dengan kain sutra. Agar terlihat bertaqwa, simbol-simbol keagamaan mesti dimegahkan, kesejahteraan masyarakat tidak lagi menjadi tujuan. Meski melarat, masyarakat dapat dipuaskan dengan doktrin keagamaaan dengan pengagungan simbol, meski kualitas pendidikannya payah, asalkan masjidnya megah.

Hal serupa terjadi juga di lingkungan akademis, senioritas begitu kental dan berpengaruh terhadap kebijakan para pemimpin kelompok akademis. Karena terbilang tua, maka segala polahnya yang minus dimaklumi, cacat dan kekurangannya harus ditutup rapat, meski dengan jalan yang kurang elegan, segala cara dihalalkan untuk meningkatkan pamor.
Berbahagialah para sesepuh dan pemimpin masyarakat di daerah kesultanan ini, jawaraisme mengukuhkan, mewajarkan rezim otoritarian dan hedonitas senioriti, karena yang tua tak pernah salah, jikapun salah, pini sepuh dan penguasa selalu—ingin—benar
.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…