Langsung ke konten utama

Apa makna Ramadhan bagiku?

Ramadhan tahun ini terasa kering bagiku. berbagai moment tak berhasil kumanfaatkan dengan baik. berawal dari keinginan untuk segera menyelesaikan tanggung jawab di LPM SiGMA, kekalutan terhadap penyelesaian skripsi dan beberapa nilai yang terbengkalai, mimpi untuk segera bekerja sebagai pelaku media profesional (aku membuat puluhan lamaran kerja, dan hanya dua yang kukirim), tekanan untuk mengajukan proposal program Lakpesdam NU Kota Serang, dan ambisi untuk mengikuti Ahmad Wahib Award, minggu pertama ramadhan aku disudutkan dalam ketergesaan dan kelelahan yang sangat.
Nyatanya, tak semua mampu kuraih semudah konsep yang merajang di kepala. aku berhasil melepas tanggung jawab di SiGMA, tapi rangkaian acara Musyawarah Besar yang memang direncanakan 'besar', malah berlangsung dengan amat sederhana, dan di bawah standar prosedur sebuah rangkaian acara 'besar'! skripsi, laporan akhir kuliah kerja nyata, dan upaya penyeleaian nilai, berkahir berantakan. beruntung satu nilai bisa keluar, berkat bijaknya sang Dosen. satu nilai lain masih tertahan. proposal program juga berhasil digarap, dengan konsekwensi yang sangat menyedihkan, aku gagal ikut Ahmad Wahib Award, yang sempat diperpanjang jadwal pengirimannya itu. sebab aku atk bisa membagi waktu, dan aku tak pandai dalam menetapkan prioritas. aku juga ternyata bermasalah dalam hal konsentrasi terhadap fokus yang ditargetkan.

AKu merasa kalah, dan menjadi pecundang!

Minggu ke dua ramadhan, aku terlena dalam kecewa yang mendalam. hari-hariku idhempaskan dalam tidur panjang di siang hari, berinternet ria, dan terbenam dalam Game 'Age Of Empire II' (AOE II) dan 'Red Alert'(RA). Hmm, ada kepuasan tersendiri ketika aku berhasil menytelesaikan level Hard dengan membabat 7 negara musuh dalam 'AOE II' aku juga dibuai penasaran untuk menuntaskan RA. Tarawih dan Tadarrus, menjadi tradisi asing bagiku di Ramadhan kali ini. Shaumkupun rasanya tak berarti, karena dilewati dalam tidur nan pulas. dan di minggu ini, aku tergoda oleh bujukan kawan untuk beriftar sebelum maghrib, hanya karena perjalan dari Pandeglang-Serang. semoga Dia memaklumi kelemahanku ini.

Minggu ke tiga ramadhan, aku jalani dengan sedikiti refresh, Ke Bandung, Cilegon, Tangerang, dan Berakhir di Kampunghalamanku, Karawang. dan aku kalah lagi, ketika harus bergelut menjajakan pakaian dagangan orang tuaku di sebuah toko kecil, di pasar Johar. puluhan gadis cantik berpakaian seksi yang berseliweran di pasar, membuatku kepayang, sebenarnya ini anugerah yang tak merisaukan, dan hal yang normal, bukan? yang membuatku gelisah dan merasa tak normal, adalah ketika kutergoda mengutip uang dagangan yang dipercayakan padaku, untuk membeli sebungkus rokok, sebatang coklat, dan sebotol minuman suplemen. aku menjadi tambah merasa tertekan, ketika beriftar lagi, karena lelah dan panasnya berjum'atan setelah seharian berdagang.
Maafkan aku Tuhan, brlum msmpu tunsiksn amanat dengan tepat. lebaran nanti, sanbil sungkem, aku akan meminta maaf dan keihlasan Ibu dan ayah, atas tindakanku yang tak jujur ini.
Aku malu, tak bisa menghindar dari korupsi. dan aku ragu tentang hikmah Ramadhan bagiku. tapi aku yakin Dia maha pemaaf. semoga IA ampuni dosa-dosaku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantren Buat Mama

Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu. Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.
Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku unt…

Jurnalisme Plagiat & Tradisi kritis

Pada penghujung tahun 2007 lalu, crew SiGMA disibukkan dengan hajat tahunan Pelatihan Jurnalistik dan Brodcasting se-Banten disingkat PJB yang sudah mentradisi sejak sepuluh tahunan lalu. Konon telah banyak alumnus PJB yang berkiprah di dunia jurnalistik dan broadcasting. Termasuk penggiat junalistik dan radio di Untirta, diantaranya di fakultas Tekhnik. Yang lain berkiprah di media lokal dan nasional. Dan terakhir, Alumnus PJB SiGMA dari Stikom Wangsa Jaya dan STKIP Rangkas bertekad membuat lembaga pers Mahasiswa di Kampusnya. Beberapa alumnus lainya, ada juga yang menerbitkan bulletin indie seperti Al-Basyar, Demokrasi dan Simak. Idealnya, tradisi menulis di kampus memang terbangun dari berbagai lini, demi tumbuhnya dinamika dan wacana kritis di dunia akademis .

Menulis adalah arena kreatif yang tidak terbatas. Banyak ranah yang dapat dibidik. Karena tidak terbatas aras, maka menulis dapat diapresiasikan dengan ragam bentuk. Tidak hanya berita, cerita dan syair puisi. Essai artikel d…

Feminis Sufistik, Mendobrak Patriarki Pesantren

Telaah Novel Auto Biografi Ny. Masriyah Amva “Bangkit Dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan”




Perkembangan gerakan feminisme di Indonesia telah berlangsung sejak abad 18-19 ditandai dengan lahirnya semangat kesetaraan pendidikan yang digerakkan oleh sejumlah tokoh, diantaranya Raden Dewi Sartika yang mebuka Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat; K.H Bisyri Syansuri yang mengawali pendirian Pondok Pesantren khusus putri di tahun 1917, serta heroisme yang ditampilkan sejumlah tokoh dari abad ke-18, seperti Cut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh dan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) dari Jepara yang tercatat sebagai pemantik dan pejuang gerakan perempuan di Indonesia.
Hingga abad ke-21, perkembangan gerakan perempuan dengan semangat feminism yang beragam, semakin massif di Indonesia hingga melahirkan tindakan affirmative action yang muncul menjelang pemilu 2004 melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, yang memberi ruang lebih bagi ka…