Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2008

Kebanaran Subjektif, doktrin picik yang menyeramkan

Kini aku mencoba menulis lagi, setelah dua minggu lebih aku terpuruk dalam sesal yang tidak produktif. setelah mendengar berita bentrok AKKB dan FPi yang kesekian kalinya, berontakku terhadap para tokoh agama,dan pendukungnya yang merasa benar sendiri muncul kembali.
kebenaran subjektif, kadang mematikan rasa kemanusiaan seseorang. ketika rasa kebenaran telah digenggam dalam ego, maka tak ada tempat belas kasih bagi mereka yang bersebrangan. sungguh kenyataan ironis bagi peradaban islam. aku jengah dengan doktrin-doktrin yang ditafsirkan dengan tanpa upaya rasionalisasi dan konstektualisasi, hanya menjadi virus ganas yang menyeramkan, dia menjadi seperti zombie dan drakula yang haus darah, dan bergentayangan mencari mangsa.
Sebuah ajaran sesuci, semulia, dan sekeren apapun akan berubah menjadi bara api yang membakar jiwa penganutnya, untuk bertindak irrasional, jika ditafsirkan dan dipraktikkan dengan egosentris dan mental diri yang picik dan penuh kebencian.
Maka aku setuju jika tulisa…

Apa makna Ramadhan bagiku?

Ramadhan tahun ini terasa kering bagiku. berbagai moment tak berhasil kumanfaatkan dengan baik. berawal dari keinginan untuk segera menyelesaikan tanggung jawab di LPM SiGMA, kekalutan terhadap penyelesaian skripsi dan beberapa nilai yang terbengkalai, mimpi untuk segera bekerja sebagai pelaku media profesional (aku membuat puluhan lamaran kerja, dan hanya dua yang kukirim), tekanan untuk mengajukan proposal program Lakpesdam NU Kota Serang, dan ambisi untuk mengikuti Ahmad Wahib Award, minggu pertama ramadhan aku disudutkan dalam ketergesaan dan kelelahan yang sangat.
Nyatanya, tak semua mampu kuraih semudah konsep yang merajang di kepala. aku berhasil melepas tanggung jawab di SiGMA, tapi rangkaian acara Musyawarah Besar yang memang direncanakan 'besar', malah berlangsung dengan amat sederhana, dan di bawah standar prosedur sebuah rangkaian acara 'besar'! skripsi, laporan akhir kuliah kerja nyata, dan upaya penyeleaian nilai, berkahir berantakan. beruntung satu nila…

Tasyakkur apa Takabbur

Tasyakkur, sering dilakukan oleh mereka yg mendapat anugerah, berhasil menang dalam sebuah kompetisi, meraih prestasi atau rezeki lain yang memang diharapkan. menjelang ramadhan, banyak orang menggelar tasyakkuran, dari sekedar kirim sms, hingga menggelar pesta kecil dan mengundang para kerabat dan tetangga.

Hari lahir juga sering menjadi momentum untuk bertasyakkur. dan lihat saja beberapa waktu ke depan, menjelang pemilihan umum, saya yakin akan banyak menggelar pesta dengan dalih tasyakkur. partai-partai dan para kandidat legislatif maupun eksekutifnya akan rajin menunjukkan tasyakuran.

rindu senja

bertahun ku ditakuti masa
bertahun ku dihantu peristiwa
bertahun ku berjaga
menantimu senja

meski tak cukup bekalku
meski ku belum puas nikmati hari
meski langit biru cerah
aku merindu mu senja

bukan asaku menghilang
tak pula cita kuterbungkam

aku jengah dengan terik surya nan pongah
aku juga takut dengan mendung membumbung

ah..
pokoknya, aku ingin segera bersua dengan mu
senja


Hedonisme, Kekuasaan dan Senioritas

Diri rapuh, meluluh
Tengok realita mewarna
Hati bergemuruh, misuh
Dijerat fatamorgana
Bersimpuh pada sepuh yang merusuh
Mestikah?

Sepuh, sering jadi tameng bagi mereka yang beranjak tua untuk menginisiasi kaum muda dengan beragam doktrin berbau kepentingan pribadi dan kelompok kekuasaan. Jeremy Bentham, salah seorang filsuf pengusung hedonisme, berasumsi bahwa setiap hukum yang diberlakukan dalam kelompok masyrakat, berjalin-kelindan dengan pemuasan keinginan dan kesenangan yang disepakati—dan atau dipaksakan—para penguasa.

Asumsi Bentham tampaknya telah menyata dalam keseharian elit masyrakat saat ini. Simak saja realita yang banyak terjadi belakangan ini; kapitalisme global, telah lama menggurita dan mengancam kehidupan negara-begara dunia ketiga seolah menjadi hukum tidak tertulis bagi masyarkatdunia. Represifitas pemerintahan Junta Myanmar terhadap para bikhsu dan mahasiswa di Burma mengingatkan kita pada sejarah penjajahan kopeni dan penindasan rezim Soeharto.

Kekerasan atas nama agama,…

Mencintai Cinta

Cinta, kata yang tak pernah usai dibicarakan banyak orang. Bahkan Tuhan menamakan dirinya sebagai Ar-Rahman, Sang Pengasih, juga Ar-Rahim, Sang Penyayang. Kasih-sayang-Nya itu disandingkan dan dianjurkan untuk selalu diucapkan, ketika seorang yang beriman, memulai sebuah kebaikan. Maka kasih-sayang, dan kebaikan semesetinya mendarah-daging dalam diri setiap mu’min. Inikah cinta? Sebuah kebaikan yang didasarkan pada kasih sayang? Entahlah. Saya tak terlalu yakin dengan itu. Sebab Plato yang jenius pun tak sanggup mendefinisikan cinta.
Tapi, dulu seorang ulama bernama Ibnu Jauzy, mengklasifikasikan cinta dalam empat kategori. Saya sempat membaca klasifikasi cinta ala Ibnu Jauzy itu dalam sebuah buku terjemahan, yang saya sendiri lupa judulnya. Kono, cinta itu ada yang sekedar dating, kemudian pergi, itulah cinta yang hanya menempel di sisi kalbu. Ada pula cinta yang agak sulit dilupakan, itulah cinta pertama. Ia hampiri kalbu yang resah, kemudian menetap lama di sanubari. Tapi cint…

Menunggu itu..

menunggu itu jenuh
ketika kita berharap datangnya masa

penantian

menunggu itu lelah
ketika kita tak punya pilihan


menunggu itu menegangkan
kala kita bingung akan sebuah kejutan yang menghadang

menunggu itu asyik
ketika kita tak perduli

menunggu itu anugerah
ketika kita perlu persiapan

menunggu tak sekedar menghitung waktu
menunggu tak cuma melatih sabar
penantian adalah harapan dan realita
yang tersekat -mungkin- hanya sedepa.


.